ilustrasi

Solopos.com, QUETTA--Pakistan masih menjadi salah satu negara paling berbahaya bagi wartawan, dengan Provinsi Baluchistan merupakan "titik panas" aksi kekerasan, demikian laporan tahunan Reporters Without Borders (RSF) yang dipublikasikan pada Rabu (12/2/2014).

Tujuh wartawan tewas saat bertugas pada 2013, kata laporan itu yang menuding penyebabnya adalah "keengganan pemerintah untuk menegakkan keadilan".

Sebagai perbandingan, 10 wartawan tewas di Suriah, delapan di Filipina dan tujuh di Somalia.

Laporan yang menempatkan Pakistan di peringkat ke 158 dari 180 negara dalam Indeks Kebebasan Pers itu menyatakan: "Pemerintah nampak tidak berdaya menghadapi Taliban... dan militer, yang dikenal sebagai 'pemerintah dalam pemerintah' di kalangan pengamat internasional."

Empat kasus tewasnya wartawan terjadi di Baluchistan, Pakistan baratdaya, yang bergolak dalam kekerasan dan pemberontakan separatis etnik yang sudah berlangsung lama.

Awak kamera Imran Shaikh dan koleganya Saif ur Rehman merupakan dua di antara wartawan yang tewas saat meliput ledakan bom di ibu kota provinsi di Quetta pada Januari 2013. Keduanya tewas terkena ledakan bom kedua yang terjadi 10 menit setelah ledakan pertama.

Janda Shaikh, Shazia Bano mengatakan kepada AFP, keluarganya selalu hidup di bawah ancaman namun Shaikh tidak mempedulikannya dan terus bekerja.

"Ia tidak takut dan biasanya mengatakan bahwa ini adalah pekerjaan kami dan kami harus melakukannya... Saya sering memaksanya untuk berhenti bekerja sebagai wartawan namun ia menjawab, apa yang akan saya lakukan jika berhenti?"

Sementara Shaikh dan Rehman terjebak dalam aksi kekerasan militan, wartawan lain menjadi korban kepentingan pihak berkuasa yang berkaitan dengan pemerintah atau badan intelijen.

Riaz Baloch, salah satu wartawan Baluch yang menulis artikel mengenai figur pro-pemerintah terkait operasi pencurian sebuah mobil, mengatakan kepada AFP, ia diculik, disiksa, dan ditahan selama hampir 60 hari.

"Mereka membawa saya ke pegunungan, dimana saya ditanyai ... kenapa menulis berita itu."

Konstitusi Pakistan secara teori melindungi kebebasan berbicara dan media terlihat mengambil langkah besar dalam beberapa tahun terakhir.

Namun beberapa subjek tertentu, terutama terkait kritik terhadap angkatan bersenjata dan agen mata-mata masih menjadi hal yang tabu.

Tahun lalu Pakistan berada di peringkat 159 dari 179 negara dalam indeks tersebut, dengan jumlah wartawan tewas sebanyak sembilan orang.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten