Pengunjung menyaksikan matahari di Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Magelang Jawa Tengah, Selasa (1/1/2019). (Antara-Anis Efizudin)

Solopos.com, SEMARANG — Kementerian Pariwisata (Lemenpar) menargetkan jumlah wisatawan mancanegara (wisman) ke Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (Jateng-DIY) mencapai 2 juta orang pada 2020. Dengan begitu, potensi devisa yang bisa diraih mencapai US$2 miliar atau Rp30 triliun.

“Potensi pemasukan mencapai US$2 miliar atau sekitar Rp30 triliun, beredar di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Pendapatan ini tentunya akan lebih banyak ke masyarakat,” papar Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam siaran pers yang diterima Jaringan Informasi basnia Indonesia (JIBI) di Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (23/8/2019).

Oleh karena itu, Arief menilai perlu mempercepat pembangunan dari sisi atraksi, amenitas, dan aksesibilitas. Di samping pengembangan tersebut, faktor penentu keberhasilan pariwisata adalah akses.

Bandara Adisutjipto Yogyakarta sebagai akses utama sudah melampaui kapasitas dari normalnya 1,5 juta penumpang menjadi 6 juta penumpang. Peningkatan load factor hingga empat kali lipat ini tentunya dapat menjadi masalah.

Oleh karena itu, Kemenpar juga akan mengecek kesiapan Bandara Internasional Yogyakarta di Kulon Progo, untuk menunjang akses kedatangan wisman. Pemerintah memberikan anggaran tambahan senilai Rp6,4 triliun untuk lima destinasi super prioritas, termasuk kawasan Borobudur senilai Rp1,5 triliun. Dana tersebut digunakan sebagai pengembangan infrastruktur dasar yang diharapkan rampung pada 2020.

“Tahun lalu, Kementerian PUPR menganggarkan untuk sektor pariwsata di Borobudur Rp300 miliar, dan naik lima kali lipat pada 2020. Untuk itu Pemerintah daerah harus memanfaatkan dengan baik. Targetnya infrastruktur dan utilitas dasar harus selesai 2020,” ungkap Arief.

Direktur Utama Badan Otoritas Borobudur (BOB) Indah Juanita mengatakan, pihaknya juga mengembangkan konsep glamorous camping atau glamping di Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo. Dalam glamping, segala kemewahan penginapan tetap ada tanpa kehilangan sensasi berkemah.

“Di sini nanti yang akan kita bangun pameran nomadic, ada rumah pohon sama homepod jadi itu tipe-tipe nomadic tourism, terus kami juga akan bikin green house yang bisa memproduksi anggrek khas Perbukitan Menoreh,” tuturnya.

Dia menjelaskan BOB berusaha agar lingkungan masyarakat bisa dilibatkan dalam setiap pengembangan pariwisata setempat. Hal itu juga bertujuan menjaga kearifan lokal.

“Kita pakai sumber yang ada di sini. Terus menjaga kearifan lokal termasuk makanan khas atau permainan anak-anak itu juga kearifan lokal,” imbuhnya.

http://semarang.solopos.com/">KLIK dan https://www.facebook.com/SemarangPos">LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten