Kematian babi di Kupang akibat Collibasilosis

KUPANG: Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia Cabang Nusa Tenggara Timur (NTT), Maria Geong menegaskan, kematian 20 ekor ternak babi di Kupang belum lama ini akibat terserang penyakit mencret (Collibasilosis).

"Kematian babi milik seorang peternak di Kupang itu tidak ada kaitan dengan isu flu babi yang menghebohkan dunia saat ini," katanya di Kupang, Jumat (1/5), ketika dikonfirmasi soal kematian 20 ekor ternak babi secara mendadak itu.

Ia mengatakan, ketika merebaknya isu flu babi yang mengakibatkan puluhan orang di Meksiko meninggal dunia, para konsumen babi di NTT mulai cemas dan memilih untuk berhenti mengkonsumsi daging babi.

"Para konsumen daging babi dari Pulau Flores hampir sepanjang saat menelepon saya menanyakan masalah tersebut. Namun, saya menegaskan bahwa flu babi itu sulit berkembang biak di Indonesia, apalagi NTT yang suhu udaranya panas," katanya menjelaskan.

Geong menambahkan, hampir 80 persen penduduk NTT mengkonsumsi daging babi, namun dengan adanya isu flu babi, masyarakat mulai enggan untuk mengkonsumsi daging satwa berkaki empat itu.

Ia juga menegaskan bahwa NTT merupakan daerah produsen babi yang tidak pernah mendatangkan ternak babi dari luar NTT untuk dikembangkan di wilayah provinsi kepulauan ini, sehingga kasus flu babi tidak mungkin menjalar ke NTT seperti yang dikhawatirkan para konsumen.

Geong yang juga salah seorang pejabat di lingkungan Dinas Peternakan NTT itu mengatakan, saat ini NTT sedang menggalang sebuah kerja sama Australia untuk mengembangkan peternakan babi berskala besar di NTT.

"Saat ini kita sedang melakukan penelitian serta mengkaji wilayah-wilayah di NTT yang cocok bagi pengembangan ternak babi dalam rangka mendukung kerja sama dimaksud," katanya.

Ia menegaskan, Australia berkepentingan dalam pengembangan ternak babi di NTT, karena negeri Kanguru itu bebas dari penyakit "Hog Collera" atau demam klasik babi yang kerap disebut sampar babi.

"Australia memandang NTT sangat potensial bagi pengembangan ternak babi, selain ternak sapi yang sudah populer di daerah ini," katanya menambahkan. (Antara)

Avatar
Editor:
Budi Cahyono


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom