Pengguna jalan melintas di dekat Monumen Susu Tumpah di kawasan Pasar Kota Boyolali, Sabtu (6/10/2018). (Solopos-Akhmad Ludiyanto)

Solopos.com, JAKARTA - Pemerintah Kabupaten Boyolali berencana menggelar upacara hari jadi yang ke-172 bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri. Kemendagri menilai upacara itu tidak tepat dilaksanakan jika mengganggu kepentingan umum.

"Jika pagelaran upacara tersebut akan mengganggu kepentingan umum dan kurang bermanfaat untuk kesejahteraan dan ketertiban masyarakat, itu tidak elok dan tidak sesuai dengan asas umum pemerintahan yang baik," kata Plt Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri, Akmal Malik, dilansir Detik.com, Jumat (31/5/2019).

Pada prinsipnya, menurut Akmal, penyelenggaraan pemerintahan harus sesuai dengan asas kemanfaatan kepentingan umum. Asas itu perlu diwujudkan dalam rangka mewujudkan pemerintah yang baik.

"Penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik dalam kebijakan otonom daerah, harus sesuai dengan asas pemerintahan yang baik sebagaimana diatur dalam pasal 10 UU No 30 tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan, salah satunya administrasi pemerintahan harus sesuai dengan asas umum pemerintahan yang baik, antaranya asas kemanfaatan dan asas kepentingan umum," jelas Akmal.

Akmal mengatakan Kemendagri sampai saat ini masih memantau kontroversi pelaksanaan upacara hari jadi Boyolali yang ke-172. Menurut Akmal, Kemendagri juga berencana meminta penjelasan dari Pemprov Jawa Tengah. "Kita tentunya mencermati fenomena tersebut, dan saat ini sedang kita konfirmasi dengan Pemprov Jateng. Kita akan jelaskan," ujarnya.

Sebelumnya, rencana Pemkab Boyolali menggelar upacara hari jadi ke-172 bertepatan dengan 1 Syawal atau Hari Raya Idul Fitri, menuai protes. Sejumlah orang yang tergabung dalam Forum Umat Islam Boyolali (FUIB) mengajukan keberatan atas rencana tersebut.

FUIB mendatangi kantor Sekretariat Daerah (Setda) Boyolali hari ini. Mereka juga meminta upacara diundur. "Kami memberikan masukan. Yang pertama, mengajukan keberatan atas pelaksanaan (upacara) Hari Jadi Boyolali yang bertepatan dengan 1 Syawal atau 5 Juni (2019)," kata Ketua FUIB, Hufron Rofa'i, ditemui usai audiensi dengan Sekda di ruang rapat kantor Setda Boyolali, Jumat (31/5/2019).

Masukan tersebut disampaikan karena 1 Syawal adalah Hari Raya Umat Islam dan merupakan hari yang sangat sakral.

"Kita sudah terbiasa, setelah salat Ied itu kita ngumpul sama mertua, bapak ibu, sowan untuk saling maaf memaafkan, untuk saling bersilaturahmi dari tetangga ke tetangga yang lain. Itu sudah menjadi tradisi kita bersama," jelas Hufron.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten