Ilustrasi sawah kering saat musim kemarau. (Bisnis-Rahmatullah)

Solopos.com, NGAWI -- Sebanyak 45 desa di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, dinilai rawan mengalami kekeringan pada musim kemarau 2019 ini.  Jumlah desa rawan kekeringan itu meningkat ketimbang tahun sebelumnya yakni 30 desa.

Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ngawi, Teguh Puryadi, mengatakan pada tahun 2018 terdapat 30 desa di Ngawi yang terdampak kekeringan, tetapi tahun ini diperkirakan bertambah menjadi 45 desa.

"Hasil pemetaan BPBD, sebanyak 15 desa berpotensi dilanda kekeringan pada tahun ini di samping data tahun 2018 yang telah terpetakan 30 desa. Jadi total diperkirakan terdampak kekeringan ada 45 desa," ujar Teguh kepada wartawan, Jumat (14/6/2019).

Dia menambahkan 15 desa yang terpetakan baru terdampak kekeringan di tahun 2019 itu tersebar di tujuh kecamatan. Paling banyak di wilayah Kecamatan Pitu, yakni empat desa.

Sementara, 30 desa terdampak kekeringan tahun 2018 tersebar di delapan kecamatan. Jumlah tersebut sesuai data desa yang menerima bantuan air bersih dari Pemprov Jatim.

"Tahun ini ada tambahan 15 desa yang diusulkan mendapatkan bantuan pengiriman air bersih dari Pemprov Jatim," kata dia.

Teguh Puryadi menjelaskan sejumlah wilayah di Ngawi saat ini sudah masuk musim kemarau. Bahkan, dia menambahkan sejumlah desa telah mengajukan bantuan air bersih ke BPBD Ngawi karena sumber-sumber air warga mengering.

Di antaranya desa yang telah mengajukan bantuan air bersih adalah Desa Pelanglor di Kecamatan Kedunggalar. Pelanglor telah dimasukkan ke tambahan 15 desa yang mengalami krisis air bersih tahun 2019.

Menurut Teguh Puryadi, pihaknya terus melakukan pemantauan selama musim kemarau, terlebih di 45 desa yang dilaporkan rawan kekeringan di tahun ini. Ia memastikan semua desa yang mengajukan bantuan air nantinya dapat memperoleh pasokan air bersih.

Ia menambahkan, berdasarkan surat edaran Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Juanda Surabaya, puncak musim kemarau di Ngawi diprediksi terjadi bulan Agustus mendatang. Puncak kemarau itu maju sebulan dibandingkan tahun 2018 yang terjadi pada bulan September.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten