KEBUN BINATANG SURABAYA TERKEJAM DI DUNIA : Kisruh KBS Diduga Dipicu Konflik Internal
Ilustrai harimau sumatra. (JIBI/Solopos/Antara/Eric Ireng)

Solopos,com, SURABAYA — Sejumlah pihak menuding konflik internal manajemen pengelola sebagai pemicu kisruh di Kebun Binatang Surabaya (KBS). Kisruh pengelolaan itu ditandai dengan tak terurusnya hewan koleksi yang bermuara dengan matinya satu demi satu binatang-binatang itu.

Kondisi memprihatinkan KBS, beberapa waktu lalu disoroti media massa berpengaruh Inggris Dailymail. Media massa itu bahkan menyebut kebun binatang itu sebagai yang terkejam di dunia. Namun kematian tidak wajar Michael, seekor singa jantan (Panthera leo) berumur 1,5 tahun Selasa (7/1/2014) lalu mengungkit lagi perhatian publik Rabu (8/1/2013) ini.

Menanggapi hal itu, tim audit Kebun Binatang Surabaya (KBS) yang terdiri atas 12 akademisi dari Tim Kajian Universitas Airlangga Surabaya menyoroti adanya konflik berkepanjangan di internal KBS. Hampir senada, Sementara itu, Ketua DPRD Kota Surabaya M. Machmud bahkan menyebut Michael dibunuh simpatisan manajemen lama.

"Situasi itu disebabkan karena beberapa pegawai masuk dengan sistem yang berbeda-beda. Sistem berbeda itulah yang kemudian menyebabkan terjadinya pengkotak-kotakan pengurus KBS sehingga atmosfer kerja menjadi kurang kondusif," kata salah seorang anggota tim audit KBS, Ganjar C Premananto, di Surabaya.

Ia mengemukakan hal itu saat menyampaikan paparan hasil temuan tim audit Unair terhadap KBS kepada Wali Kota Tri Rismaharini di Balai Kota Surabaya. Menurut dia, konflik internal KBS tersebut harus diselesaikan terlebih dulu melalui metodologi mengumpulkan pengurus lama KBS yang pernah menjabat.

Tidak kondusifnya lingkungan kerja di KBS itu disebutnya mempengaruhi terhadap kebijakan yang muncul tidak sesuai standar dan terkesan subjektif. "Kebijakan yang diambil semisal penempatan orang pada posisi tertentu, lebih kepada suka atau tidak suka (like and dislike)," katanya.

Sementara itu, anggota tim audit lainnya yang menyoroti evaluasi dan kajian atas laporan posisi keuangan KBS, Widi Hidayat, menyebutkan belum adanya penerapan akuntansi yang baik di KBS dari sisi aset dan beban. Menurutnya, pihak Perusahaan Daerah Taman Satwa (PDTS) KBS perlu memperjelas status aset di KBS guna membedakan mana aset yang dimiliki KBS atau perkumpulan.

"Aset harus dicatat dan dilanjutkan sehingga ketika pergantian pengurus akan tetap berlanjut, tidak terputus. Memang yang harus segera diselesaikan adalah masalah hukumnya," katanya.

Widi mengatakan KBS sebenarnya punya potensi besar untuk dikembangkan, tetapi penataan akuntansi harus dibenahi dulu. Untuk saat ini, tambah Widi, langkah yang bisa dilakukan oleh PDTS KBS adalah memosisikan neraca awal dengan melihat apakah itu hutang, modal atau aset. "Unsur pendapatan dan beban harus diperhatikan, biar sehat," katanya.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang didampingi Sekretaris Daerah Kota Surabaya Hendro Gunawan beranggapan bahwa saat ini yang terpenting adalah melakukan identifikasi aset, karena pemkot tidak ingin memasuki ranah yang bukan wilayahnya.

Artinya, imbuh dia, pembangunan KBS hendaknya tidak bersinggungan dengan aset yang dimiliki pihak lain. Setelah diperoleh kejelasan, kata wali kota, barulah ditempuh langkah selanjutnya. "Bagaimana mungkin kita menyelesaikan secara hukum kalau tidak punya catatan sejarah yang jelas. Oleh karena itu, diperlukan identifikasi terlebih dahulu," katanya.

Pada kesempatan itu, wali kota juga mengungkapkan, jika terus terjadi deadlock dan belum ada jalan keluar, Pemkot Surabaya kemungkinan akan membangun kandang baru di lahan KBS yang kosong, tanpa harus mengutak-atik kandang lama. "Sekarang yang penting kesejahteraan hewan dulu sebab kandang yang sekarang ini sudah tidak layak. Kita tidak mungkin terus menunggu seperti ini," tegasnya.

"Mana ada orang luar yang berani mendekati singa, mana ada orang luar yang mengetahui posisi kandang singa?"

Sementara itu, Ketua DPRD Kota Surabaya M. Machmud mengatakan pihaknya menduga singa KBS mati karena sengaja digantung oleh pegawai sisa manajemen lama yang tidak suka dengan manajemen baru. "Pembunuh singa harus digantung. Polisi rasanya mudah mencari pelaku. Ini pasti orang dalam," katanya.

Ia mengatakan tidak mungkin orang luar yang melakukan pembunuhan terhadap singa tersebut. "Mana ada orang luar yang berani mendekati singa, mana ada orang luar yang mengetahui posisi kandang singa?" katanya.

Untuk itu, lanjut dia, pihaknya siap mendukung upaya polisi untuk mencari pelaku pembunuhan singa tersebut. Humas KBS Agus Supangkat mengatakan singa tersebut mati bukan karena terkena penyakit, melainkan mati karena lehernya terjerat sling atau tali terbuat dari baja yang digunakan sebagai penarik pintu kandang.

"Petugas menemukan singa ini dalam kondisi sudah mati di kandangnya sekitar pukul 07.00 WIB. Kemungkinan singa itu terjerat sling saat malam hari," katanya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho