Kenaikan Cukai Rokok Dituding Salah Kaprah
Anggota DPR Abdul Kadir Karding. (Antara-Heru Suyitno)

Solopos.com, TEMANGGUNG — Kalangan DPR menuding kebijakan Menteri Keuangan Sri Mulyani menaikkan cukai rokok kretek merupakan kebijakan salah kaprah. Tudingan itu dikemukakan anggota DPR asal daerah pemilihan Jawa Tengah, Abdul Kadir Karding, di Temanggung, Jumat (29/11/2019).

Sebagaimana dipublikasikan Kantor Berita Antara, Sabtu (30/11/2019), Karding datang ke Temanggung untuk menyerahkan bantuan sepeda motor pengangkut sampah kepada sejumlah kelompok bank sampah di kabupaten itu.

Dipaparkan Abdul Kadir Karding, tindakan dan kebijakan yang diambil oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani itu tindakan yang tidak dibangun dengan analisis yang kuat. Bahkan, menurutnya terkesan tergesa-gesa atau kemungkinan dalam tekanan.

"Tekanan dagang dari luar negeri kan sangat kuat, terkesan sangat tergesa-gesa dan tidak memikirkan efek dari kebijakan itu sendiri," paparnya.

Menurut dia, sebenarnya yang paling penting adalah mengurangi impor tembakau dan bukan mematikan produksi anak negeri. Dampak dari tindakan semacam itu, menurut Karding bakal berdampak sangat luas.

Dampak kebijakan Menteri Keuangan menaikkan cukai rokok itu, menurutnya akan sangat terasa terutama di daerah-daerah penghasil tembakau seperti Temanggung, Magelang, Boyolali, Medan, Lombok, dan sejumlah penghasil tembakau lainnya.

"Sebenarnya langkah yang pertama harus dilakukan, yakni dengan mengurangi impor tembakau dan menaikkan cukai impor tembakau. Itu yang harus dilakukan. Kalau mengurangi orang merokok, ya berkampanye," katanya.

Ia menuturkan merokok itu yang tidak boleh yang berlebihan. Makan nasi saja, tegasnya, kalau berlebihan juga tidak bagus dan bisa menimbulkan penyakit yang serius.

"Prinsipnya tidak berlebihan. Makan nasi kalau berlebihan juga berbahaya. Ada yang umur lebih dari 97 tahun masih hidup dan merokok. Bahkan di Eropa tidak ketat-ketat amat, diatur saja sesuai dengan peruntukannya," katanya.

Ia menuturkan di negara Kuba tembakaunya tidak sebagus Indonesia, tetapi mereka bisa mem-branding Kuba sebagai penghasil cerutu dan itu membantu ekonomi masyarakat. "Kita ini punya potensi tembakau yang kualitasnya bagus, tetapi justru tidak didukung. Saya sangat setuju dengan ide Pak Ganjar [Gubernur Jateng], harusnya dibangun laboratorium tembakau terbesar di Asia. Kita harus menumbuhkan, jangan membunuh kretek," tandasnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber: Antara


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho