"""
<p><em>Kebakaran Sragen diantisipasi oleh Damkar dengan memberlakukan status siaga satu.</em></p>\n
<p><strong>Solopos.com, SRAGEN </strong>&#8211; Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pemadam Kebakaran (Damkar), Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Sragen memberlakukan siaga satu untuk mengantisipasi kejadian kebakaran di Bumi Sukowati.</p>\n
<p>&#8220;Sekarang kami berlakukan siaga satu. Kemungkinan jumlah peristiwa kebakaran akan mencapai puncak pada Agustus-September,&#8221; kata Kepala UPTD Damkar, Tri Hascaryanto, saat ditemui di kantornya, Selasa (28/7/2015).</p>\n
<p><span style="line-height: 1.5em;">Informasi yang dihimpun </span><em style="line-height: 1.5em;">solopos.com</em><span style="line-height: 1.5em;"> di Kantor UPTD Damkar DPU Sragen, jumlah kebakaran yang terjadi mulai Januari hingga Juli 2015 mencapai 28 kali. </span></p>\n
<p><span style="line-height: 1.5em;">Peristiwa kebakaran meningkat drastis sepanjang Juli yang mencapai 18 kali. Pada Juni lalu, terdapat enam peristiwa kebakaran. Pada April dan Mei masing-masing terjadi tiga kebakaran. </span></p>\n
<p>&#8220;Tadi pagi telah terjadi kebakaran di sebuah dapur rumah warga Krisan, Tangkel, Sragen Timur. Kerugian sampai Rp10 juta. Kecelakaan dipicu pemilik rumah yang tidak mengawasi proses pembakaran tempurung kelapa yang menjadi usahanya,&#8221; kata Hascaryanto.</p>\n
<p>Hingga Juli 2015, Kecamatan Sragen menjadi lokasi yang paling banyak terjadi kebakaran dengan delapan kejadian. Disusul Kecamatan Gemolong dan Ngrampal masing-masing lima kebakaran.</p>\n
<p><span style="line-height: 1.5em;">Faktor hubungan arus pendek listrik menduduki peringkat teratas penyebab musibah kebakaran di Sragen. Ada pula faktor kelalaian warga seperti lupa mematikan kompor atau membuang puntung rokok sembarangan. </span></p>\n
<p><span style="line-height: 1.5em;">&#8220;Saat musim kemarau seperti ini, faktor lain bisa menjadi penyebab kebakaran. Seperti adanya gesekan daun ilalang kering yang bisa memercikkan api,&#8221; terang Tri Hascaryanto.</span></p>\n
"""