Kebiasaan Ini Picu Banyaknya Sampah Sisa Makanan di Solo
Ilustrasi sajian prasmanan. (wri.org)

Solopos.com, SOLO — Berdasarkan Food Sustainability Index 2018 dari Economist Intelligence Unit pada kategori middle income countries, Indonesia berada di peringkat 53 dari 67 negara pada kategori pengelolaan makanan secara berkelanjutan.

Hal itu menandakan masih banyak makanan yang terbuang sia-sia. Padahal, dari angkanya tercatat 13 juta ton sampah makanan per tahun. Apabila dikelola dengan baik limbah tersebut bisa menghidupi lebih dari 28 juta orang, hampir sama dengan jumlah penduduk miskin yakni 11% dari populasi

Hal itu terungkap dalam paparan hasil riset Menuju Solo sebagai Kota Cerdas Pangan di Sala View Hotel, Selasa (22/1/2019) siang. Peneliti dari Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Solo, Dr. Dora Kusumastuti, menyampaikan hasil risetnya tentang pengelolaan sampah hotel, katering dan restoran di Solo dan Depok.

Dia mengungkap sejumlah hotel di Solo menyumbang sisa makanan sekitar 13%, sedangkan restoran dan katering masing-masing 9% dan 10%.

“Pihak hotel menyiapkan makanan dari 60% tingkat hunian hotel yang disajikan dua tahap, pertama 80% dan kalau habis baru sisanya. Sedangkan untuk hotel potensi makanan berlebihnya 9%, lalu untuk katering teknik prasmanan diperkirakan 10%,” kata dia, di hadapan wartawan, Selasa.

Dari sisa makanan hotel, lebih dari separuhnya diberikan kepada karyawan atau orang sekitar hotel. Pengelolaan selanjutnya dibuang ke tempat sampah dan diolah lagi menjadi pakan ternak masing-masing 22% dan 3%. Sementara sisa kelebihan masakan di restoran hotel 52% dibuang ke tempat sampah, 40% diolah jadi makanan lain, dan 8% untuk karyawan.

Dora mengatakan tingginya limbah makanan itu dipengaruhi oleh berbagai hal, di antaranya adalah kearifan lokal.

“Konsep makanan prasmanan membuat banyak orang mengambil sebanyaknya, tapi tidak dihabiskan. Ada pula kultur yang menganggap kalau makan dihabiskan sampai piring bersih itu saru atau tidak etis,” ucap Dora.

Solusi mengatasi banyaknya pangan yang terbuang itu, kata dia, dapat melalui perencanaan pengaturan bahan baku, bahan, dan produk pada hotel, restoran, dan katering. Selanjutnya, optimasi redistribusi kepada warga yang membutuhkan dan pengolahan pakan ternak. Langkah lain adalah daur ulang mengubah sampah menjadi energi.

Inisiator Solo Kota Cerdas Pangan, Direktur Yayasan Gita Pertiwi Surakarta, Titik Eka Sasanti, mengatakan isu besar dunia untuk mengatasi kebutuhan pangan yang berbanding lurus dengan kenaikan populasi adalah peningkatan produksi.

Kendati begitu, konsumsi dan distribusi yang tak efisien juga membuat banyak pangan terbuang. Begitu pula saat panen, penyimpanan, dan pengolahan.

“Pada 2050, harus ada peningkatan produksi sebanyak 69% dibandingkan tahun ini. Pada 2011, sebanyak 1,3 miliar ton pangan dunia menjadi sampah. Itu adalah 1/3 dari produksi pangan. Jika 1/4 dari total sampah pangan itu bisa diolah [menjadi makanan lagi], maka dapat digunakan untuk memberi makan 870 juta manusia. Itu baru seperempatnya. Bayangkan apabila seluruhnya bisa diolah,” kata dia, usai paparan.

Acara itu juga menghadirkan paparan dari Direktur Yayasan KAKAK Solo, Shoim Sahriyati dan Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Sudaryatmo.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom