Ilustrasi suntikan (Freepik)

Solopos.com, SOLO – Kebiri merupakan tindakan yang bertujuan untuk menghilangkan fungsi testis pada pria atau ovarium pada wanita dengan bedah maupun menggunakan bahan kimia. Pengebirian kimia untuk pelaku kekerasan seksual kali pertama dilakukan pada 1944.

Menurut -seksual">hasil penelitian Elizabeth Pitula dari Barnard College, Amerika Serikat, kebiri kimia merupakan pengebirian yang tak melibatkan pemotongan alat kelamin. Hal tersebut dilakukan dengan bahan kimia untuk mengurangi tingkat sirkulasi testosteron pada pria.

Seperti dikutip dari Wikipedia, Rabu (28/8/2019), penggunaan bahan kimia untuk pengebirian pelaku -seksual">pelecehan seksual kali pertama dilakukan pada 1944. Bahan kimia yang digunakan yaitu dietilstilbestrol atau obat esterogen nonsteroid.

Pada 1981 dilakukan penelitian penggunaan medroksiprogesteron asetat (MPA) untuk pengebirian. Penelitian itu dilakukan pada 48 pria dengan -seksual">kelainan seksual. Hasilnya, 40 pria dengan perilaku seks meyimpang, fantasi seksual, dan dorongan seks menunjukkan perkembangan positif. Penggunaan MPA disertai konseling merupakan metode sukses untuk mengatasi pelaku kekerasan seksual.

Cara kerja MPA yaitu mengurangi produksi testosteron dengan menghambat sekresi gonadotropin atau hormon yang berperan dalam kesuburan. Hormon testosteron berfungsi meningkatkan libido, energi, fungsi imun, dan perlindungan dari osteoporosis atau kerapuhan tulang.

Kebiri kimia bersifat tidak permanen jika tidak dilakukan pengobatan secara rutin. Namun, hal tersebut menimbulkan efek yang serius. Efek samping dari penggunaan MPA secara umum adalah kelelahan, sakit kepala, mual, hot flashes (kepanasan saat menopause), dan insomnia.

Perubahan fisik yang ditimbulkan berupa pembengkakan jaringan payudara pada pria dan kenaikan berat badan. Efek serius lain dari penggunaan MPA yaitu peradangan pembuluh darah, hipertensi, gangguan sistem pencernaan, batu empedu, dan diabetes.

Dilansir Liputan 6, menurut Renee Sorrentino, psikater forensik di Massachusetts, Amerika Serikat, prosedur kebiri kimia biasanya diberikan setiap bulan atau 90 hari melalui suntikan. Selain itu, melakukan kebiri kimia tidak akan menyelesaikan masalah pelecehan anak-anak karena adanya kesempatan, kasus hubungan sedarah, atau memiliki gangguan kepribadian antisosial pada pelakunya.

“Menurunkan testosteron mereka [pelaku pelecehan seksual] tidak akan menyelesaikan masalah,” ungkap Renee Sorrentino.

Para pelaku -seksual">kekerasan seksual yang mendapat hukuman kebiri kimia harus dipantau oleh dokter. Pemantauan dilakukan dengan melihat efek samping yang timbul akibat kebiri kimia. Hal ini sejalan dengan saran dari Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Daeng M. Faqih, mengatakan, hukuman kebiri kimia sudah mulai ditinggalkan karena kejahatan seksual dilakukan bukan hanya karena tingginya libido. Melainkan lebih banyak akibat gangguan jiwa.

Kebiri kimia juga menimbulkan berbagai gangguan fisik sebagai efek samping lainnya. Oleh sebab itu, IDI menolak menjadi eksekutor kebiri kimia.

“Undang-undang juga tidak menyebut dokter dan tenaga medis lainnya sebagai eksekutor [kebiri kimia]. Jadi, tidak ada persoalan sebenarnya,” terang Daeng M. Faqih seperti dikutip dari Detik, Jumat (30/8/2019).

Dokter yang menjadi eksekutor kebiri kimia berpotensi menimbulkan konflik norma, yakni etika kedokteran. Sebab, Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Undang-Undang Kesehatan melarang tindakan kebiri kimia.

Daeng M. Faqih mengatakan, tingkat keberhasilan rehabilitasi terhadap -seksual">predator seksual lebih tinggi dibanding kebiri kimia. Sebab, rehabilitasi sebenarnya lebih berat ketimbang kebiri kimia. Sebab, seorang terpidana kasus pelecehan seksual akan dibebaskan jika hasil evaluasi gangguan kejiwaannya telah pulih. (Atina Firdausa Qisthi/Solopos.com)

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten