Ilustrasi sekolah. (Solopos-Whisnu Paksa)

Solopos.com, KLATEN -- Kepala SDN 1 Baturan, Kecamatan Gantiwarno, Klaten, Y. Sukardi, membantah berjualan Lembar Kerja Siswa (LKS).

Dia mengatakan buku itu bukan LKS melainkan buku ulangan harian dan ia termasuk para guru tidak mendapat untung dari buku tersebut.

Hal itu dikatakan Sukardi menanggapi keluhan orang tua murid yang menilai harga LKS yang dijual di sekolah SDN 1 Baturan, Klaten, kelewat mahal.

Sukardi menjelaskan ulangan harian dan buku yang masuk ke sekolah merupakan titipan penerbit. Khusus buku, sekolah mengalokasikan dana 20 persen dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS) sebagaimana diatur oleh pemerintah.

Namun, pembelian buku ulangan harian ini tidak dibiayai BOS lantaran keterbatasan dana. “Itu bukan LKS. Itu ulangan harian. Kalau guru harus bikin soal, mencetak, menggandakan, dan seterusnya sendiri, waktunya habis. Enggak ada waktu untuk mengajar,” ujar dia saat ditemui Solopos.com di Kecamatan Jogonalan, Sabtu (13/10/2018).

Harga masing-masing materi ulangan harian itu Rp12.000 per eksemplar. Harga itu merupakan harga yang ditawarkan penerbit kepada sekolah. Artinya, guru tidak mendapatkan keuntungan sepeser pun dari penggunaan buku ulangan harian itu.

“Guru hanya mendapatkan semacam upah sekitar Rp500 per eksemplar dari penerbit. Kalau diakumulasi pun jumlahnya sangat kecil,” beber dia.

Penjelasan serupa disampaikan Sukardi soal penggunaan modul yang dibuat Kelompok Kerja Guru (KKG) Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti. Cetakan itu bukanlah modul melainkan ulangan harian.

Materi berupa soal-soal itu disiapkan KKG untuk ulangan harian semester berikutnya. Salah satu pengelola penerbit di Klaten, Eko Nur Kholis, mengatakan harga buku ulangan harian yang ditawarkan ke sekolah Rp12.000 per eksemplar untuk materi Kurikulum 2013 dan Rp9.000 untuk materi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Materi ulangan harian bikinannya diedarkan hampir di semua SD di Kecamatan Gantiwarno. “Tapi enggak semua. Ada juga [SD] yang tidak pesan,” ujar dia.

Ia mengatakan penyusunan ulangan harian juga kadang melibatkan guru di Gantiwarno untuk keperluan koreksi materi. Guru menilai soal relevansi materi dan tingkat kesulitan di setiap jenjang sekolah.

Tak hanya itu, adanya kurikulum baru mengakibatkan ada beberapa buku dipakai untuk melengkapi materi. “Jadi tidak hanya dari satu penerbit.”

Ia membenarkan soal upah (bukan komisi) bagi guru yang menggunakan materi ulangan harian terbitannya. Nominal upah itu Rp500 per eksemplar.

“Itu semacam upah ya bukan komisi. Kalau komisi keliru. Kalau jumlah eksemplar yang dipakai seluruh sekolah, saya harus menghitung dulu datanya berapa,” terang Eko.

Sebagaimana diinformasikan, orang tua siswa SDN 1 Baturan, Gantiwarno, mengeluhkan biaya pembelian LKS yang dinilai cukup mahal, yakni Rp12.000 per eksemplar. Untuk keperluan belajar, setiap siswa mesti membeli LKS itu sebanyak delapan eksemplar sehingga biaya yang dikeluarkan orang tua siswa sekitar Rp100.000.


Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten