KEBUTUHAN POKOK SOLO : Ini Penyebab Harga Telur Turun Tajam
Ilustrasi telur (JIBI/Harian Jogja/Antara)

Kebutuhan pokok Solo, beberapa hari terakhir harga telur mengalami penurunan tajam.

Solopos.com, SOLO--Harga telur saat ini mengalami penurunan tajam hingga hingga Rp4.000/kg selama empat hari terakhir. Penurunan harga ini dinilai karena minimnya permintaan pasar.

Salah satu agen penjual telur ayam ras di Pasar Legi, Ong, mengatakan saat ini harga jual per kilogram turun menjadi Rp16.000/kg dari sebelumnya yang mencapai Rp22.000/kg. Dia mengatakan pada Ramadan biasanya harga telur ayam ras turun karena sepinya pembeli. Menurut dia, penjualan bisa mencapai 30 kotak atau 450 kg/hari tapi saat ini penjualan hanya 10 kotak-15 kotak per hari.

“Pertengahan bulan puasa biasanya penjualan telur ayam ras turun. Pembuat roti biasanya dimulai sebelum [bulan] puasa sehingga saat ini penjualan sepi, yang beli biasanya hanya pedagang untuk warung makan,” ungkap Pemilik Toko Semi ini saat ditemui Solopos.comEspos di tempat usahanya, Jumat (17/6/2016).

Dia mengungkapkan harga telur ini biasanya ditentukan oleh distributor besar yang ada di Kartasura. Bahkan peternak pun tidak bisa menentukan harga jual telur ayam ras ini. Oleh karena itu, harga jual pun dia mengaku menyesuaikan dengan harga kulak dari distributor.

Salah satu pengecer di Pasar Legi, Anna Tri Juliani, mengatakan menjual telur senilai Rp17.000/kg selama empat hari terakhir. Dia menyampaikan harga telur ayam ras ini cenderung turun saat memasuki Ramadan. Sedangkan berdasarkan pantauan dari tiga pasar utama di Solo, yakni Pasar Legi, Pasar Gede, dan Pasar Jongke, harga telur tercatat rata-rata Rp17.750/kg.

Komoditas lain yang juga mengalami penurunan harga adalah bawang merah. Anna mengatakan bawang merah dengan kualitas super saat ini dijual dengan harga Rp33.000/kg tapi yang kualitas rendah dijual dengan harga Rp25.000-Rp27.000/kg. Pedagang bawang, Sri Rahayu, mengungkapkan harga bawang merah turun tapi untuk yang kualitas super sulit diperoleh karena pasokannya terbatas. Begitu juga bawang putih yang turun dari Rp33.000/kg menjadi Rp29.000/kg.

Sementara itu, komoditas yang lain cenderung stabil, di antaranya adalah minyak goreng curah senilai Rp11.500/kg dan gula pasir yang tetap berada di harga Rp16.500/kg. Menurut Anna, apabila ada gula pasir yang dijual murah, biasanya adalah gula rafinasi.

“Harga [komoditas pangan] di pasar tradisional cenderung stabil atau turun karena pasar sepi jadi permintaan turun,” kata Anna.

Pedagang daging ayam ras, Tri Handayani, menyampaikan sampai saat ini harga masih stabil, yakni Rp32.000/kg. Dia mengatakan awal hingga pertengahan bulan puasa biasanya penjualan sepi kemudian sepekan menjelang Lebaran harga daging ayam akan naik seiring dengan tingginya permintaan masyarakat. Dia mengaku di saat permintaan sepi hanya menjual 12 kg daging ayam ras tapi terkadang tidak semuanya laku terjual.

“Belum bisa diprediksi soal harga ini nanti jadinya berapa kalau permintaan tinggi karena harga ini ditentukan oleh PT yang mengepul daging ayam ras [distributor]. Kami hanya bisa mengikuti [harga], kalau rendah dijual rendah, kalau tinggi ya dijual tinggi. Namun apabila terlalu tinggi, pilih tidak jualan karena tidak akan laku,” kata dia.

Pedagang sayuran, Wiwid, mengatakan harga beberapa sayuran naik, seperti kubis, kentang, dan wortel. Dia menyampaikan harga kubis biasanya Rp5.000/kg menjadi Rp6.000/kg, kentang menjadi Rp14.000-Rp15.000/kg padahal sebelumnya tidak sampai Rp10.000/kg. Begitu pula wortel yang biasanya hanya Rp7.000-Rp8.000/kg menjadi Rp10.000/kg. "Kenaikan harga ini disebabkan pasokan yang sedikit tapi permintaan banyak,” ujarnya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom