Steve Pillar Setiabudi/Istimewa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (10/9/2019). Esai ini karya Steve Pillar Setiabudi, pembuat film yang tidak merokok namun peminum kopi dan tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah stevepillarsetiabudi@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Saat menulis ini saya sedang menikmati setengah kehidupan dengan menyeruput kopi. Belasan tahun yang lalu, seorang kawan bercerita tentang pengalaman bertemu dengan sastrawan Pramoedya Ananta Toer.

Dalam pertemuan tersebut, Pram bertanya kepada kawan saya tadi  apakah dia perokok dan peminum kopi? Teman saya tersebut menjawab dia bukan keduanya. Pram bertanya,”Kehidupan macam apa yang sedang kamu jalani?”

Pram adalah perokok dan peminum kopi. Merokok dan minum kopi adalah definisi kata ”bebas/merdeka” setelah apa yang dia alami selama rezim Orde Baru berkuasa. Pertanyaan itu juga sering saya pikirkan. Saya bukanlah perokok, hanya sesekali dalam acara-acara tertentu untuk kepentingan pergaulan. Social smoker, kata orang.

Saya tidak terlalu menikmati rokok, bahkan saya risi dan benci bau rokok di baju dan badan saya sendiri setelah bergaul dengan para perokok hingga rasanya sangat sulit bagi saya bisa menjadi pencandu nikotin.

Saya juga tidak dapat menghakimi orang-orang yang merokok atas kemauan mereka sendiri, sama seperti saya tidak dapat menghakimi orang-orang yang tidak dapat menikmati manisnya kopi tanpa gula kesukaan saya. Perdebatan antara pendukung Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan klub bulu tangkis PB Djarum ihwal audisi bulu tangkis anak membuat saya teringat film Hollywood berjudul Thank You for Smoking.

Film adaptasi novel ini dirilis 14 tahun yang lalu. Film tersebut bercerita tentang Nick Naylor, diperankan Aaron Eckhart, seorang pelobi bagi industri tembakau (perusahaan rokok) yang harus berusaha menjadi panutan bagi anak semata wayangnya.

Nick bekerja membela kepentingan big tobacco (lima besar perusahaan rokok dunia) di sebuah program televisi dengan menampilkan klaim hasil penelitian yang didanai perusahaan rokok yang menyatakan tidak ada bukti merokok menyebabkan kanker. Nick berteman akrab dengan pelobi produk tidak ramah anak lain: alkohol dan senjata api. Mereka menyebut diri mereka ”pedagang kematian”.

Kampanye

Di salah satu adegan gelar wicara televisi menampilkan Nick duduk paling pinggir setelah para aktivis antirokok. Seolah-olah dia adalah satu-satunya pelaku kejahatan yang harus disingkirkan. Sebelum pembawa acara menyelesaikan prolog, Nick mengangkat tangan dan bertanya,”Bagaimana mungkin perusahaan rokok mengambil keuntungan dari kerugian yang diderita oleh anak muda ini?”

Ia berkata begitu sambil menunjuk Robin, seorang remaja berkepala plontos di sebelahnya. Kepala plontos adalah representasi visual untuk menggambarkan pengidap kanker yang menjalani kemoterapi. Nick menyebut perusahaannya menginginkan anak-anak seperti Robin tetap hidup sehat supaya pada masa depan mereka menjadi konsumen produk perusahaan tempat dia bekerja.

Nick menjanjikan dana kampanye US$50 juta untuk membujuk anak-anak agar tidak merokok sambil menuduh organisasi antirokok memperdagangkan manusia dengan memanfaatkan anak-anak penderita kanker untuk melipatgandakan dana sumbangan.

Adegan demi adegan persis seperti dialektika dalam ”drama” KPAI versus PB Djarum belakangan ini. Argumen demi argumen tentang moral, baik buruknya rokok, produsen dan konsumennya bertebaran saling beradu di film tersebut. Linimasa Facebook atau Twitter saat ini hanya diisi ulangan wacana usang yang bisa kita saksikan rangkumannya di film tersebut.

Kekhawatiran dan kecurigaan KPAI bahwa pada acara yang diselenggarakan PB Djarum ada eksploitasi anak dapat dimengerti. Djarum adalah produsen rokok, barang terlarang bagi anak, namun KPAI harus dapat membuktikan tuduhan eksploitasi anak tersebut secara terbuka.

Sejauh yang saya tahu, tuntutan KPAI kepada PB Djarum untuk tidak menampilkan citra yang terkait dengan produk yang mereka hasilkan telah disepakati, namun perdebatan internal setelah itu yang mengakibatkan PB Djarum memutuskan tidak meneruskan audisi dan pembinaan di bawah PB Djarum tidak dapat terpantau oleh publik.

Walaupun wajar, keputusan PB Djarum yang akan menghentikan audisi dan pembinaan atlet sejak dini cukup disayangkan mengingat kebutuhan masyarakat yang tetap besar di dalam kesempatan yang sangat terbatas ini.

Mengurangi Stres

Nilai positifnya, justru inilah saat yang tepat untuk perusahaan-perusahaan ramah anak mengambil peran yang telah dilakukan PB Djarum serta inilah waktu yang tepat bagi para orang tua untuk menjadi dewasa agar dapat mendidik anak-anak mereka tentang marabahaya yang dapat mengancam jiwa buah hati mereka.

 Saya yakin pasti banyak di antara orang tua yang mendaftarkan anak mereka untuk ikut audisi bulutangkis yang diadakan PB Djarum ini adalah nonperokok. Tidak ada seorang pun yang dapat memastikan setelah anak mereka lolos audisi atlet cilik tersebut para orang tua atau anak itu sendiri akan menjadi perokok aktif rokok merek Djarum atau variannya.

Bisa jadi justru orang tua yang anaknya tidak lolos audisi akan merokok untuk mengurangi stres setelah kegagalan kolektif orang tua dan anak. Biarlah para orang tua ini mengambil tindakan atas kemauan mereka sendiri karena mereka sudah dewasa dan dapat menentukan moralitas mereka sendiri, bertanggung jawab atas hidup mereka sendiri.

Sambil menyeruput kopi dan monyong-monyong membayangkan asap mengepul keluar dari mulut, saya hanya bisa berusaha jangan sampai ketidakmampuan saya bersikap dewasa justru dieksploitasi oleh pihak-pihak yang merasa punya kuasa untuk mengatur hidup saya yang setengah nyata ini.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten