Alat berat meratakan dan memadatkan sampah di tempat pengolahan akhir (TPA) sampah di Ngadirojo, Senin (10/6/2019). Volume sampah selama libur Lebaran di kawasan Kota Wonogiri naik hingga dua kali lipat dibanding volume normal. (Cahyadi Kurniawan)

Solopos.com, WONOGIRI—Volume sampah selama libur Lebaran di kawasan Wonogiri Kota meningkat dua kali lipat dibanding hari biasa. Volume sampah saat Lebaran mencapat 244 meter kubik/hari, biasanya hanya 122 meter kubik/hari.

Kendati demikian, peningkatan volume sampah ini hanya terjadi di Kecamatan Wonogiri. Sedangkan di kecamatan lain, penambahan volume sampah hanya berkisar 50 persen. Di Kecamatan Selogiri misalnya, biasanya volume sampah 58 meter kubik/hari menjadi sekitar 87 meter kubik/hari. Di Kecamatan Ngadirojo, volume sampah meningkat dari 81 meter kubik/hari menjadi 120 meter kubik/hari.

Peningkatan itu pun tak sepenuhnya terjadi di sepanjang hari libur. Kepala Bidang Kebersihan dan Pertamanan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Wonogiri, Toto Prasodjo, mengatakan puncak volume sampah terjadi pada H-1 hingga H+1 Lebaran.  Pada waktu sebelum lebaran ada peningkatan perlahan. Begitu pula seusai Lebaran ada penurunan perlahan hingga ke titik volume normal. “Kalau Lebaran begini kami memang panen [sampah]. Semua tim kami kerja keras agar sampah ini tak mengganggu masyarakat selama Lebaran,” kata dia saat ditemui solopos.com di kantornya, Senin (10/6/2019).

Ia mencontohkan pengangkutan sampah di Pasar Kota Wonogiri yang biasanya selesai dalam sekali angkut, kini harus dua kali pengangkutan. Itu pun volumenya melebihi tinggi bak truk. Selain itu, pengangkutan pada pagi seusai Subuh terkendala lantaran di kawasan pasar sudah dipenuhi mobil parkir. DLH menyiasati hal itu dengan mengangkutnya pada sore hari saat situasi mulai lengang. “Di TPS tertentu sampai hari ini masih terjadi misalnya volume sampah yang sudah terangkut, tapi datang lagi sampahnya. Tapi bukan berarti menumpuk,” terang dia.

Pengangkutan sampah di Wonogiri melibatkan 13 dump truck, 11 pikap, dan satu unit arm roll. Selain itu, masih ada 160 personel bidang kebersihan dan 40 personel bidang pertamanan. “Kami masih butuh 25 orang di bidang kebersihan dan 10 orang di bagian pertamanan,” imbuh dia.

Peningkatan volume sampah, lanjut Toto, dipicu karena Wonogiri kedatangan banyak tamu dari luar kota. Selain itu, masih banyak masyarakat yang melintasi Wonogiri saat bepergian ke luar kota misalnya perjalanan dari Solo-Pacitan dan lainnya. “Sampah yang dibawa mereka rata-rata berbahan plastik bungkus oleh-oleh. Sebagian lagi kertas. Plastik ini pun plastik kresek jadi tidak bisa dipakai lagi,” beber dia.

Tak hanya itu, sampah juga kerap ditemui di sepanjang jalan yang dilalui bus-bus besar. Ia mengaku kerap menjumpai bus-bus pariwisata menepi ke bahu jalan dan membuang sampah dari kabin bus seusai mengantarkan penumpang di Wonogiri. Sampah yang dibuang berupa plastik minuman. “Kalau di pasar, dominasinya sampah organik. Secara umum, peningkatan volume sampah ini lebih rendah ketimbang tahun lalu sampai 2,5 kali lipat,” tutu Toto.

Pelayanan oleh DLH Wonogiri baru menyentuh 16 kecamatan. Sebanyak sembilan kecamatan lain belum terlayani yakni Giritontro, Paranggupito, Batuwarno, Karangtengah, Manyaran, Jatiroto, Puhpelem, Jatipurno, dan Girimarto. Puhpelem sendiri selama ini pengelolaannya bergabung Bulukerto. “Kebetulan kecamatan-kecamatan ini belum padat penduduknya. Tapi, ada objek wisata. Penanganan sampah di kawasan itu melibatkan peran serta masyarakat sekitar.”

Toto menjelaskan pengelolaan sampah di Wonogiri menggunakan teknik control land fill. Sampah dipadatkan dan diratakan. Lalu, secara berkala antara 5-7 hari, sampah ditimbun dengan tanah membentuk terasering. “Ke depan, kami berencana akan mengadopsi sistem sanitary land fill untuk pengolahan sampah yang lebih baik,” harap Toto.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten