Kebanjiran, Warga Terdampak Underpass Transito Solo Terpaksa Indekos
Narmi, 50 dan Nabila, 12, memilah barang yang kebanjiran di RT 001/RW 014 Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan, Solo, Jumat (21/8/2020). (Solopos/Wahyu Prakoso)

Solopos.com, SOLO -- Salah satu warga yang rumahnya terdampak proyek pembangunan underpass di Jl Transito, Laweyan, Solo, Narmi, terpaksa menyewa indekos lantaran kebanjiran pada Selasa (11/8/2020) malam lalu.

Pantauan Solopos.com, Jumat (21/8/2020), rumah Narmi yang berada di RT 001/RW 014 Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan, Solo, itu masih berantakan.

Pakaian tersebut kotor akibat terendam air yang membanjir masih berserakan di dalam rumahnya berukuran 70 meter persegi itu. Sejumlah pakaian, kulkas, tempat tidur, lemari, dan mesin pompa air yang mati masih dibiarkan sejak 10 hari lalu.

Dituding Meng-covid-kan Pasien, RSUD dr Moewardi Solo: Semua Ada Parameternya

Rumah Narmi merupakan satu dari dua bangunan milik warga yang terdampak pembangunan underpass Transito, Solo. Kondisi satu bangunan lain, milik dua keluarganya, masing-masing Sudaryanti, 48, dan Teguh Mulyono, telah dibongkar dan dikosongkan setelah Wali Kota Solo melakukan mider praja, Jumat (7/8/2020).

Pada Selasa (11/8/2020) malam sekitar pukul 20.00 WIB, Narmi dan sang suaminya berada di Kantor Lurah Pajang untuk menghadiri undangan. Ia meninggalkan cucunya, Nabila, 12, Naisya, 8, Raihan, 3, belajar di ruang tamu rumah.

Saat itu turun hujan lebat yang membuat tanggul air yang berlokasi di selatan rel KA jebol. Aliran air menuju utara melalui terowongan pada pembangunan underpass Transito, Solo, hingga membanjiri rumah yang terdampak proyek tersebut.

Tertangkap di Klaten, 2 Pelaku Ricuh Mertodranan Solo Cukur Rambut Untuk Kaburkan Identitas

Kedalaman air saat itu mencapai sepinggang orang dewasa. Nabila berteriak minta tolong karena ia tidak menyadari aliran air membanjiri ruang tamu rumahnya.

Narmi yang mendapatkan kabar rumahnya kebanjiran bergegas pulang untuk menyelamatkan sang cucu. “Saya sampai rumah semua barang kemambang. Air sampai pinggang. Saya kaget enggak ada persiapan,” katanya kepada Solopos.com, Jumat.

Aliran Sungai

Dia menjelaskan rumahnya kerap mengalami kebanjiran saat musim penghujan karena di sebelah utara rumah warga yang terdampak pembangunan underpass Transito, Solo, itu merupakan aliran sungai.

Ada 6 Klaster Aktif Penularan Covid-19 Di Sukoharjo, 3 Masih Baru

Ia biasa melakukan mitigasi atau persiapan ketika air mulai naik ke rumah. Namun, untuk kali pertama air datang dari sisi selatan melalui terowongan.

“Saya enggak estimasi kerugian. Sementara barang-barangnya saya biarkan dulu. Ada  mesin pompa rusak dan kulkas belum saya cek rusak atau tidak. Hanya sebagian pakaian yang saya cuci untuk dibawa ke indekos. Saya sewa indekos satu bulan Rp400.000 tapi baru saya bayar separuh,” katanya.

Perempuan 50 tahun tersebut senang ada pembangunan underpass Transito sebagai akses jalan warga. Dia berharap Pemkot Solo segera merealisasikan janji membangunkan rumah warga terdampak proyek underpass Transito dengan fondasi lebih tinggi.

Tambah 17 Dalam Sepekan, Setiap Hari Ada Kasus Baru Positif Corona di Solo

Lurah Pajang, Priadi, menjelaskan terdapat tiga rumah yang terdampak pembangunan underpass Transito. Ia membuat nota dinas Wali Kota Solo untuk pembangunan rumah tidak layak huni (RTLH) yang telah disetujui tapi dengan anggaran yang bersumber dari tanggung jawab sosial perusahaan.

“Kami menunggu CSR [corporate social responsibility atau tanggung jawab sosial perusahaan]. Kalau menggunakan RTLH lama, menunggu anggaran tahun depan maka pakai CSR dulu. Rumah akan ditinggikan. Kami sudah cek rumah yang banjir,” paparnya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom