Kebakaran di Pabrik Busa Kalijambe Sragen, Kerugian Ditaksir Capai Miliaran

Solopos.com, SRAGEN – Sebanyak empat gedung produksi pabrik yang masing-masing berukuran 60 meter x 46 meter hangus akibat kebakaran hebat di PT Eiro Foam & Function Sragen, Sabtu (24/10/2020) sore.

Api yang melalap pabrik di Dukuh Salam RT 013, Desa Saren, Kecamatan Kalijambe, Sragen, itu sempat padam setelah tujuh jam petugas pemadam berjibaku memadam api, tepatnya dari pukul 15.30 WIB hingga pukul 22.30 WIB.

Namun, bara api masih ditemukan hingga Minggu (25/10/2020) pagi. Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Sragen masih menyiagakan satu unit mobil tangki bila sewaktu-waktu muncul bara api baru.

Cerita Damkar Sragen Padamkan Kebakaran Pabrik Busa di Kalijambe Selama 7 Jam

Sampai Minggu siang, pemilik pabrik tersebut, Mr. Jung Sam Young, 58, bersama sejumlah pimpinan manajemen masih mengitung kerugian akibat kebakaran tersebut.

“Satu gedung itu ukurannya 60 meter x 46 meter. Ada empat gedung. Di dalamnya ada mesin produksi yang masih uji coba. Satu mesin produksi itu nilainya mungkin bisa miliaran rupiah. Hampir setiap gedung ada busa dan bahan baku lainnya yang semuanya mudah terbakar. Semua itu hangus semua,” ujar Teguh Saryono, 45, seorang pekerja konstruksi gedung di pabrik tersebut saat ditemui Solopos.com di lokasi pabrik, Minggu siang.

Saat terjadi kebakaran, Teguh masih di dalam kompleks pabrik karena sejumlah pekerja masih menyelesaikan pembangunan dua gedung di sisi barat yang tidak terbakar. Teguh menyebut api pertama berasal dari gedung nomor dua dari timur.

Keren! Pemuda Madiun Ini Manfaatkan Sampah Popok untuk Pupuk Tanaman

Dia bercerita saat itu ada pekerja yang selesai menjelankan salat asar dan tiba-tiba berteriak meminta tolong karena ada kebakaran. Teguh dan pekerja lainnya panik dan berusaha memadamkan api dengan alat pemadam api ringan (APAR). Ada juga yang menghubungi petugas pemadam kebakaran.

“Peristiwa ada kebakaran itu sekitar pukul 15.15 WIB. Karyawan pabrik sudah pulang semua. Sebenarnya ada air di bak penampungan air berukuran 25 meter x 5 meter tetapi memang fungsinya tidak untuk memadamkan api tetapi untuk sirkulasi alat. Pada pukul 20.00 WIB api sudah terlokalisasi tetapi belum padam,” ujarnya.

Seorang pekerja bangunan lainnya, Andri, mengaku mengetahui ada api dari tengah gedung kedua dari timur seusai melaksanakan salat asar. Ia berteriak minta tolong sambil mencari APAR untuk memadamkan api kebakaran di pabrik.

“Namun, kemampuan APAR tidak mampu. Kemudian ada teman yang menghubungi petugas pemadam kebakaran,” ujarnya.

Kontroversi Jalan Jokowi di Uni Emirat Arab, Buntut Tukar Guling Lahan Ratusan Ribu Hektare?

Kapolres Sragen AKBP Yuswanto Ardi melalui Kapolsek Kalijambe AKP Aji Wiyono mengatakan olah kejadian perkara dengan tim forensik kemungkinan dilakukan pada Senin (26/10/2020) karena masih menunggu pendinginan kondisi pabrik. Aji mengaku belum berani memperkirakan kerugian akibat musibah kebakaran itu.

Kerugian

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sragen Sugeng Priyono menyebut ada lima gedung yang terbakar. Yakni tiga gedung pabrik berukuran masing-masing 60 meter x 46 meter dan dua bangunan lorong gudang penyimpanan bahan baku berukuran 60 meter x 10 meter.

Sugeng mengaku tidak berani memperkirakan kerugian karena nilainya besar. Kondisi gedung tersebut rusak dan doyong serta atapnya amblek. Oleh aparat, lokasi gedung yang terbakar dipasangi garis polisi.

Mobil Damkar Masih Seliweran di Jl Solo-Purwodadi

Kabid Pemadam Kebakaran Satpol PP Sragen Sunardi pabrik itu merupakan pabrik busa yang bahannya mudah terbakar. Dalam proses pemadamannya, Sunardi menjelaskan butuh waktu tujuh jam dengan melibatkan delapan unit mobil pemadam kebakaran, yakni empat unit dari Sragen, empat unit lainnya bantuan dari Sukoharjo, Karanganyar, Solo, dan Boyolali.

“Selama proses pemadaman dibantu dua unit mobil tangki BPBD dan satu unit mobil tangki PMI yang bertugas untuk menyuplai air dari PDAM Tegaldowo, Gemolong. Akses air memang sulit karena di lokasi pabrik tidak ada hidran. Selain itu akses masuk ke sumber api juga sulit karena khawatir atap gedung amblek,” jelas Sunardi.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom