Warga Dukuh Grintingan, Desa Tegalmulyo, Kemalang, Klaten, mengangsu di dinding jurang Kali Gatok, Senin (28/10/2019). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN -- Jurang Kali Gatok di Dukuh Grintingan, Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Klaten, hampir selalu ramai setiap harinya. Tak terkecuali pada Senin (28/10/2019) siang.

Sekelompok ibu-ibu duduk di depan jeriken yang diletakkan miring menempel pada dinding jurang tersebut. Mulut jerikan dihadapkan ke atas ke arah pipa yang menjulur dari dinding jurang.

Air keluar dengan debit kecil (ithir-ithir) dari pipa tersebut. Akibatnya butuh waktu lama untuk mengisi satu jeriken hingga penuh.

Sembari bercengkerama dan momong anak, ibu-ibu itu menunggu jeriken terisi penuh. “Biasanya baru terisi penuh sekitar 30 menit untuk satu jeriken,” kata salah satu ibu bernama Giyami, 29, saat berbincang dengan Solopos.com, Senin.

Sangar! Umbul Ponggok Klaten Dikagumi Media Inggris dan China

Siang itu Giyami membawa tiga jerikan berukuran 20 liter dan 25 liter. Sudah dua jerikan dia isi sejak pukul 08.00 WIB hingga pukul 11.00 WIB. Selain air yang hanya ithir-ithir, proses mengisi seluruh jeriken jadi lebih lama lantaran Giyami harus bergantian dengan warga lainnya yang juga sudah mengantre. “Biasanya pukul 12.00 WIB saya sudah pulang,” kata Giyami.

Aktivitas mengangsu di tepi jurang saban hari dilakukan Giyami dan warga lainnya di Dukuh Grintingan saat kemarau tiba. Meski debit air yang keluar sangat kecil, air dari dinding jurang Kali Gatok menjadi andalan utama warga memenuhi kebutuhan air bersih keluarga.

“Air tiga jeriken hanya cukup untuk kebutuhan sehari bagi satu keluarga berisi empat orang. Jadi setiap hari datang ke sini. Selain untuk kebutuhan air bersih, air lebih banyak digunakan untuk ngombor sapi karena musim seperti ini cari rumput untuk pakan susah,” kata warga Dukuh Grintingan lainnya, Marni, 33.

Puting Beliung Terjang 2 Kecamatan di Sukoharjo, Puluhan Rumah Rusak

Jurang Kali Gatok berada 500 meter dari perkampungan di Grintingan yang berjarak 4 km dari puncak Gunung Merapi. Untuk menuju lokasi itu, warga melintasi ladang perkebunan.

Aksesnya berupa jalan setapak dari tanah dan plester. Jalan hanya cukup dilintasi satu sepeda motor. Dari tepi jurang, warga harus melewati jalan setapak serta anak tangga di tepi jurang yang hanya bisa diakses dengan berjalan kaki.

Sumber air itu berada pada dinding jurang. Air terus keluar ithir-ithir bahkan kadang hanya menetes. Air yang tak ditampung pada jeriken dialirkan ke bak penampungan yang sudah dilengkapi pompa.

Pada sisi atas dinding jurang akar-akar pohon menjalar. Dari tepi sumber air itu, dasar jurang sedalam lebih dari 100 meter terlihat ditumbuhi rumput serta pohon.

Mantap Maju Pilkada Wonogiri, Pengusaha Properti Ini Dekati 3 Parpol

Ketua RT 020/RW 006, Dukuh Grintingan, Desa Tegalmulyo, Kuat Rahmadi, 49, mengatakan Grintingan merupakan salah satu perkampungan di Tegalmulyo yang menjadi langganan krisis air bersih saat kemarau tiba.

Seperti pada tahun ini, krisis air bersih sudah melanda warga dukuh tersebut selama enam bulan. Menurut Kuat, mengangsu di jurang Kali Gatok sudah dilakukan warga secara turun temurun.

Kuat berharap ada uluran bantuan untuk menggali potensi air bersih dari Kali Gatok untuk mengatasi persoalan air bersih di Grintingan. “Inginnya itu seperti di kawasan jurang Kali Jero Omah di bawah kampung kami. Air dari jurang itu bisa disalurkan ke rumah warga melalui pipa-pipa. Sehingga warga tidak lagi mengangsu,” jelasnya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten