Darmayanti dan tiga anaknya berada di pintu rumahnya di Desa Andobeu Jaya, Kecamatan Anggomoare, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, Kamis (7/11/2019). Mereke belum pernah mendapatkan bantuan apapun dari Dana Desa. (Antara - Jojon)

Solopos.com, JAKARTA -- Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mengungkapkan hasil temuan tim investigasi yang telah diterjunkan ke Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, terkait dugaan desa fiktif di wilayah tersebut.

Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Pemerintahan Desa Kemendagri Nata Irawan mengatakan empat desa di Kabupaten Konawe tersebut pada dasarnya tidak fiktif, tapi tata kelola pemerintahannya tidak optimal karena cacat hukum.

“Tidak fiktif, kita garis bawahi tidak fiktif, desa tersebut ada. Oleh karenanya kami lihat di lapangan, desa tersebut ada dan tidak fiktif. Hasil temuan yang kami dapat, ternyata desa tersebut ada tetapi tidak berjalan tata kelola pemerintahannya secara optimal,” kata Nata di Jakarta, Senin (18/11/2019).

Nata menegaskan, lewat verifikasi kondisi riil di lapangan, baik secara historis dan sosiologis, dipastikan bahwa 56 desa tersebut ada.

Namun tim mendapatkan data dan informasi bahwa penetapan Perda No 7/2011 Tentang Perbahan atas Peraturan Daerah Kabupaten Konawe No 2/2011 Tentang Pembentukan dan Pendefinitifan Desa-Desa dalam Wilayah Kabupatan Konawe tidak melalui mekanisme dan tahapan di DPRD.

“Kami sepakat betul Perda yang dilakukan Bupati Konawe cacat hukum, karena tidak melalui mekanisme dari DPRD. Oleh karenanya harus kita perbaiki, benahi administrasinya,” ujarnya.

Desa Fiktif Diungkap Sri Mulyani, Menteri Desa Mengaku Bingung

Register perda di Sekretariat DPRD Kabupaten Konawe yakni Perda No 7/2011 tersebut adalah Perda Pertanggungjawaban Pelaksanaan Anggaran dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2010 sehingga 56 desa yang tercantum dalam perda tersebut secara yuridis dikatakan cacat hukum.

Nata menuturkan, karena diduga bermasalah dan berpotensi menimbulkan kerugian negara, maka 56 desa tersebut baik kepala desa maupun perangkat desanya telah diminta keterangan dan didalami lebih lanjut oleh pihak yang berwajib yaitu Polda Sulawesi Tenggara.

“Sesuai MOU antara Mendagri dan Kapolri, kalau menyangkut aspek hukum, maka akan dilakukan proses hukum. Kalau dalam waktu 60 hari telah ditangani APIP, seandainya ada cacat hukum dan administrasi maka sepenuhnya atas izin Mendagri, aparat penegak hukum [APH] dapat mengambil langkah,” ujarnya.

Lebih lanjut, dia menerangkan fakta yang didapatkan dari klarifikasi dan pendalaman keterangan dari pihak yang berwajib, terdapat 34 desa memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai desa. Selanjutnya 18 desa masih perlu pembenahan dalam aspek administrasi dan kelembagaan serta kelayakan sarana dan prasaran desa.

Sedangkan empat desa yaitu Desa Arombu Utama, Kecamatan Latoma; Desa Lerehoma, Kecamatan Anggaberi; Desa Wiau, Kecamatan Routa; dan Desa Napooha, Kecamatan Latoma, ditemukan dalam proses pendalaman hukum lebih lanjut. Hal ini karena empat desa tersebut terdapat inkonsistensi data jumlah penduduk dan luas wilayah desa.

Bantah Sri Mulyani, Menteri Desa Bantah Desa Fiktif Pemakan Dana Desa

Hasil kelanjutan pendalaman dari empat desa tersebut, dua desa yaitu Desa Wiau, Kecamatan Routa; dan Desa Napooha, Kecamatan Latoma, masih perlu dilakukan pendalaman secara intensif.

“Terkait anggaran, tim mendapatkan data dan informasi bahwa empat desa tersebut telah disalurkan Dana Desa [DD] dari Rekening Kas Umum Negara [RKUN] ke Rekening Kas Umum Daerah [RKUD] sebesar Rp9.327.907.054. Namun demikian baru sebesar Rp4.350.045.854 atau [47%] yang telah disalurkan dari RKUD ke-4 Rekening Kas Desa [KUD], sehingga masih tersisa dalam RKUD sebesar Rp4.977.861.200 atau [53%]. Selanjutnya sejak tahun 2014 sampai dengan tahun 2018 ADD atau Bantuan Keuangan telah dianggarkan di APBD dan disalurkan kepada empat Desa tersebut sebesar Rp899.102.180,” bebernya.

Penambahan Desa

Nata menjelaskan, tim yang turun ke lapangan juga menemukan bahwa aktivitas pemerintahan desa tidak berjalan dengan baik karena kepala desa dan perangkat desa tidak mendapatkan penghasilan yang sesuai aturan. Selain itu ada juga kesenjangan penghasilan antara kepala desa beserta perangkatnya dengan pendamping lokal desa yang notabene tidak membantu dan tidak selalu hadir di lapangan.

“Tim mendapatkan data dan informasi dari perangkat desa yang dapat ditemui bahwa pembinaan secara menyeluruh terkait dengan tata kelola pemerintahan desa tidak dilaksanakan oleh kepala daerah baik gubernur sebagai wakil pemerintah pusat, maupun bupati sebagai pembina langsung pemerintahan desa di Kabupaten Konawe,” imbuhnya.

Awas! Desa Siluman Pemakan Dana Desa Mulai Ditelusuri Kemenkeu

Berdasarkan Permendagri No 56/2015 Tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan, disebutkan jumlah desa di Kabupaten Konawe sebanyak 241. Dua tahun kemudian berdasarkan Permendagri No 137/2017 jumlah desa menjadi 297 atau ada penambahan sebanyak 56 desa.

Dasar penambahan desa tersebut adalah Surat Gubernur Sulawesi Tenggara No 140/3188 tertanggal 10 Juli 2015 perihal Rekomendasi Kode Wilayah Desa di Kabupaten Konawe.

“Mempedomani UU No 6/2014 tentang Desa disebutkan dalam pasal 116 ayat (1) menyatakan bahwa desa yang sudah ada sebelum lahirnya UU No 6/2014 tetap diakui sebagai desa. Maka 56 desa tersebut secara historis dan sosiologis sah sebagai desa,” pungkasnya.

Paparan tersebut berdasarkan hasil investigasi Tim Gabungan Kemendagri yang terdiri dari Inspektorat Jenderal, Ditjen Bina Pemerintahan Desa, Ditjen Bina Administrasi Wilayah, dan Biro Hukum Setjen Kemendagri.

Sri Mulyani Ungkap Banyak Desa Siluman Demi Dana Desa

Tim bertugas untuk melakukan kunjungan langsung ke lapangan serta berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan Polda Sulawesi Tenggara. Mereka mencari data lapangan terkait 56 desa yang diindikasikan bermasalah di Konawe.

Sumber: Bisnis/JIBI


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten