Kenalkan Generasi Z dengan E-Book

Essai ini ditulis oleh Febri Setiyasih Widayati, guru SMPN 1 Andong, Boyolali, dan telah terbit di Harian Solopos edisi 4 Agustus 2021.

 Febri Setiyasih Widayati (dok)

SOLOPOS.COM - Febri Setiyasih Widayati (dok)

Pembelajaran daring sudah dua tahun berlalu. Guru, peserta didik, dan orang tua. sudah tidak sabar menunggu pembelajaran tatap muka segera dimulai. Ada sebuah keganjilan dalam pembelajaran daring, salah satunya tidak ada interaksi secara langsung antara guru dan peserta didik.

Untuk jenjang pendidikan sekolah menengah pertama (SMP) kelas VII, sangat terasa ketimpangan dalam pembelajaran daring. Mereka baru saja lepas dari sekolah dasar (SD) dengan kultur pendidikan yang berbeda, apalagi di masa pandemi. Di SD, guru kelas mereka sekaligus menjadi pendamping siswa untuk hampir semua mata pelajaran.

Ada 11 mata pelajaran di SMP yang menuntut peserta didik adaptif dan responsif. Tidak mudah bagi peserta didik untuk segera beradaptasi dengan pendidikan jenjang lebih tinggi, tetapi mau tak mau harus mereka lakukan. Untuk membantu adaptasi, peserta didik diberi pembekalan melalui masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) di awal tahun ajaran 2021/2022.

Materi MPLS meliputi profil sekolah, wawasan wiyata mandala, kepramukaan, kesadaran berbangsa dan bernegara, belajar efektif, pendidikan karakter, tata krama siswa, pengenalan kurikulum, pembinaan, dan diakhiri dengan kuis. Pada pertemuan berikutnya, masing-masing guru mata pelajaran di awal pertemuan menyampaikan beberapa hal di antaranya kompetensi inti, kompetensi dasar, standar penilaian, dan kriteria ketuntasan minimal (KKM).

Para guru menggunakan metode yang bervariasi untuk menyampaikan setiap materi kepada peserta didik sejak MPLS. Berbekal metode pembelajaran dan sumber materi ajar yang sudah digunakan sebelumnya, para guru harus terus bertransformasi untuk memberikan pembelajaran secara daring yang terbaik bagi peserta didik.

Ada beberapa media pembelajaran yang sudah dilakukan guru dalam pembelajaran secara daring. Di antaranya website, Google Classroom, aplikasi Power Point, animasi, Google Form, Youtube, dan sebagainya. Selain dengan metode pembelajaran yang bervariasi, guru dapat memperkenalkan sumber belajar yang lain seperti buku elektronik atau e-book.

Guru harus menyadari bahwa saat ini sedang berhadapan dengan generasi terbaru di kelas mereka. Ada dua generasi yang dihadapi oleh para guru di berbagai jenjang, yaitu generasi milenial atau generasi Y dan generasi Z. Kebanyakan orang tua murid merupakan generasi milenial, sedangkan para peserta didik merupakan generasi Z. Kedua generasi ini lahir dari masa yang berbeda namun memiliki kemiripan karakter.

Generasi Z adalah sebutan bagi generasi terbaru. Pew Research Center menggunakan 1996 sebagai batas antara generasi milenial dan generasi Z. Mereka yang lahir setelah 1996 hingga saat ini disebut generasi Z dan yang sebelumnya sebagai generasi milenial.

Generasi milenial adalah generasi yang lahir pada era 1981 hingga 1996 saat teknologi digital mulai berkembang. Sebagai catatan, generasi sebelum milenial disebut sebagai generasi X yang lahir di era 1965-1980. Ada banyak guru yang lahir pada era ini dan masih aktif mengajar hingga sekarang. Mereka adalah anak dari baby boomers, sebutan bagi generasi yang lahir pada 1946-1964.

Kaum milenial menjadi saksi sejarah perubahan peradaban dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat dari revolusi industri 3.0 ke revolusi industri 4.0. Dalam laporan berjudul Millenials: Portrait of Generation Next, Pew Research Center menyimpulkan beberapa ciri-ciri generasi milenial. Pertama, kaum milenial lebih percaya dengan user generated content (UGC). Kedua, kaum milenial memanfaatkan media sosial dalam berkomunikasi dan mencari informasi. Ketiga, kaum milenial mengoptimalkan ponsel pintar mereka untuk banyak hal. Keempat, mereka mementingkan keluarga.

Sedangkan generasi Z umumnya memiliki kedekatan dan keakraban dengan teknologi komunikasi, media, dan digitalisasi. Sedikit berbeda dengan generasi Y, generasi Z adalah generasi yang sudah dekat dengan internet sejak mereka lahir. Karenanya, mereka lebih melek teknologi digital dan internet.

Secara umum, generasi Z tidak jauh berbeda dengan generasi milenial dalam pemanfaatan teknologi. Namun, dengan kebiasaan tersebut, generasi Z memiliki beberapa karakter tambahan. Salah satunya, mereka lebih mudah beradaptasi dengan teknologi meskipun lebih mudah mengalami stres, seperti disebut Kamal Irsyad dalam bukunya berjudul Pembelajaran Di Era 4.0 Aplikasi Teknologi Informasi Dalam Pembelajaran.

Menyesuaikan Generasi Z

Dengan pemetaan tersebut, guru harus memberikan pembelajaran yang menarik yang sesuai karakter generasi Z. Guru harus mampu menumbuhkan minat belajar meskipun pembelajaran harus dilaksanakan secara daring. E-book atau buku elektronik alias buku digital adalah versi elektronik dari buku. Jika buku pada umumnya terdiri dari gabungan kertas yang dapat berisikan teks atau gambar, maka e-book berisikan informasi digital yang juga dapat berwujud teks atau gambar.

Sebagian pengajar sudah mengenal e-book sebagai bahan bacaan, bahkan sudah mengimplementasikan e-book dalam pembelajaran daring. Namun, masih banyak guru yang belum mengetahui e-book dan belum memperkenalkannya kepada peserta didik. Bahkan dalam situasi yang memaksa pembelajaran dilakukan secara daring, banyak guru yang belum memanfaatkannya.

Karena berhadapan dengan generasi Z, guru perlu memperkenalan e-book dalam pembelajaran daring. E-book tidak harus diakses dari penerbit buku terkenal. Guru bisa membuat e-book sendiri yang berisi materi yang akan disampaikan kepada peserta didik. Tentu isinya harus sesuai dengan kurikulum, kondisi sekolah, dan kondisi peserta didik masing-masing.

Materi pembelajaran daring juga harus disesuaikan dengan buku siswa dan buku pendamping siswa. Intinya, pesan esensial dari materi pelajaran harus tersampaikan kepada peserta didik. Misalnya, dalam penyampaian materi IPA kelas VII semester 1 tentang objek IPA dan pengamatannya, ada beberapa materi esensial. Di antaranya penyelidikan IPA, keterampilan proses dalam IPA, sikap ilmiah, pengukuran, besaran pokok dan turunan, serta besaran vektor dan skalar. Guru dapat mengemas materi esensial tersebut dalam dokumen MS Word atau slide Power Point yang dikonversikan ke format PDF menjadi e-book sederhana. Peserta didik akan dimudahkan dalam mengakses e-book sehingga mereka bisa belajar kapan saja dan di mana saja.

Dengan memahami kriteria generasi Z yang sangat dekat dengan internet dan teknologi, e-book dapat dikenalkan sejak dini kepada peserta didik di saat pandemi. Peserta didik dapat belajar dengan e-book sehingga mereka tetap dekat dengan buku meski dalam versi digital.

Para guru menyadari selama pembelajaran daring tidak jarang peserta didik malas atau ogah membaca buku fisik yang sudah mereka dapatkan dari sekolah. Tetapi dengan e-book, peserta didik tetap dapat membaca buku digital melalui ponselnya. Dengan keseharian Generasi Z yang sarat dengan ponsel, e-book diharapkan mampu menggantikan buku paket pelajaran secara fisik.

Ani Setiani dan Donni Juni Priansa dalam buku Manajemen Peserta Didik Dan Model Pembelajaran: Cerdas, Kreatif, dan Inovatif 2015 menjelaskan ada sejumlah faktor yang memengaruhi minat belajar peserta didik. Pertama adalah faktor internal yang terdiri atas faktor jasmaniah dan faktor psikologi. Yang kedua adalah faktor eksternal yang meliputi faktor keluarga dan faktor sekolah.

Minat belajar yang dipengaruhi faktor sekolah meliputi metode mengajar, kurikulum, relasi guru dan peserta didik, relasi peserta didik dengan peserta didik, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar penilaian di atas ukuran, keadaaan gedung, dan tugas di rumah. E-book merupakan salah satu satu sumber materi belajar yang disiapkan guru untuk peserta didik agar tidak jenuh dan mendapatkan variasi.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah mencanangkan peningkatan jumlah dan ragam sumber belajar bermutu. Salah satunya dengan pemanfaatan media teknologi informasi (gawai) dalam kegiatan baca-tulis dengan bimbingan guru. Media digital menyediakan banyak sumber belajar, baik dari segi jumlah maupun ragam sehingga dapat memperkaya bahan pembelajaran. E-book merupakan salah satu implementasi dari penyediaan sumber belajar melalui media digital.

Aktivitas membaca e-book bisa menjadi upaya peningkatan literasi yang menyenangkan, baik di dalam, di luar kelas, maupun di luar sekolah. Media ini dapat membuat guru dan peserta didik terlibat langsung di dalamnya. Pengenalan e-book, misalnya dengan tema Objek IPA dan Pengamatannya untuk peserta didik generasi Z, diharapkan mampu meningkatkan minat belajar dalam pembelajaran daring, menumbuhkan minat baca-tulis, dan memperbaiki hasil belajar.

Berita Terkait

Espos Premium

Pebisnis Besar Berebut Kue Lezat Bisnis Pusat Data

Pebisnis Besar Berebut Kue Lezat Bisnis Pusat Data

Ekosistem digital tengah merebak di Indonesia seiring penetrasi Internet yang semakin meluas sehingga kebutuhan penyimpanan data semakin tinggi. Selama ini data penduduk Indonesia berada di luar negeri sehingga penarikan informasi memakan waktu dan jarak yang jauh.

Berita Terkini

Membangun Ekosistem Lifelong Learning: Bagaimana Bertahan di Era Education 4.0?

Opini ini ditulis Astrid Widayani, SS., SE., MBA, dosen Manajemen Stratejik Fakultas Ekonomi Universitas Surakarta, mahasiswa Doctoral Program Doctor of Business Administration, Business Transformation and Entrepreneurship-Business School Lausanne, Switzerland.

Melawan Begal Digital

Esai ini ditulis oleh Arif Budisusilo, jurnalis senior Bisnis Indonesia Group, dan telah terbit di Koran Solopos edisi 22 September 2021.

Pelayanan Publik Indonesia Tangguh

Essai ini ditulis oleh Siti Farida, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 21 Agustus 2021.

ISI Solo Butuh Rektor Petarung

Essai ini ditulis oleh Aris Setiawan, pengajar jurnalisme di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 20 Agustus 2021.

Pendidikan Anak Merdeka

Essai ini ditulis oleh Paulus Mujiran, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang, dan telah diterbitkan Koran Solopos 19 Agustus 2021.

Pramuka di Masa Pandemi

Essai ini ditulis oleh Alies Sri Lestari, guru Bahasa Indonesia dan pembina pramuka di SMPN 5 Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 18 Agustus 2021.

Membangun Kemerdekaan Psikologis di Masa Pandemi

Opini ini ditulis Dr. Lilik Sriyanti, M.Si, dosen IAIN Salatiga dan Konselor Biro Konsultasi Psikologi.

Dimensi Sosial Teknologi Pertanian

Esai ini telah terbit di Harian Solopos 12 Agustus 2021, ditulis oleh Agung S.S. Raharjo, Analis Ketahanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian.

Magrib di Serambi

Opini ini terbit di Koran Solopos edisi Sabtu 14 Agustus 2021, ditulis oleh Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Kurang Kencang, Pak Jokowi...

Esain ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Pelajaran dari Emas Olimpiade

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, ditulis oleh Agustinus Heruwanto Guru SMA Pangudi Luhur St. Yosef Solo.

Dampak Penerapan PPKM di Salatiga

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Senin 9 Agustus 2021, ditulis oleh Santi Widyastuti, statistisi di Badan Pusat Statistik Kota Salatiga.

Pitulungan

Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Seni Memasarkan PPKM Level 4

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Sabtu 7 Agustus 2021, ditulis oleh Mohammad Eko Fitrianto, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya dan mahasiswa doktoral Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada.

Kehilangan Makna…

Tulisan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 4 Agustus 2021. Esai ini karya Sholahuddin, aktif di Solopos Institute.

Memeriahkan Hari Kemerdekaan ke-76 RI secara Daring

Opini ini ditulis Marwanto, dosen Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan FTIK IAIN Salatiga.