Kepergian Seorang Hamba
Aloysius Waryono (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Sangkan paraning dumadi atau mulih mula mulanira merupakan ungkapan keyakinan para leluhur dan ajaran agama-agama yang menggambarkan bahwa semua makhluk di muka bumi ini akhirnya akan mulih atau kembali ke asal mula, yakni Tuhan Yang Mahapencipta.

Itulah konsekuensi logis dari keyakinan yang mendasar bahwa Tuhan yang memberi dan Tuhan pulalah yang akan memanggil kembali. Tuhan menciptakan manusia terdiri atas dua dimensi, jasmani dan rohani. Jasmani atau raga bersifat sementara.

Hidup di alam purwa (sebelum lahir) kemudian alam madya atau madyapada (dunia sekarang ini) lalau alam wasana (setelah kematian raga). Raga ada, lahir, tumbuh, mati, dan akhirnya tidak ada lagi. Sementara roh atau jiwa tetap ada selama-lamanya.

Hidup di madyapada atau dunia sangatlah singkat, ibarat mung mampir ngombe (singgah sebentar untuk minum). Apa yang dilakukan dalam persinggahan yang singkat akan menentukan nasib dan arah perjalanan selanjutnya.

Artinya baik dan buruk masa depan yang sejati akibat dari buah perbuatan sendiri. Hukum inilah yang dalam ungkapan Jawa disebut ngundhuh wohing pakarti. Secara populer disebut hukum karma. Setiap orang akan memetik buah sesuai dengan apa yang pernah ditanam atau diperbuat.

Sing becik uripe, yang baik hidupnya, akan mendapat ganjaran surge. Sebaliknya, sing ala tumindake, yang jahat hidupnya, akan mendapat hukuman di neraka. Manusia hanyalah seorang hamba. Ketika Sang Ilahi  memanggil kembali, tidak ada seorang hamba yang mampu menunda panggilan itu.

Kepergian memenuhi panggilan-Nya, membuat rohnya akan pergi meninggalkan raganya. Lalu raga akan mati, dimakamkan, dari tanah akan kembali ke tanah, dan akhirnya sirna.  Sebaliknya, rohnya akan tetap ada dan tetap hidup di alam keabadian.

Menurut Jusuf Kalla, mantan wakil presiden, ketika menyampaikan sambutan atas meninggalnya Jakob Oetama, pendiri Harian Kompas, pada 9 September 2020, kepergian seorang hamba adalah yurisdiksi mutlak Sang Ilahi kendati penuh misteri, kapan, di mana, dan bagaimana kepergian itu terjadi.

Lantas, mengapa harus bersedih ditinggalkan oleh orang yang dicintai? Bukankah kepergian itu adalah keniscayaan yang tak perlu kita diragukan? Kepergian seorang hamba memenuhi panggilan-Nya membuat banyak orang tertunduk penuh kesedihan.

Ada torehan tapak-tapak kaki yang abadi. Ada kenangan yang membekas dalam batin dan membatu dalam pikiran. Ada jejak-jejak panjang yang bersemai dalam kalbu. Ada sejarah, keteladanan, dan pembelajaran yang memberi inspirasi dan membangun mimpi.

Begitulah siklus kehidupan umat manusia. Ia ada dan lahir ke dunia dalam kondisi lemah  tak berdaya. Makan, minum, berpakaian, berbicara, dan untuk berjalan pun membutuhkan bantuan orang lain. Demikian pula setelah tua akan mulai lemah,  pikun, sakit-sakitan, dan kembali tak berdaya seperti anak kecil lagi.

Makan, minum, berpakaian, berjalan membutuhkan orang lain, akhirnya mati, tiada, pergi untuk selama-lamanya. Manusia lahir tidak membawa apa-apa. Ketika pergi ia pun tidak akan membawa apa-apa lagi.

Bekal perjalanan untuk sampai tujuan yang sejati hanyalah amal kebaikan yang pernah diperbuat. Aneka kesuksesan, kejayaan, kehebatan, dan kemewahan yang pernah dikejar, diraih,  dipuja, dan diagung-agungkan tidak akan dibawa dan tidak akan menyelamatkan dirinya.

Makhluk Peziarah

Manusia diciptakan melebihi makluk yang lainnya. Manusia memang tidak bisa terbang tinggi seperti burung rajawali, tidak bisa berlari sekuat atau secepat kuda,  dan tidak bisa berenang selincah lumba-lumba di samudra.

Dengan akalnya manusia bisa menciptakan berbagai peralatan dan teknologi yang canggih dan modern di udara,  darat, dan laut yang tidak ada bandingnya dengan makluk lain manapun. Akal budi manusia tak pernah berhenti dan tidak pernah puas dengan apa yang telah dicapai.

Manusia terus mencari, mencari, dan terus … mencari yang lebih dari yang telah diraih. Begitu hebatnya kesanggupan akal manusia, membuat dirinya seakan-akan tidak percaya dengan apa yang telah dicapai dan diraih. Sehebat dan secanggih apa pun buatan manusia, yang pasti tidak akan mampu memprediksi secara pasti kapan, di mana, dan bagaimana kematian akan terjadi, apalagi bisa menghidupkan dirinya lagi.

Kematian atau kepergian memenuhi panggilan-Nya pasti akan terjadi dan dialami semua makluk di muka bumi. Kehebatan, kesucian, kebaikan, dan kebenaran hanyalah milik-Nya. Manusia sering kali terlalu sombong. Merasa diri paling paling hebat, suci, baik, dan paling benar sendiri.

Merasa sebagai pemilik kesucian, kebaikan, dan kebenaran. Menganggap orang lain atau kelompok yang lain jelek, salah, bahkan sesat. Manusia sering kali juga rakus, tamak, dan tidak perduli dengan sesamanya. Pada saat bangsa ini prihatin, menderita, dan bersama-sama memerangi pandemi Covid-19 yang terus meneror, menghantui, dan membunuh umat manusia, ada pejabat yang sudah kaya raya dan terhormat kedudukannya korupsi akhirnya ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK.

Mereka lupa hakikat pemimpin adalah abdi atau hamba yang seharusnya memberi dan melayani. Mereka malah berlaku seperti raja-raja kecil yang manja, yang minta dilayani, dihormati, dan bebas berbuat sekehendak hati termasuk korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Lupa hidup hanyalah sementara. Lupa bahwa kesuksesan dan kemewahan yang telah dicapai dan diagung-agungkan hanyalah akan berakhir dengan kematian. Untuk apa bisa menguasai dunia tetapi akan kehilangan kehidupan yang sesungguhnya?

Bukankah bandha amung titipan, nyawa amung gadhuhan, lan pangkat amung sampiran? Harta benda, nyawa, dan pangkat hanyalah titipan berstatus sementara yang setiap saat akan diambil kembali oleh yang nitipi, yang nggadhuhi, dan yang nyampiri, yakni Gusti Allah.

Menurut Komaruddin Hidayat, manusia hanyalah sebuah makluk peziarahan yang melintasi dan berkelana dalam ruang dan waktu yang sama. Semua sama-sama tidak tahu garis batas awal dan akhirnya. Tidak tahu kapan ada dan kapan akan menjadi tidak ada lagi. Tidak tahu bagaimana masa depan kelak setelah kematiannya.

Manusia dengan berbagai budaya, adat istiadat, dan keyakinan yang dianut, ibarat ratusan sungai yang berasal dari mata air yang sama. Semua pada akhirnya akan mengalir kembali menuju samudra yang sama, tempat menampungnya.

Samudra yang jernih, indah, luas, dan penuh kasih. Samudra yang setia menanti dan menampung semua roh manusia yang akan kembali menuju kepada-Nya. Samudra yang luas dan penuh kasih itu tidak lain adalah Tuhan pencipta alam semesta ini.

Sampai tidaknya perjalanan menuju Samudra Kasih bukan  tergantung dari jabatan, kekayaan, kehebatan, dan keyakinan yang dianut. Semua tergantung  kualitas sungai atau kualitas hidupnya. Kalau sungainya kotor, berbau, dan penuh sampah pasti akan sulit mengalir, bahkan akan tersesat dan terhenti di tengah jalan, akhirnya tidak sampai tujuan.

Sebaliknya, jika sungainya baik, bersih, dan bening pasti akan memberi keindahan tersendiri bagi yang memandang. Keberadaannya akan punya arti, makna, dan manfaat bagi kemajuan dan kebaikan dunia sekitarnya. Alirannya akan menjadi mudah dan lancar menuju Samudra Kasih yang luas, yang jernih, yang siap menanti dan menampung kehadirannya.

Maka biarlah semua sungai itu mengalir dengan caranya sendiri. Biarlah para pemeluknya merawat bersama agar tanah yang dilalui menjadi subur, makmur, indah, dan menghasilkan buah untuk kebaikan bumi seisinya. Biarkan mereka terus berusaha yang dilandasi rasa asih mring sesami (cinta kepada sesama) dan sepi ing pamrih rame ing gawe (giat bekerja tanpa mementingkan dirinya sendiri).

Hal utama dalam peziarahan adalah saling menghormati, mengasihi, memaafkan, tolong menolong, dan tansah setya tuhu ajrih asih mring Pangeran (takwa kepada-Nya). Demikian pula sebelum satu demi satu tiada dan sebelum yang fana menjadi kehidupan yang sejatinya.

Ada tapak keteladanan dan jejak sejarah kehidupan yang baik, luhur, dan mulia yang telah diukir bersama untuk peradaban selanjutnya. Inilah modal utama seorang hamba sewaktu-waktu pergi memenuhi panggilan-Nya.

 

 

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom