Kedatangan Gubernur Ganjar Ke Lereng Merapi Balerante Klaten Disambut "Entut Dewa"
Suasana lereng Gunung Merapi yang berkabut, Selasa (19/1/2021) sore. (Solopos/Ponco Suseno)

Solopos.com, KLATEN -- Lereng Gunung Merapi sekitar barak pengungsian Balerante, Kecamatan Balerante, Klaten, mendadak berkabut pada Selasa (19/1/2021) sore. Warga menyebut kabut tersebut dengan istilah entut dewa.

Berdasarkan pantauan Solopos.com, lereng Gunung Merapi diselimuti kabut tebal, Selasa (19/1/2021) pukul 15.00 WIB. Saat itu, kabut tebal tak hanya menyelimuti kawasan rawan bencana (KRB) III Balerante.

Kabut tebal juga menyelimuti hingga barak pengungsian alias tempat evakuasi sementara (TES) Balerante. Kondisi ini terjadi menjelang kunjungan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, ke barak pengungsian di Balerante, Selasa (19/1/2021) pukul 16.30 WIB.

KPU Solo Hanya Undang PDIP Pada Rapat Penetapan Cawali-Cawawali Terpilih, Ini Alasannya

Kabut tebal yang disebut entut dewa itu seolah menyambut kedatangan orang nomor satu di Jawa Tengah tersebut. Setelah diselimuti kabut tebal, wilayah lereng Merapi Desa Balerante, Klaten, diguyur hujan sekitar pukul 15.41 WIB.

Selama hujan, kabut tetap menyelimuti Balerante. "Kabutnya baru turun. Kalau orang-orang menyebutnya sebagai entut dewa," kata salah seorang warga Balerante, Rukinu, 62, kepada Solopos.com, Selasa (19/1/2021).

Koordinator Pengungsi Balerante, Jainu, mengatakan turunnya kabut hingga ke kompleks balai desa yang menjadi barak pengungsian jarang terjadi di daerahnya. Biasanya, situasi berkabut tersebut hanya terjadi hingga bagian atas alias KRB III Balerante.

Hujan Abu, Petani Tegalmulyo Klaten Buru-Buru Selamatkan Tanaman

Jarang Terjadi

"Kabut tebal sampai ke barak pengungsian ini jarang terjadi. Tapi, hal ini tak ada kaitannya dengan kondisi Gunung Merapi sekarang. Ini bukan tanda-tanda atau indikator kondisi Gunung Merapi. Kabut tebal ini terjadi karena sedang musim hujan saja. Jadi bukan pengaruh Merapi," katanya.

Sebelum kawasan lereng Merapi Desa Balerante, Klaten, berselimut kabut sore itu, hujan abu tipis melanda kawasan rawan bencana (KRB) III, Selasa (19/1/2021) pagi. Meski begitu, masyarakat desa tersebut tetap tenang.

Informasi dari BPPTKG, awan panas guguran Gunung Merapi terjadi pada 19 Januari 2021 pukul 02.27 WIB. Awan panas tercatat pada seismograf dengan amplitudo 60 mm dan durasi 209 detik.

Kunjungi Puskesmas Manahan Solo, Gubernur Ganjar Ungkap Kelemahan Sistem Vaksinasi Covid-19

Jarak luncur 1.800 meter ke arah barat daya (Kali Krasak-Boyong). Teramati tinggi kolom 500 meter dari puncak. Angin bertiup ke timur. Teramati guguran lava pijar 30 kali dengan jarak luncur 300-900 meter ke barat daya.

"Tadi pagi, sekitar pukul 02.00 WIB, masih ada luncuran yang agak lumayan. Lebih besar dari sebelumnya. Sehingga ada hujan abu pada bagian atas," Kepala Desa (Kades) Balerante, Sukono.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom