Perwakilan petani berdialog dengan Dirjen Tanaman Pangan Kementan Sumardjo Gatot Irianto (dua dari kiri) di Dukuh Winong, Desa Dawung, Jenar, Sragen, Selasa (19/2/2019). (Solopos-Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN — Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan ekspor jagung minimal 500.000 ton pada 2019. Jumlah ekspor jagung tersebut naik 130.000 ton atau 35,14% bila dibandingkan dengan realisasi ekspor jagung pada 2018 sebanyak 370.000 ton.

Kendati sudah ekspor, pemerintah masih melakukan impor sebanyak 100.000 ton jagung pada 2018. Penjelasan itu disampaikan Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Sumardjo Gatot Irianto, saat ditemui wartawan seusai melaksanakan panen raya jagung di Dukuh Winong, Desa Dawung, Kecamatan Jenar, Sragen, Selasa (19/2/2019).

Sumardjo hadir dalam panen raya jagung seluas 9,5 hektare di lahan milik Perum Perhutani bersama Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah Sardjananto, Asisten II Sekretariat Daerah (Setda) Sragen Suharto, Kepala Dinas Pertanian Sragen Eka Rini Mumpuni Titi Lestari, perwakilan dari PT Bisi Internasional, dan stakeholders lainnya serta petani jagung se-Kabupaten Sragen.

“Produksi jagung 2018 mencapai 30 juta ton. Target produksi jagung di tahun ini meningkat 3 juta ton atau 33 juta ton. Dengan produksi jagung yang berlimpah, pemerintah sudah ekspor jagung ke luar negeri sebanyak 370.000 ton dan impor 100.000 ton jagung pada 2018. Artinya, kami masih surplus. Jangan bilang negara sudah ekspor kemudian tidak boleh impor. Kalau semua ingin ekspor lalu siapa yang impor? Kalau semua ingin jual siapa yang beli?” ujarnya.

Sumardjo menjelaskan pemerintah impor jagung 100.000 ton pada 2018 itu karena terjadi paceklik pada para peternak kecil karena harga jagung tinggi mencapai Rp5.300-Rp5.500/kg. Dia mengatakan sekarang harga jagung normal sehingga pemerintah menginginkan ekspor secepatnya.

Dia mengatakan target minimal 500.000 ton karena tergantung kelebihan pasokan atau tidak. “Saya tidak mau dianggap memberi angin surga. Yang namanya target itu bisa tercapai dan bisa tidak. Kami maunya ekspor pada tahun ini bukan impor,” katanya.

Sumardjo menjelaskan harga jagung kering sekarang Rp4.000/kg di wilayah Jenar, Sragen. Dia mengatakan harga tersebut lebih tinggi dari ketentuan dari Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) senilai Rp3.100/kg. Kendati harga terhitung tinggi, Sumardjo masih meminta PT Bisi Internasional membeli dengan menaikkan harga Rp50/kg dari Rp4.000/kg.

“Ke depan saya minta harga jagung aktual harian dan bisa panen setiap pekan. Soalnya ada industri pakan ternak yang bilang harga jagung Rp6.200/kg dengan alasan belum panen sehingga butuh impor. Buktinya ribuan hektare tanaman jagung panen semua. Saat harga seperti inilah para industri pakan itu membeli jagung kepada petani,” tambahnya.

Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah Sardjananto mengatakan produksi jagung di Jateng pada 2019 ditargetkan mencapai 3,6 juta ton atau meningkat sekitar 15% dari capaian produksi jagung di 2018 sebanyak 3,45 juta ton. “Tahun lalu, Jateng surplus jagung sampai 500.000 ton,” ujarnya saat ditemui solopos.com, Selasa siang.

Asisten II Setda Sragen, Suharto, mengatakan pada musim tanam I 2018/2019 luas tanaman jagung di Sragen mencapai 8.156 hektare. Dia melanjutkan produktivitas jagung di Sragen rata-rata 7 ton per hektare jagung pipil kering.

“Kami memperkirakan pada musim panen ini produksi jagungnya mencapai 57.002 ton. Pada tahun lalu produksi jagung di Sragen mencapai 174.000 ton dengan luas panen 24.500 hektare,” katanya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten