Warga Jawa Timur berdemo menuntut penghapusan sistem zonasi pendaftaran peserta didik baru (PPDB) di depan Gedung Grahadi Surabaya, Rabu (19/6/2019). (Bisnis-Peni Widarti)

Solopos.com, JAKARTA -- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melakukan revisi kuota penerimaan peserta didik baru (PPDB) jalur prestasi dari sebelumnya hanya 5% menjadi rentang 5-15%.

"Berdasarkan arahan Presiden, maka diputuskan adanya fleksibilitas jalur prestasi atau yang berada di luar zona. Akhirnya kami putuskan dibuat rentangnya dari 5% hingga 15% untuk jalur prestasi," ujar Sekretaris Jenderal Kemendikbud Didik Suhardi PhD di Jakarta, Kamis (20/6/2019).

Diubahnya rentang untuk jalur prestasi tersebut untuk menampung siswa-siswa yang memiliki prestasi yang ingin sekolah di sekolah yang berada di luar zonanya. Revisi itu dilakukan pada Permendikbud No 51/2018 tentang penerimaan peserta didik baru TK, SD, SMP, SMA, dan SMK.

Didik menambahkan revisi tersebut sudah dibawa ke Kemenkumham dan diperkirakan selesai pada Jumat (21/6/2019). Kemendikbud segera mengirim surat edaran kepada dinas pendidikan di daerah. Harapannya, daerah yang masih bermasalah PPDB bisa menemukan solusi.

"Untuk daerah yang PPDB-nya tidak bermasalah, tidak perlu mengikuti revisi ini," ujar dia.

Dalam kesempatan itu, Didik menambahkan Kemendikbud telah mengumpulkan kepala lembaga penjamin mutu pendidikan (LPMP) dari seluruh Indonesia. Dari situ, diketahui bahwa persoalan PPDB dikarenakan sejumlah orang tua yang tidak puas karena anaknya tidak tertampung di sekolah favorit padahal memiliki prestasi yang baik.

Menurut Didik, aturan baru tentang zonasi ini memperluas sekolah favorit sehingga bisa diakses siswa dari semua kalangan. Sekolah favorit bukan karena muridnya yang bagus melainkan proses pembelajaran di sekolah itu sehingga menghasilkan murid yang bagus pula.

"Untuk itu semua pihak mendukung kebijakan zonasi ini. Apalagi sekolah publik, tidak membedakan siapapun. Tidak hanya anak pintar, tetapi anak yang rumahnya tidak jauh dari sekolah itu harus bisa ditampung. Jadi tidak ada diskriminasi," kata Didik.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten