Kategori: Sragen

KEBERSIHAN LINGKUNGAN : Warga Sragen Keluhkan Kali Garuda yang Kotor


Solopos.com/Moh. Khodiq Duhri/JIBI/Solopos

Kebersihan lingkungan di Sragen terganggu dengan Kali Garuda yang kotor dan penuh sampah.

Solopos.com, SRAGEN Aneka jenis sampah menumpuk di Kali Garuda tepatnya di Bendung Krapyak, Sragen. Tumpukan sampah itu dikeluhkan warga sekitar.

Pantauan Solopos.com, Selasa (28/7/2015), aneka jenis sampah mulai plastik, pakaian bekas, pelepah pisang, kasur, bantal, hingga guling memenuhi Kali Garuda. Meski sudah ada plakat bertuliskan larangan membuang sampah, warga tetap menjadikan sungai itu sebagai tempat pembuangan limbah.

Sampah yang menumpuk selama beberapa tahun terakhir itu mengakibatkan air berwarna hitam pekat. Tumpukan sampah itu menyumbat pintu bendungan sehingga air tidak bisa mengalir. Tumpukan sampah di genangan air itu mengakibatkan bau tidak sedap yang mengganggu kenyamanan warga. "Bau tidak sedap itu menyeruak hidung. Bau itu menyebar sesuai arah angin," kata Suparmin, 55, warga Dusun Setren, RT 055, Kelurahan Sragen Wetan.

Suparmin menyebut Kali Garuda menjadi sarang penyakit. "Di sekitar kali banyak ditemukan nyamuk. Kemungkinan nyamuk-nyamuk itu berkembang biak di air sungai. Saat musim hujan lalu, ada sejumlah warga yang terkena DBD [demam berdarah dengue]," jelas Suparmin.

Wandi, 37, warga setempat, menyayangkan kondisi Bendung Krapyak yang tidak terurus dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, Kali Garuda sempat dibersihkan lima tahun silam. Namun, sejak saat itu tidak ada upaya pemerintah untuk menangani Kali Garuda. "Katanya memiliki slogan Sragen Asri. Bagaimana bisa disebut asri kalau sungainya masih seperti ini," demikian kritik Wandi.

Kepala Bidang Pengairan Pertambangan dan Energi Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Sragen, Subagiyono, menjelaskan pengelolaan Kali Garuda menjadi kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS). Kendati demikian, kebersihan sungai menjadi tanggung jawab warga. Dia menyerahkan problem sampah yang menumpuk di dasar Kali Garuda itu kepada warga sendiri.

"Ini masalah sulit. Sebenarnya sudah ada gerakan bersama untuk mencintai lingkungan dengan cara tidak membuang sampai ke sungai. Namun, semua dikembalikan kepada pribadi masing-masing," ujarnya. 

Share
Dipublikasikan oleh
Septina Arifiani