Sukarelawan memadamkan api yang membakar Bukit Jabalkat di Desa Paseban, Bayat, Klaten, Kamis (12/9/2019) malam. (Solopos-Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN – Bukit Jabalkat di wilayah Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, kembali terbakar, Kamis (12/9/2019). Kebakaran itu dipastikan tak sampai mengganggu kunjungan ke objek wisata religi Makam Sunan Pandanaran.

Kebakaran itu sudah terjadi sejak Kamis pukul 10.00 WIB. Titik api berasal dari puncak bukit. Banyaknya daun kering serta ranting yang berserakan di bukit, kencangnya embusan angin, serta cuaca panas membuat api cepat merembet.

“Sejak pukul 10.00 WIB sukarelawan terus memadamkan dan melokalisir api. Sebenarnya yang terbakar itu hanya daun kering, tidak sampai merembet ke pohon. Namun, saking banyaknya daun yang berserakan di bukit membuat api menyebar kemana-mana,” kata Edy saat ditemui solopos.com di Bukit Jabalkat, Kamis malam.

Edy mengatakan proses pemadaman api hanya bisa dilakukan secara manual. Sukarelawan memadamkan api menggunakan kayu serta menyingkirkan daun-daun kering menjauhi api.

Hingga pukul 20.30 WIB, puluhan sukarelawan dan warga masih berusaha memadamkan api yang membakar kawasan Perhutani itu. Kebakaran tidak sampai merembet ke permukiman serta makam.

“Soal penyebabnya saya belum tahu. Bisa karena cuaca, pembakaran sampah, atau ada yang membuang puntung rokok,” urai dia.

Edy menjelaskan sebanyak lima kebakaran hutan di wilayah Bayat sepanjang kemarau ini. Bukit Jabalkat sebelumnya pernah terbakar pada Rabu (4/9/2019) lalu. Kebakaran juga terjadi di wilayah perbukitan di Desa Krikilan, Krakitan, serta Tawangrejo. Kebakaran hutan di Tawangrejo menyebabkan seorang warga lansia meninggal dunia terjebak terjebak api.

Kepala Desa Paseban, Eko Tri Raharjo, mengatakan kebakaran di Bukit Jabalkat tak sampai mengganggu aktivitas kompleks Makam Sunan Pandanaran.

Berdasarkan pantauan, peziarah terus berdatangan ke komplek makam tersebut pada Kamis malam yang bertepatan pada malam Jumat Legi. Sebagai informasi, malam Jumat Legi menjadi salah satu puncak kunjungan ke makam tersebut.

Eko menuturkan lantaran kebakaran di Bukit Jabalkat terjadi hampir saban kemarau tiba, pengelola sudah melakukan antisipasi dengan rutin menyingkirkan tumpukan daun kering dari kawasan makam.

“Dengan cara itu api tidak sampai mendekati kompleks makam,” jelas Eko Tri Raharjo. 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten