Kategori: Klaten

KEMACETAN LALU LINTAS: Timbulkan Keruwetan, Traffic Light Diusulkan Diganti


Solopos.com/Farid Syafrodhi/JIBI/SOLOPOS

Ilustrasi (JIBI/SOLOPOS/Burhan Aris Nugraha)
KLATEN — Traffic light atau sering disebut lampu bangjo di sejumlah titik jalur Solo-Jogja di Klaten, dinilai tidak memperhatikan beban arus kendaraan. Akibatnya menimbulkan kemacetan.

Kasatlantas Polres Klaten, AKP Yuswanto Ardi, mewakili Kapolres Klaten, AKBP Kalingga Rendra Raharja, menilai bangjo yang seharusnya menjadi pemecah masalah kemacetan justru di Klaten menjadi sumber kemacetan. Ia mengusulkan ke Dinas Perhubungan, jika memungkinkan, sejumlah bangjo di Klaten bisa diganti dengan model traffic light yang bersdasarkan volume arus kendaraan. “Sebab kalau traffic light tidak memperhatikan beban simpang lintas kendaraan, bukan justru memperlancar, tapi mengurangi kapasitas jalan,” ujar Ardi.

Ia melanjutkan, jalan yang seharusnya bisa dilalui oleh 400 kendaraan per menit, tapi karena ada pembatasan oleh traffic light, kendaraan yang lewat hanya mencapai 250 kendaraan per menit. Hal itu terjadi karena fasilitas terebut dipasang begitu saja dan tidak memperhatikan volume arus.

Di traffic light dekat Sub Terminal Penggung, Kecamatan Ceper, misalnya, secara rekayasa sudah ideal karena sudah ada alat pemberi isyarat lalu lintas (APILL) yang lengkap. Namun selalu saja di daerah tersebut masih terjadi kecelakaan. “Termasuk kawasan black spot yang aneh itu,” jelas Kasatlantas.

Pada saat udik lebaran 2012 ini, pihaknya memprediksi sejumlah titik rawan macet. Titik tersebut seperti di simpang empat Prambanan, simpang empat Bendogantungan dan arah ke jalan lintas selatan melewati rel kereta api (KA) Krapyak. Disinyalir lintasan KA di Krapyak itu juga menjadi titik kemacetan karena kendaraan berjalan pelan. Selain itu, tinggi rel dan jalan raya terpaut delapan centimeter. Simpang empat di depan kantor DPD Golkar Klaten juga sebetulnya tidak perlu dipasangi, karena jaraknya masih berdekatan dengan traffic light di Bendogantungan.

Selanjutnya di simpang tiga Ngaran, Desa Mlese, Kecamatan Ceper, traffic light dari arah Trucuk juga terlalu lama. “Lalu di Kepoh juga. Buat apa dibikin traffic light. Sebenarnya itu ditutup saja tidak masalah,” katanya.

Jika dulu saat pemasangan APILL sudah ada koordinasi dengan Satlantas, maka pihaknya akan memberi masukan. Pasalnya, pemasangan APILL harus memperhatikan hitungan dengan memperhatikan beban jalan. Bila beban lalu lintasnya tidak terlalu besar, kata dia, maka jalan itu cukup diberi lampu peringatan dan tak perlu ada traffic light.

Share
Dipublikasikan oleh
R. Bambang Aris Sasangka