KEBAKARAN KANTOR KOMNAS PA : Api Muncul dari Atas, Ini Kesimpulan Komnas PA
Kantor Komnas PA terbakar Sabtu (27/6/2015). (Detik)

Kebakaran Kantor Komnas PA menimbulkan kerugian luar biasa dalam penanganan kasus-kasus anak.

Solopos.com, JAKARTA -- Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) enggan berspekulasi tentang apa di balik kebakaran kantor mereka di Jakarta, Sabtu (27/6/2015) malam. Namun, mereka merasakan ada teror yang sangat kuat sejak menangani kasus pembunuhan Angeline atau Engeline.

Sebelumnya, kebakaran kantor Komnas PA pernah terjadi pada 2009. Saat itu, banyak data yang hilang akibat kebakaran itu.

"Ini yang kedua sejak 2009, kita sudah menyatakan ada dugaan persekongkolan jahat dalam hilangnya Engeline. Terbukti ditemukan mayat Engeline, ini sangat serius, ini fakta," kata Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait, dalam sebuah dialog di Metro TV, Minggu (28/5/2015) sore.

Arist mengatakan, berdasarkan hasil pengumpulan keterangan dari para saksi mata, masyarakat sekitar kali pertama melihat api mengepul dari atap gedung. Melihat api, warga langsung menyelamatkan bahan yang mudah terbakar seperti elpiji dan lampu.

"Jadi jendela gedung langsung menghadap kampung. Mereka menyelamatkan elpiji dan lampu. Tapi para saksi mata melihat ada letupan-letupan," katanya.

Berdasarkan keterangan-keterangan yang dihimpun, Arist menyimpulkan ada tiga kemungkinan penyebab kebakaran. "Pertama ada sabotase, kemudian teror, dan kecelakaan. Kecelakaan maksudnya seperti arus pendek atau rokok. Tapi itu terbantahkan karena ruang kita steril dari perokok."

Kebakaran menghabiskan empat ruangan, termasuk penyimpanan data yang memuat data-data aduan dari 2010-2014. Menurutnya, para anggota Komnas PA merasa ketakutan dan trauma.

"Teror itu, kalau petugas menangis karena dibentak, sudah biasa. Tapi pekan ini, terornya luar biasa. Ada 12.000 data yang hilang, sebagian ada back up, tapi tidak lengkap. Tntuk angeline terselamatkan, kami kerjasama dengan perlindungan anak Bali."

Data-data yang lenyap itu juga memuat tes darah, dna, tanda tangan, pengakuan dan sebagainya. Dari ribuan data kasus itu, 89% belum terselesaikan.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom