KEMISKINAN BOYOLALI : 30% Rumah di Desa Bendo Tak Layak Huni
Salah satu rumah warga Desa Bendo, Nogosari, yang masuk kategori tak layak huni. Foto diambil Kamis (22/12/2016). (Aries Susanto/JIBI/Solopos)

Kemiskinan Boyolali, sedikitnya 270 rumah atau sekitar 30% dari total 790 rumah di Desa Bendo, Nogosari, tergolong RTLH.

Solopos.com, BOYOLALI -- Sedikitnya 270 rumah atau hampir 30% dari total 790 rumah di Desa Bendo, Kecamatan Nogosari, Boyolali, masuk kategori tak layak huni. Rumah-rumah tersebut hanya berlantai tanah, berdinding gedek, serta tak dilengkapi sanitasi sehat.

Kepala Desa Bendo, Samsidi, mengatakan faktor kemiskinan menjadi salah satu pemicu banyaknya rumah tak layak huni (RTLH) di desa tersebut. Mereka yang tinggal di desa saat ini rata-rata kaum manula dan janda tua. Akibatnya, desa mengalami permasalahan sosial dan kemiskinan yang akut.

“Warga yang tersisa saat ini kebanyakan manula dan janda-janda tua mencapai 25%. Makanya, jangan heran rumah-rumah di Desa Bendo kebanyakan tak layak huni,” ujar Samsidi saat berbincang dengan Solopos.com, Kamis (22/12/2016).

Meski kondisi rumah masuk kategori tak layak huni, Samsidi memastikan setiap rumah telah memiliki jamban yang layak. Jamban layak dan bersih tersebut adalah program pemerintah untuk meningkatkan taraf hidup yang sehat.

“Semua warga kami sekarang tak ada satu pun yang buang air besar sembarangan, di sungai atau di jumbleng. Semua rumah minimal telah dilengkapi toilet jongkok yang bersih, meski rumah mungkin hanya berdinding gedek,” ungkapnya.

Samsidi mengatakan persoalan kemiskinan desa juga dipicu minimnya anak-anak muda yang berpendidikan tinggi. Mereka yang lulus SLTA atau kuliah kebanyakan memilih merantau. Sebagian yang sukses dan maju memilih menetap di tanah rantau dan tak kembali ke desa.

“Akhirnya, di desa hanya tersisa kaum manula dengan kondisi ekonomi pas-pasan. Sebagian besar lainnya menjadi buruh tani,” paparnya.

Salah satu upaya mengatasi persoalan kemiskinan ialah pemerintah desa rajin menggelar pelatihan wirausaha kepada warga. Bentuk kewirausahaan itu antara lain pelatihan menjahit, bengkel, las, kursus tata boga, mebelair dan lain-lainnya.

Diharapkan dengan pelatihan tersebut upaya menekan angka pengangguran bisa berjalan optimal. “Kami juga bekerja sama dengan berbagai instansi agar tenaga kerja lokal bisa terserap,” paparnya.

Sebelumnya, salah satu rumah warga setempat yang tercatat tak layak huni dipugar oleh PT Taspen. Pemugaran tersebut sebagai upaya meningkatkan taraf hidup warga, khususnya dari kalangan pejuang veteran yang tak mampu.

Kepala Cabang PT Taspen (Persero) Solo, Tawab, mengatakan acara bedah rumah adalah bentuk kepedulian PT Taspen kepada keluarga pejuang Veteran. Program tersebut menjadi tanggung jawab sosial dan lingkungan PT Taspen Solo.

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom