Kenduri, Acara Kumpul-Kumpul Sejak Zaman Nenek Moyang

dalam praktiknya, kenduri merupakan acara berkumpul yang umumnya dilakukan oleh kaum laki-laki dengan tujuan meminta kelancaran atas segala sesuatu yang dihajatkan dari sang penyelenggara yang mengundang orang-orang sekitar untuk datang

 Ilustrasi Kenduri di suatu desa (Instagram/@rizqimahendra)

SOLOPOS.COM - Ilustrasi Kenduri di suatu desa (Instagram/@rizqimahendra)

Solopos.com, KEBUMEN — Sama seperti kota-kota yang ada di Jawa Tengah lainnya, sebagian besar masyarakat Kabupaten Kebumen masih mempertahankan sebuah tradisi yang sudah turun-temurun dilakukan. Tradisi tersebut adalah Kenduri atau lebih dikenal dengan sebutan selamatan atau kenduren (sebutan kenduri yang disesuaikan dengan lidah orang Jawa).

PromosiMetaverse Menjadi Gaya Hidup Satu Dekade Lagi

Dihimpun dari Wikipedia, Jumat (14/1/2022), dalam praktiknya, acara ini dilakukan dengan berkumpul yang umumnya dilakukan kaum laki-laki dengan tujuan meminta kelancaran atas segala sesuatu yang dihajatkan dari sang penyelenggara. Biasanya, kenduri dipimpin oleh sesepuh atau orang yang memiliki keahlihan di bidang tertentu.

Baca juga: Kisah Pemburu Harta Karun di Kebumen: Betaruh Nyawa Demi Air Liur

Pada umumnya, acara ini digelar setelah isya. Dalam acara ini, sang empunya hajat biasanya menyajikan nasi tumpeng dan besek (tempat makanan yang dibuat dari anyaman bambu tertutup dan bentuknya segi empat) yang nantinya diberikan kepada tamu undangan untuk dibawa pulang.

Sedangkan bagi kaum perempuan, kenduri memberikan ruang privasi bagi mereka dalam berbagi informasi, baik tentang keluarga sendiri ataupun tetangga lain tanpa diganggu oleh para pria.

Baca Juga: Misteri Gerbang Istana Ratu Kidul di Pantai Parangkusumo Jogja

Kenduri di Kabupaten Kebumen

Dilansir dari kajian literasi yang diambil dari situs repository.umy.ac.id, ada beberapa jenis kenduri yang digelar di Kabupaten Kebumen, meliputi Kenduren Wetonan, yang digelar pada hari lahir seseorang berdasarkan weton atau penanggalan Jawa.

Biasanya dalam satu keluarga, hanya ada satu weton yang dirayakan, yaitu yang paling tua atau yang dituakan. Kenduri ini dilakukan rutin setiap selapan (35 hari). Biasanya menu sajiannya hanya berupa tumpeng dan lauk, seperti sayur, lalapan, tempe goreng, thepleng dan serundeng dan tidak ada yam ingkung.

Baca juga: Misteri Nyi Blorong di Goa Karang Bolong Kebumen

Kenduren Sabanan, kenduri ini digelar sebagai tujuan untuk menaikan para leluhur. Kenduri ini dilakukan setiap bulan Sya’ban. Kenduri jenis ini biasanya dilajukan oleh warga Kebumen yang tinggal di Kecamatan Watulawang dan sekitarnya di mana adat istiadat masih kental di beberapa desa, seperti Desa Peniron, Kajoran dan sekitarnya

Kemudian ada Keduren Likuran, dilaksanakan setiap tanggal 21 bulan puasa (Ramadan). Kenduri ini dimaksudkan untuk memperingati Nuzulul Qu’ran. Dalam keduri ini biasanya dalam lingkup RT (Rukun Tetangga), dan bertempat di rumah ketua adat atau sesepuh yang ada di setiap RT. Warga yang datang membawa makanan dari rumah masing-masing, tidak ada tumpeng tapi menu sajiannya berupa makanan rumahan, seperti sayur lodeh, bihun dan makanan rumahan lainnya.

Baca Juga: Kisah Penemuan Harta Karun Indonesia Tersembunyi di Kebumen

Kenduren Badan, dilaksanakan pada hari Raya Idul Fitri, pada tanggal 1 Syawal (aboge). Kenduri ini sama seperti Kenduri Likuran, namun tujuannya berbeda, yaitu menurunkan leluhur. Kenduren Ujar, kenduri ini dilakukan oleh keluarga tertentu atau yang punya ujar/omong. Sebelum kenduri ini dilakukan biasanya diawali dengan ritual nyekar dan menu wajibnya harus ada ayam ingkung panggang. Kenduri ini banyak dilakukan pada bulan Suro

Kenduren Muludan, dilakukan pada tanggal 12, bulan mulud, sama seperti kenduri likuran. Keduren ini dilakukan di tempat sesepuh, dan membawa makanan dari rumah masing-masing. Biasanya dalam kenduren ini ada ritual potong kambing yang kemudian di masak sebagai becek atau gulai.

Dengan melihat jenis kenduri yang diadakan, terlihat adanya akulturasi budaya antara budaya nenek moyang atau leluhur dengan syiar Islam. Ini juga merupakan hasil dari syiar para wali songo yang mengajarkan agama Islam melalui jalur seni dan budaya.

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Buka Cabang di Semarang, Sahid Tour Tawarkan Paket Haji Khusus

Biro perjalanan dan wisata, Sahid Tour, memperluas jaringannya dengan membuka kantor cabang di Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng).

Korban Ledakan di Ponpes Klambu Grobogan, Seorang Pemuda

Diketahui pemuda yang mengalami luka bernama Azka berusia 18 tahun yang merupakan anak pemilik rumah yang terjadi ledakan.

Ganjar: Literasi Keberagaman Perlu Direplikasi ke Sekolah di Jateng

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, berharap program literasi keberagaman yang diusung Solopos Institute diterapkan di seluruh sekolah di Jateng.

Duar! Ledakan Keras di Ponpes Klambu Grobogan, Satu Orang Jadi Korban

Sebuah ledakan keras terjadi di rumah dekat Ponpes Darul Masyruh, Desa Penganten, Kecamatan Klambu, Kabupaten Grobogan.

Ganjar Beri Pujian Program Literasi Keberagaman Solopos Institute

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, memberikan apresiasi terhadap program Literasi Keberagaman Solopos Institute yang diterapkan di sekolah-sekolah di wilayahnya.

Omicron Merebak, Ganjar Imbau Warga Tidak Gelar Perayaan Imlek 2022

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, meminta warga untuk tidak menggelar perayaan Imlek 2022 karena ancaman Covid-19 varian Omicron.

Tradisi Mandi Kembang Leson Tujuh Rupa di Wonosobo, Ini Artinya...

Salah satu tradisi yang masih dilestarikan masyarakat di Wonosobo, Jawa Tengah, yaitu mandi kembang leson menggunakan kembang tujuh rupa.

Gelar Apel, Polres Grobogan Ingin Wujudkan Zero Knalpot Brong

Polres Grobogan hingga Kamis (27/1/2022) telah menindak dan memusnahkan 215 knalpot brong dengan cara dipotong kemudian dilindas.

Bupati Tak Ingin Ada Omicron di Kabupaten Grobogan

Pemkab Grobogan tetap melakukan antisipasi, namun tidak ingin ada kasus Omicron di Grobogan.

Netizen Geger! Bupati Husein Prediksi Omicron Sudah Masuk Banyumas

Bupati Banyumas Achmad Husein membuat geger netizen setelah menyebut virus SARS CoV-2 varian Omicron telah masuk Banyumas.

Tak Cuma di Semarang, Harta Pengusaha Terkaya Asia Tersebar Luas

Aset kerajaan bisnis yang dibangun pengusaha terkaya Asia dari Semarang, Jawa Tengah, Oei Tiong Ham, bukan hanya berada di Indonesia. Melainkan tersebar di berbagai negara.

Misteri Akhir Hayat Pengusaha Terkaya Asia Semarang: Warisan Disita

Akhir hayat Oei Tiong Ham si pengusaha terkaya Asia dari Semarang, Jawa Tengah, menyimpan misteri. Baik tentang penyebab kematian hingga sengketa harta warisan.

Dibuka, Penerimaan Anggota Polri dari Jalur Sarjana, Simak Caranya Lur!

Kepolisian Republik Indonesia atau Polri membuka pendaftaran siswa Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana (SIPSS) tahun 2022.

Triawan Munaf Kepincut Baju Adat Ganjar Pranowo, Seperti Apa Sih?

Komisaris Utama PT Aviasi Pariwisata Indonesia, Triawan Munaf, tertarik dengan baju adat yang dikenakan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo.

Kerupuk Tayamum, Makanan Legend Khas Pantura Kriuk-Kriuk Shrpp

Kerupuk/krupuk tayamum alias kerupuk pasir atau kerupuk melarat merupakan salah satu makanan khas Pantura Jawa yang melegenda.

Istana Gergaji, Warisan Pengusaha Terkaya Asia di Semarang

Istana Gergaji merupakan salah satu warisan peninggalan kerajaan bisnis pengusaha terkaya Asia, Oei Tiong Ham, di Semarang, Jawa Tengah.