Kemarau Panjang Dikhawatirkan Ancam Ketersediaan Air Baku PDAM Solo
ilustrasi air PDAM. (Solopos-Dok)

Solopos.com, SOLO—Memasuki musim kemarau, debit air Sungai Bengawan Solo menyusut drastis. Perumda Air Minum Toya Wening (PDAM) Solo mewaspadai kondisi tersebut dapat berpengaruh terhadap ketersediaan air baku. Direktur Teknik PDAM Solo, Tri Atmojo Sukomulyo, mengatakan berkaca dari pengalaman tahun lalu, kondisi debit air yang berkurang membuatnya tak bisa diolah karena tercemar polutan parah.

“Senin [17/6/2019] sore, saya mengecek saluran intake Instalasi Pengolahan Air (IPA) Semanggi, dekat hulu Kali Samin. Alhamdulillah, debit dari Kali Samin masih besar, sehingga air bakunya bisa diolah. Tapi, enggak tahu bagaimana pekan depan. Kami tetap waspada, mengingat kemarau yang panjang,” kata dia, kepada Solopos.com, Selasa (18/6/2019).

Tri Atmojo menyampaikan pada November 2018, kondisi air baku yang berwarna hitam membuatnya sulit diolah. Hasil pengolahan masih berbau, dengan tingkat kekeruhan di atas 5 Nephelometric Turbidity Unit (NTUs, satuan standar untuk mengukur kekeruhan). Akibatnya, ribuan pelanggan PDAM tak bisa mendapatkan suplai air dari IPA Jebres dan Jurug. PDAM harus menyuplai air bersih langsung ke pelanggan menggunakan truk tangki.

Saat ini, sambung dia, PDAM telah mengoperasikan tiga IPA dengan kapasitas beragam. IPA Jebres dan Jurug mampu memproduksi air bersih dengan debit 150 liter per detik, sementara IPA Semanggi 60-80 liter per detik. Debit pengolahan tersebut masih di angka normal. Guna mengatasi persoalan serupa ke depan, pihaknya tengah menyiapkan intake baru dengan harapan lebih bebas polutan.

“Lokasi intake baru IPA Semanggi itu sekitar satu kilometer dari hulu Kali Samin. Kami tengah berbicara mengenai rancangan DED [detail engineering design] bersama konsultan dan satuan kerja [satker] terkait. Rencananya pembuatan intake ini dikerjakan pada 2020, enggak bisa langsung karena menggunakan APBN [anggaran pendapatan belanja negara],” jelas Tri Atmojo.

Sebelumnya, Direktur Utama PDAM Solo, Maryanto, menyebut rancangan tersebut menjadi prioritas Perum Jasa Tirta (PJT) I dan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS). Perbaikan sistem penyadapan air yang akan dialirkan ke IPA diharapkan mengatasi masalah pencemaran air baku Sungai Bengawan Solo.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya








Kolom