Kekeringan Mengintai Klaten, 13 Desa di 5 Kecamatan Alami Krisis Air Bersih
Ilustrasi kekeringan. (Solopos)

Solopos.com, KLATEN – Puncak kemarau di Klaten, sebanyak 13 desa di lima kecamatan mengalami krisis air bersih hingga memasuki pertengahan September. BPBD Klaten setidaknya sudah menyalurkan bantuan dropping air bersih sebanyak 373 tangki.

Belasan desa yang mengalami krisis air bersih itu yakni Kendalsari, Sidorejo, Tlogowatu, Tegalmulyo, serta Tangkil di Kecamatan Kemalang. Desa Bandungan dan Temuireng di Kecamatan Jatinom. Desa Kanoman di Kecamatan Karangnongko. Desa Gaden di Kecamatan Trucuk serta Desa Jambakan, Wiro, Ngerangan,dan Jarum di Kecamatan Bayat.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Klaten, Sri Yuwana Haris Yulianta, mengatakan373 tangki air bersih yang disalurkan BPBD ke 13 desa itu merupakan jumlah total sejak dropping air bersih tahun ini digulirkan mulai 8 Juli lalu hingga Selasa (15/9/2020). Penyaluran bantuan air bersih tetap bergulir beberapa bulan mendatang.

Haris mengatakan puncak kemarau tahun ini sebenarnya diprediksi terjadi pada Agustus-September. “Namun, kalau melihat kondisi kemarau tahun ini berbeda jika dibandingkan kemarau tahun lalu. Kemarau tahun ini kerap disebut dengan istilah kemarau basah,” kata Haris.

Bawaslu Klaten Ajak Warga Proaktif Awasi Indikasi Pelanggaran Pilkada

Jumlah desa yang mengajukan permintaan bantuan ke BPBD lantaran mulai mengalami krisis air bersih diperkirakan bertambah. “Yang jelas ketika ada pengajuan permintaan air bersih, kami tetap layani,” kata dia.

Truk tangki BPBD saban hari beroperasi menyalurkan air bersih ke desa-desa yang sudah mengajukan permintaan. Dalam sehari, BPBD menyalurkan kisaran delapan hingga 12 tangki air bersih dengan jumlah truk yang beroperasi saban hari sebanyak empat unit.

Anggaran APBD

Disinggung anggaran yang disediakan di APBD Klaten untuk menyalurkan bantuan air bersih memasuki kemarau tahun ini, Haris menjelaskan sekitar Rp242,9 juta yang diperkirakan cukup untuk menyediakan air bersih sebanyak 1.000 tangki.

BPBD optimistis anggaran tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan penyaluran air bersih hingga masa siaga darurat bencana kekeringan tahun ini berakhir pada 30 November mendatang. Hingga Selasa, sekitar 37 persen dari total kuota bantuan air bersih yang disiapkan sudah tersalurkan.

12 Tahun Mati Suri, Warga Bukuran Sragen Bangkitkan Kesenian Rodat

“Kami perkirakan anggaran yang disediakan masih mencukupi,” tutur dia.

Haris menjelaskan dunia usaha tetap bisa berkontribusi menyalurkan bantuan air bersih guna meringankan beban warga yang kesulitan mendapatkan air bersih.

“Seandainya ada dunia usaha yang minta dibantu atau difasilitasi BPBD ketika akan menyalurkan bantuan ke daerah krisis air berish, kami persilakan dan bisa dibantu dari tim dropping BPBD pada Sabtu atau Minggu,” kata dia.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom