KEKERINGAN WONOGIRI : Debit Air 7 Waduk Menyusut

Rabu, 27 Mei 2015 - 01:10 WIB Penulis: Muhammad Ismail Jibi Solopos Editor: Septina Arifiani | Solopos.com

SOLOPOS.COM - Debit air di Waduk Krisak, Selogiri, mulai menyusut akibat musim kemarau, Selasa (26/5). Menyusutnya air waduk itu membuat pengelola waduk menerapkan sistem buka tutup pintu air untuk irigasi pertanian. (Muhammad Ismail/JIBI/Solopos)

Kekeringan Wonogiri mengancam. Musim kemarau yang baru saja terjadi beberapa pekan membuat tujuh waduk mulai menyusut.

Solopos.com, WONOGIRI — Musim kemarau baru berlangsung beberapa pekan. Namun, debit air tujuh waduk untuk irigasi di Wonogiri mulai menyusut. Pemkab meminta petani berhemat dalam pemakaian air.

Kepala Bagian (Kabid) Pengairan Dinas Pengairan Energi dan Sumber Daya Mineral (PESDM) Wonogiri, Juwarso, mengatakan di Wonogiri ada tujuh waduk yang dikelola Pemkab. Tujuh waduk itu yakni Nawangan di Kecamatan Giriwoyo), Songputri (Eromoko), Plumbon (Eromoko), Parangjoho (Eromoko), Kedung Uling (Eromoko), Krisak (Selogiri), dan Ngancar (Batuwarno).

“Tujuh waduk itu dibangun untuk mengairi lahan pertanian seluas 4.142 hektare,” ujar Juwarso saat ditemui Solopos.com di ruang kerjanya, Selasa (26/5/2015).

Dia mengatakan air di tujuh waduk itu saat ini mulai menyusut akibat musim kemarau. Surutnya air itu terjadi sejak tiga pekan lalu. Namun, berapa jumlah penyusutan air di tujuh waduk itu belum terdata.

“Berkurangnya air di tujuh waduk di Wonogiri itu membuat penjaga pintu waduk mulai menerapkan sistem bergilir dalam pengairan lahan pertanian,” kata dia.

Dia mengatakan pola tanaman padi di Wonogiri sudah diatur sedemikian rupa untuk mengantisipasi gagal panen akibat musim kemarau. Pola tanam di Wonogiri berdasarkan Surat Keputusan (SK) Bupati Wonogiri yakni padi dan palawija.

“Selama SK itu dipatuhi petani, kami pastikan tidak sampai terjadi gagal panen,” ujar Juwarso.

Dia mengatakan pada musim tanam (MT) II ini umur tanaman padi rata-rata 20 hari sampai 30 hari. Pada umur itu tanaman padi membutuhkan banyak air sehingga petani diminta selalu berkoordinasi dengan petugas penjaga waduk untuk pengaturan air.

“Pengalaman tahun lalu meskipun masuk musim kemarau pada MT II, petani masih bisa panen. Tahun ini kami optimistis petani bisa panen,” papar dia.

Dia mengakui berdasarkan pengalaman tahun lalu, pada MT III banyak petani yang nekat menanam padi dengan alasan lebih menguntungkan daripada palawija. Petani yang nekat menanam padi itu akhirnya gagal panen.

Penjaga pintu Air Waduk Krisak Selogiri, Aris Sasono, mengatakan ketinggian air di Waduk Krisak berkurang dalam tiga pekan terakhir. Jika sebelumnya ketinggian air masih 12,70 meter dari dasar waduk, sekarang berkurang jadi 11,33 meter. Berkurangnya ketinggian air itu memengaruhi debit limpasan air menjadi hanya 216 meter kubik (m3) per detik.

“Air di Waduk Krisak mengairi lahan pertanian di empat desa yakni Nambangan, Jendi, Pule, dan Jaten. Kami terpaksa menerapkan sistem bergilir untuk irigasi pertanian selama lima hari setelah debit air menyusut,” papar dia.

 

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif