Kategori: Leisure

Kenali Pemicu Trauma pada Anak, Bukan Hanya Pelecehan Seksual


Solopos.com/Astrid Prihatini WD/Newswire

Solopos.com, JAKARTA--Pemicu trauma pada anak bukan hanya pelecehan seksual. Ada sejumlah pemicu trauma pada anak yang bisa mempengaruhi tumbuh kembang mereka.

Orang tua sebaiknya mengetahui apa sajakah pemicu trauma pada anak. Dengan mengetahuinya, orang tua bisa menghindari melakukannya. Tips parenting kali ini membahas sejumlah pemicu trauma pada anak selain pelecehan seksual. Perlakuan buruk terhadap anak dapat berdampak buruk pada perkembangan anak tersebut di masa depan.

Trauma muncul dari beragam kejadian. Serangkaian penganiayaan fisik atau penganiayaan mental mungkin menjadi salah satu contohnya. Namun lebih daripada itu, terkadang kita sebagai orang tua bisa abai dan menyebabkan pengalaman traumatis kepada anak.

Baca Juga: Penampilan Pemeran Bibi Lung Mengejutkan Warganet, Mengapa Ya?

Melansir Times of India dan Bisnis.com, Senin (1/3/2021), berikut beberapa hal yang memicu trauma masa kecil, selain pelecehan :

1. Kurangnya dukungan emosional

Anak sangat membutuhkan cinta dan perhatian. Tidak seperti orang dewasa, mereka tidak dapat menampilkan kepribadian yang berbeda dan selalu jujur pada diri mereka sendiri. Jadi, jika mereka terbuka tentang emosi dan mengungkapkan masalah kepada Anda, jangan menghindar dan berikan dukungan emosional. Mengabaikan perasaan dan tidak memberi perhatian dapat menyebabkan ketidakseimbangan emosional pada anak Anda. Pada akhirnya hal ini dapat memicu pikiran negatif pada anak.

2. Penolakan

Setiap anak unik dengan caranya masing-masing. Meskipun orang tua memiliki kebebasan untuk mengarahkan mereka ke jalan yang benar, memaksakan ide dan keyakinan Anda pada anak dan menolak masukan mereka mentah-mentah, dapat sangat merugikan keberadaan mereka.

3. Memaksa anak membuktikan diri dan bersaing

Memaksa anak untuk bersaing bisa jadi pemicu trauma pada anak. Dalam banyak keluarga, anak-anak harus terus bersaing dan membuktikan diri menjadi yang terbaik. Namun hal ini menghilangkan pengalaman masa kecil mereka. Tak perlu dikatakan, anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti itu menjadi terlalu cenderung untuk sukses dan gagal untuk melihat keindahan hidup secara umum

4. Perasaan terasing pada saat dibutuhkan

Salah satu pemicu trauma pada anak adalah perasaan terasing. Setiap anak ingin orang tua mereka mendukung mereka. Entah di saat bahagia atau duka, anak-anak mengharapkan dukungan dan dorongan dari orang tua mereka. Tetapi jika anak Anda merasa diabaikan dan diasingkan selama masa-masa sulit, hal itu pasti berdampak negatif pada kesehatan mental mereka.

5. Memprioritaskan diri sendiri daripada anak

Sebagai orang tua, Anda harus belajar mengurus kebutuhan dan keinginan anak. Tidak sehat untuk selalu memprioritaskan diri sendiri di atas anak Anda. Menjadi egois dapat merusak jiwa anak dan membuat mereka merasa kurang dihargai dan tidak diakui. Percayalah mereka akan terluka seumur hidup. Jadi hindarilah memprioritaskan diri sendiri agar tak jadi pemicu trauma pada anak.

6. Anak-anak dibiarkan mengurus diri sendiri

Ada perbedaan besar antara memberi anak ruang untuk melatih individualitas dan membiarkan mereka mengurus diri sendiri. Melatih anak untuk mandiri adalah cara produktif untuk membantunya tumbuh dengan bimbingan dan arahan Anda. Namun membiarkan mereka mengurus diri sendiri adalah bentuk pelarian dari tanggung jawab Anda.

Hal ini dapat membuat anak Anda merasa tidak diinginkan dan mungkin menghilangkan masa kecilnya.

 

 

Share
Dipublikasikan oleh
Astrid Prihatini WD