Peserta mengikuti pelatihan desain grafis yang diselenggarakan Badan Otorita Borobudur (BOB) didukung Kementerian Pariwisata di Museum Manusia Purba Sangiran, Senin (16/9/2019) (Muh. Khodiq/Solopos)

Solopos.com, KALIJAMBE — Kementerian Pariwisata (Kemenpar) melalui Badan Otorita Borobudur (BOB) mendorong terbentuknya ikon kuliner di Situs Sangiran. Berkaitan dengan itu, BOB menggelar pelatihan peningkatan kapasitas usaha masyarakat pariwisata bidang kuliner dan desain grafis di Museum Manusia Purba Sangiran, Kalijambe, Sragen, Senin-Selasa (16-17/9/2019).

Kabid Pengembangan Masyarakat Pariwisata, Debuti Pengembangan Industri dan Kelembagaan, Kemenpar, Ambbarrukmi, mengakui selama ini belum ada ikon kuliner di Situs Sangiran. Kebanyakan wisatawan masih bingung untuk berburu kuliner di Sangiran karena dinilai tidak ada yang istimewa. “Jangan sampai yang bisa dinikmati wisatawan hanya mi instan atau mie goreng yang diolah biasa. Harus ada ikon kuliner yang akan selalu diingat oleh wisatawan. Bentuknya seperti apa? Itu nanti bisa dibahas dalam pelatihan ini,” papar Ambarrukmi pada kesempatan itu, Senin.

Kepala Divisi Infrastruktur dan Aksesibilitas BOB, Wisnu Yudananto, mengatakan selain butuh ikon kuliner, para pelaku pariwisata juga butuh keterampilan khusus dalam membuat cinderamata. Salah satu cinderamata yang khas dari Situs Sangiran adalah aneka kerajinan tangan yang terbuat dari bahan batu alam. Kendati demikian, dalam beberapa tahun terakhir, terjadi penurunan minat warga sekitar untuk mengolah kerajinan berbahan dasar batu alam ini.

“Yang sekarang lagi ngetren itu cideramata dalam bentuk kaus. Namun, kalau kami amati, desain kaus itu masih biasa saja. Oleh sebab itu, mereka kami ajak belajar mendesain kaus. Harapannya, model kaus yang diproduksi mereka tidak itu-itu saja,” terang Wisnu.

Pelatihan kuliner dan desain grafis itu diikuti 50 peserta yang terbagi dalam dua kelompok. Mereka adalah warga sekitar yang sehari-hari bekerja sebagai produsen cinderamata dan pedagang kuliner di lima klaster museum manusia purba yakni Krikilan, Ngebung, Bukuran, Manyarejo dan Dayu.

“Kuliner di Situs Sangiran yang khas itu selama ini belum muncul. Kuliner yang ada saat ini masih umum, sama dengan daerah lain. Ini tantangan dalam pelatihan ini. Ikon kuliner itu harus diwujudkan supaya wisatawan betah berlama-lama di sini. Jadi, ikon Sangiran itu bukan hanya fosil manusia purba, tetapi juga ikon kulinernya,” jelas Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata, Disparpora Sragen, Muhtar Ahmadi.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten