KELUARGA BERENCANA : Ini Penyebab Tingginya Angka DO KB di Boyolali
Ilustrasi (JIBI/Harian Jogja/Antara)

Keluarga berencana Boyolali, angka DO peserta KB meningkat.

Solopos.com, BOYOLALI--Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) mencatat tingginya angka drop out (DO) program keluarga berencana (KB) oleh peserta KB aktif di Boyolali.

Pada 2014, angka DO KB mencapai 15,02 % dari peserta KB aktif sebanyak 122.135 orang. Artinya, dari peserta KB aktif sebanyak 122.135 orang, 18.344 orang menghentikan program KB.

Pada 2015, angka DO KB menurun menjadi 9,76 % dari peserta aktif 141.190 orang atau ada 13.780 orang yang berhenti dari program KB. “Meskipun ada penurunan, namun angka tersebut masih dikategorikan tinggi,” kata Kepala BP3AKB Boyolali, Dasih Wiryastuti, kepada Solopos.com, akhir pekan lalu.

BP3AKB mulai menyikapi tingginya angka DO KB. DO KB disebabkan banyak faktor. “Ada yang ingin segera memiliki anak lagi, yang bersangkutan ingin segera hamil, bahkan ada yang tidak cocok dengan salah satu alat kontrasepsi karena yang bersangkutan memiliki penyakit darah tinggi,” jelas Dasih.

Menurut Dasih, jika tindakan DO KB tidak segera direspons dan ditindaklanjuti, akan mengakibatkan ledakan jumlah penduduk di Boyolali. Tingkat kelahiran tinggi akan menghambat target perkiraan permintaan masyarakat sekaligus akan meningkatkan laju pertumbuhan penduduk.

Dia meminta petugas lapangan KB  yang ada di masing- masing kecamatan untuk melakukan sosialisasi terkait arti pentingnya program KB bagi pasangan usia subur.  Selain itu BP3AKB akan meningkatkan intensitas sosialisasi langsung kepada masyarakat dan peningkatan peran  pembantu KB di tingkat desa.

Namun demikian Dasih mengakui petugas lapangan KB di Boyolali sangat terbatas. Saat ini jumlah petugas lapangan KB di Boyolali hanya 25 orang yang harus mengampu program KB di 267 desa dan kelurahan. Satu petugas mengampu sepuluh desa bahkan ada yang lebih dari sepuluh desa.

Petugas lapangan KB sering kewalahan dalam melaksanakan tugas. “Memang idealnya satu orang petugas KB maksimal mengampu dua desa. Dari 25 petugas layanan KB, 12 petugas di antaranya akan pensiun tahun depan. Jadi tinggal 13 petugas,” kata Dasih.

BP3AKB berharap kepada Bupati Boyolali melalui Badan Kepegawaian Daerah (BKD) menambah petugas lapangan KB sehingga ke depan petugas KB semakin kuat sekaligus bisa menyukseskan  program KB di Boyolali.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom