Tutup Iklan
Kebanjiran Barang Bersejarah, Museum Titik Nol Pasoepati Cocok Jadi Destinasi Sport Tourism?
Legenda Persis Solo, Hong Widodo (kedua dari kanan), dan Franz Setiabudi (kedua dari kiri) berfoto dengan barang bersejarah yang akan dihibahkan ke Museum Titik Nol Pasoepati, Selasa (21/7/2020). (Istimewa)

Solopos.com, SOLO — Museum Titik Nol Pasoepati yang tengah dirintis Mayor Haristanto berpotensi menjadi destinasi wisata olahraga (sport tourism) baru di Kota Solo.

Meski belum genap berusia sebulan, museum yang terletak di markas Republik Aeng-aeng di Nusukan, Solo, itu telah kebanjiran barang bersejarah dari insan sepak bola nasional.

Pada Rabu (22/7/2020), kiper Bhayangkara FC, Wahyu Tri Nugroho,menyumbangkan jersey, sarung tangan, sepatu dan koper yang dipakainya tahun 2007 saat membela Persis Solo. Pesepakbola muda Indonesia asal Solo, Yussa Nugraha, turut menghibahkan jaket yang dikenakannya saat membela Feyenoord Rotterdam U-17 pada 2016. Jaket diberikan kakak Yussa, Salma, karena sang pemain masih berada di Belanda untuk membela tim kasta kelima, HBS Craeyenhout.

Awas! Anak-Anak Terancam Kekerasan Seksual di Masa Pandemi

Inisiator museum, Mayor Haristanto, mengatakan Museum Titik Nol Pasoepati berpotensi menjadi destinasi wisata yang berbeda di Kota Bengawan. “Bisa menjadi jujukan baru wisata olahraga. Misal ada pertandingan bola di Stadion Manahan, bisa singgah dulu ke sini melihat-lihat koleksi,” ujar Mayor saat ditemui Solopos.com di museum setempat, Rabu.

Sejauh ini sport tourism cenderung belum digarap maksimal seperti destinasi wisata seni, kuliner dan bangunan-bangunan bersejarah. Padahal Solo punya potensi sport tourism terintegrasi karena memiliki Stadion Manahan, Stadion Sriwedari serta Sritex Arena. Lokasi-lokasi itu menyimpan cerita panjang tentang persepakbolaan dan basket nasional.

Belasan Koleksi

Kota Bengawan juga punya Balai Persis Solo yang menyimpan koleksi piala-piala sejak zaman sebelum kemerdekaan. Mayor mengatakan kehadiran Museum Titik Nol Pasoepati bakal menjadi warna baru dalam destinasi wisata olahraga di Solo. “Meski kecil, tapi menyimpan sejarah besar para insan bola nasional,” ujar sesepuh Pasoepati itu.

Saat ini belasan koleksi baru yang masuk masih dipajang seadanya di ruang seluas 3 meter kali 5 meter. Mayor akan merelakan markas Republik Aeng-aeng yang berada di sebelah ruangan museum apabila koleksi semakin bertambah. “Aeng-aeng bisa ngalah, pindah ke atas [lantai dua]. Semoga ke depan bisa mendapat dukungan untuk pengembangan museum.”

Mantap! Mal di Soloraya Ini Gelar Wedding Virtual, Biayanya Rp25 Juta

Sementara itu, Wahyu Tri Nugroho tampak antusias menyumbangkan pirantinya ketika membela Persis. Ada jersey warna hijau yang dikenakannya saat berlaga di Copa Dji Sam Soe 2007. Ada pula sepatu putih merek Adidas dan koper yang turut mewarnai awal kariernya di Laskar Sambernyawa.

Wahyu juga menyumbangkan sarung tangan “buluk” bermerek Nike yang dia kenakan medio 2007. “Kondisinya sudah jelek, mungkin kelamaan masuk lemari. Namun semua barang ini sarat memori karena menandai awal saya merintis karier di Persis,” ujar Wahyu yang membela Persis musim 2006-2009.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Pasang Baliho