Kantor BPS Kota Madiun, Jl. Mayjen DI Panjaitan No. 11 Kota Madiun, Senin (4/11/2019). (Abdul Jalil/Madiunpos.com)

Solopos.com, MADIUN -- Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Madiun mencatat angka inflasi pada November 2019 mencapai 0,16% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 134,56. Kenaikan harga rokok masih menjadi penyumbang inflasi di kota ini.

Kepala BPS Kota Madiun, Umar Sjaifudin, mengatakan dari delapan kabupaten/kota penghitung inflasi nasional di Jawa Timur, seluruhnya mengalami inflasi.

"Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Sumenep sebesar 0,41% dengan IHK sebesar 132,94 dan inflasi terendah di Kota Malang sebesar 0,01% dengan IHK 136,92," kata dia kepada wartawan di Kantor BPS Kota Madiun, Selasa (3/12/2019).

Umar menyampaikan pemicu utama inflasi di Kota Madiun karena kenaikan harga bawang merah yang naik 12,94% dengan andil inflasi 0,0465%. Selain itu, ada juga tomat sayur, telur ayam ras, hingga nangka muda yang menjadi pemicu inflasi karena harganya naik 10,29%.

Namun, kata dia salah satu komoditas utama yang menjadi penyumbang inflasi di Kota Madiun yaitu rokok kretek filter, rokok putih, dan rokok kretek. Rokok masih menjadi penyumbang inflasi setelah ada rencana kenaikan cukai rokok pada 2020. Sedangkan harga rokok sendiri sudah mulai mengalami kenaikan sejak September hingga sekarang.

"Pada 2020 kan pemerintah akan menaikan cukai rokok. Sehingga produsen sudah mulai menaikkan harga rokok. Kami lihat perjalanan harga rokok mulai September sampai November ini memang mengalami kenaikan. Angka inflasi dari rokok ini menyumbang hampir separuh dari angka inflasi Kota Madiun," jelasnya.

Umar menyampaikan ada sejumlah komoditas utama penekan inflasi November 2019 yaitu daging ayam ras, pisang, cabai rawit, wortel, pir, anggur, cabai merah, semangka, hingga besi beton. Seperti daging ayam ras pada November justru mengalami penurunan harga 2,81% dengan andil menurunkan inflasi -0,0355%.

"Dari angka-angka tersebut bisa disimpulkan bahwa angka inflasi di Kota Madiun masih sangat terjaga. Angka inflasi kumulatif kita juga masih di bawah 2,71%, yaitu 1,87%," jelasnya.

Pemerintah daerah diminta untuk tetap waspada dan menjaga supaya pada Desember angka inflasinya bisa dikendalikan. Hal ini mengingat pada Desember ada perayaan Natal, tahun baru, dan liburan sekolah.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten