KEMISKINAN SOLO : Dibanding Raskin, Warga Lebih Suka Pakai Voucher Pangan
Suasana focus group discussion (FGD) Implementasi Program E-Voucher Pangan di Kota Solo yang digelar Konsorsium Solo Raya (KSR) untuk Pangan Sehat di Pendapa Kantor Kelurahan Gajahan, Pasar Kliwon, Selasa (20/12/2016). (Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos)

Kemiskinan Solo, warga Solo menyambut antusias akses bantuan pangan menggunakan voucher pangan.

Solopos.com, SOLO -- Konsorsium Solo Raya (KSR) untuk Pangan Sehat menyatakan warga Solo lebih antusias mengakses bantuan pangan menggunakan voucher pangan ketimbang hanya menerima beras untuk rakyat miskin (raskin).

Koordinator KSR untuk Pangan Sehat, Sofiawati, mengatakan warga di empat kelurahan di Solo yang menjadi wilayah uji coba penggunaan voucher pangan menyambut baik program tersebut. Menurut dia, warga merasa lebih nyaman mengakses bantuan pangan dari pemerintah menggunakan voucher pangan ketimbang hanya menerima raskin.

"Uji coba sudah dilaksanakan sejak September hingga November ini. Kami mendapati warga lebih sepakat dengan penggunaan voucher pangan ketimbang bantuan raskin," kata Sofiawati saat ditemui Solopos.com di sela-sela focus group discussion (FGD) Implementasi Program E-Voucher Pangan di Kota Solo di Pendapa Kantor Kelurahan Gajahan, Pasar Kliwon, Selasa (20/12/2016).

Sofiawati menerangkan warga merasa lebih nyaman menggunakan voucher pangan ketimbang bantuan raskin karena lebih praktis, yakni tidak perlu pakai uang, lokasi pembelian dekat, produknya tidak hanya beras tapi barang pangan lain seperti telur dan susu. Menurut dia, pandangan warga soal penggunaan voucher pangan selama uji coba tersebut akan disampaikan kepada pemerintah sebagai rekomendasi pelaksanaan program pada 2017.

"Kami mencoba memfasilitasi pelaksanaan uji coba voucher pangan supaya mengetahui keefektifan program tersebut. Tahun depan program akan kami kawal terus agar tepat sasaran. Dalam uji coba ini kami mendapati warga lebih tenang dengan penggunaan voucher pangan. Kami juga mendengar pendapat dari pemerintah dan akademisi," terang Sofiawati.

Sofiawati menerangkan uji coba pendistribusian raskin diganti menjadi voucher pangan yang disampaikan langsung kepada rumah tangga sasaran di Solo dimulai pada Rabu (7/9/2016) lalu. Sistem penyaluran voucher pangan di Kelurahan Kratonan dan Kemlayan ditangani Bank Jateng, sedangkan Kelurahan Kampung Baru dan Gajahan ditangani Bank BTPN.

Dalam uji coba tersebut, masing-masing warga kategori miskin penerima bantuan tidak lagi menerima beras tetapi diganti voucher pangan senilai Rp210.000/bulan. Selain membeli beras, warga bisa memanfaatkan voucher pangan untuk berbelanja susu dan telur senilai Rp100.000. Sedangkan sisanya Rp110.000 bisa diambil secara tunai di warung atau agen Laku Pandai yang telah ditunjuk.

Salah satu warga Kampung Baru, Pasar Kliwon, Siti Janatun, 63, mengaku lebih memilih memakai voucher pangan ketimbang raskin. Dia senang bisa memanfaatkan voucher pangan untuk membeli beras dengan kualitas lebih baik dari raskin.

Siti menyebut warga juga leluasa karena bisa sewaktu-waktu membeli barang kebutuhan pangan dengan voucher pangan. "Sedangkan uang yang bisa diambil tunai dari voucher pangan bisa saya tabung. Saya sendiri lebih memilih menerima voucher pangan ketimbang raskin. Sekarang makan nasi bisa enak karena bisa memilih beras. Kalau dulu warga hanya bisa pasrah menerima bantuan raskin. Kualitas raskin padahal sering kali jelek. Nasi tidak enak dimakan," jelas Siti.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom