KEBAKARAN BOYOLALI : Biang Perangkat Elektronik Meledak, Penambahan Jaringan Listrik Ternyata Tak Berizin
Petugas mengganti jaringan kabel terbuka dengan kabel tertutup di simpang Manahan, Solo, Rabu (5/3). Penggantian tersebut dilakukan agar jaringan listrik lebih aman dan tahan terhadap cuaca buruk. (Dok/JIBI/Solopos)

Kebakaran di Boyolali Sabtu lalu memang tidak menghanguskan bangunan, namun terjadi di dalam perangkat elektronik.

Solopos.com, BOYOLALI -- Aktivitas perluasan jaringan listrik CV Sinar Abadi Sentosa yang menyebabkan meledaknya puluhan perangkat elektronik di Desa Gladag Sari, Ampel, Boyolali, Sabtu (27/6/2015) lalu ternyata belum mengantongi izin dari PLN Rayon Boyolali.

Kepala PLN Rayon Boyolali, Budi Istiono, mengatakan vendor tersebut belum melayangkan izin resmi secara tertulis untuk melakukan kegiatan penambahan jaringan listrik pada Sabtu tersebut. Dia menambahkan pihak PLN Rayon Boyolali telah menemui, menegur dan memperingatkan pihak vendor.

Menurut Budi, meskipun Sabtu PLN libur, selalu ada staf di kantor PLN Boyolali yang selalu di kantor, sehingga bukan alasan bagi vendor untuk tidak meminta izin dan mengajukan permohonan pemadaman resmi. Selain itu, menurut prosedur, setidaknya 3-5 hari sebelum beraktivitas, surat izin sudah dilayangkan ke PLN Boyolali.

Budi menerangkan terkait aktivitas perluasan jaringan yang dilakukan BTL CV Sinar Abadi Sentosa, PLN Rayon Boyolali hanyalah sebagai pengawas karena vendor yang beralamat di Sukoharjo tersebut ber-SPK dari PLN Rayon Klaten. Terkait adanya kru dari BTL CV Jaya Mandiri, dia menerangkan bahwa pelaksana sebenarnya adalah CV Sinar Abadi Sentosa.

“Biasanya kalau vendor membutuhkan tenaga tambahan, biasanya akan meminta bantuan dari CV lainnya,” terang dia saat ditemui Solopos.com di ruang kerjanya, Senin (29/6/2015).

Dia menambahkan PLN Rayon Boyolali telah bekerjasama dengan layanan servis elektronik untuk sesegera mungkin mengestimasi anggaran biaya sekaligus memperbaiki kerusakan perangkat elektronik warga hari itu juga. Pada Senin sore tersebut, 10 perangkat elektronik telah berhasil diperbaiki. Sementara sisa lainnya akan dilanjutkan esok hari.

“Vendor sudah kami hubungi, pihak RT/RW juga sudah kami kunjungi. Kami langsung berkoordinasi dengan salah satu penyedia servis elektronik untuk datang langsung ke rumah warga. Kemudian dari hasil pertemuan kami dengan vendor, mereka sudah bersedia untuk menanggung segala biaya perbaikan kerusakan perangkat elektronik warga Sabtu kemarin,” kata dia saat dijumpai Espos di ruang kerjanya, Senin (29/6) sore.

Sementara itu pihak CV Sinar Abadi Sentosa hingga Senin sore masih belum bisa dihubungi untuk dimintai konfirmasi terkait hal tersebut. Lebih lanjut Supervisor Teknik PLN Rayon Boyolali, Ricky Muslim, menjelaskan pangkal sebab naiknya tegangan rendah (TR) Sabtu (27/6/2015) lalu diduga karena petugas lupa memadamkan travo saat melepas kawat netral.

“Jadi kawat netralnya sudah dilepas, tapi travonya masih nyala, sehingga tegangan melebhii ambang batas tegangan normal, yakni diatas 230,” kata dia saat dijumpai Solopos.com di kantor PLN Rayon Boyolali, Senin.

Ditemui terpisah, warga RT 002/RW 002 Dukuh Getasari, Desa Gladag Sari, Kecamatan Ampel, Boyolali, Agus Salim, 29, mengaku merasa dirugikan dengan aktivitas penambahan jaringan yang dilakukan di desanya. Akibat tidak berfungsinya salah satu freezer miliknya, pasokan daging sapi yang dapat diawetkannya jadi berkurang 800 kg.

Pengeluaran listriknya selama sebulan juga membengkak akibat aliran listrik yang sering mati-hidup. “Tarikan listriknya kan berat kalau freezer. Biaya listrik saya jadi naik dari yang tadinya hanya Rp1 juta jadi Rp1,8 juta satu bulan terakhir ini. Pokoknya saya mau freezer saya diganti jika tidak dapat diperbaiki,” kata pria yang memiliki usaha penjualan daging sapi tersebut saat dijumpai Solopos.com di rumahnya, Senin.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom