Ke Solo Putu Wijaya Bicara Masa Depan Teater Indonesia

Ke Solo Putu Wijaya Bicara Masa Depan Teater Indonesia

SOLOPOS.COM - Putu Wijaya, 73, (kanan), saat mengisi diskusi teater dalam serangkaian deklarasi Lesehan Teater Kampus Soloraya (Letkas), di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Jumat (23/2/2018). (Ika Yuniati/JIBI/SOLOPOS)

Putu Wijaya bicara teater Indonesia.

Solopos.com, SOLO—Sastrawan serba bisa Putu Wijaya, 73, mengisi deklarasi Lesehan Teater Kampus Soloraya (Letkas), di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Jumat (23/2/2018).

Di hadapan puluhan pegiat teater Soloraya ia bercerita banyak hal. Diawali dari kenangannya soal teater Indonesia saat masih muda hingga sekarang.

Putu paling terkesan dengan pernyataan mendiang Presiden Indonesia Keempat Abdurrahman Wahid atau Gusdur. Saat menjawab pertanyaan seorang anak muda, Gusdur menyatakan berteater itu bukan belajar pura-pura.

Teater adalah usaha bersungguh-sungguh untuk menampilkan pribadi lain di luar pribadi kita. Dan itu disebut hal mulia untuk anak muda karena berarti dia telah berusaha memahami orang lain.

“Lalu saya mengerti iya ya. Kita tidak berpura-pura. Itu warisan Gus Dur yang sangat berarti bagi saya. Dramaturgi barat mengatakan teater adalah representasi kehidupan. Tapi itu dulu. Sekarang teater adalah refleksi kehidupan. Refleksi itu bentuknya berbeda-beda,” kata Putu.

Menurutnya, di panggung tradisional, teater bahkan menjadi peristiwa kesenian bersama antara pemain dan penonton. Tak ada batasan antara penyaji dan penikmat seni. (baca: Hanung Bramantyo Gandeng Reza Rahdian di Film Drama The Gift)

Kethoprak misalnya, di beberapa segmen penonton ikut menimpali. Akhirnya menonton teater tradisi menjadi peristiwa spiritual.

Berbeda dengan dramaturgi Eropa yang cenderung jaga jarak dengan apresiatornya. Pentas teater seolah hanya menjadi milik sang pemain. Tak ada yang boleh ikut campur, apalagi menimpali.

“Kalau baca dramaturgi Barat, penonton kayak dibunuh. Enggak dianggap. Ketawa enggak boleh, apalagi memotret. Formal, terpisah penonton dan pemain tidak boleh ikut campur,” kata Putu.

Untuk itu dalam kesempatan tersebut Putu mengatakan sudah waktunya pegiat teater Indonesia belajar melepaskan diri dari referensi dramaturgi Barat. Kemudian menempatkan posisi setara antara Timur, Barat, dan lainnya. Kecuali memang dalam keadaan mendesak dan harus memilih referensi Barat.

Seusai acara Putu mengatakan masa depan teater tradisi maupun modern di Indonesia sangat suram. Pasar mereka belum terbentuk dengan baik.

Terlebih seniman teater bukanlah pilihan profesi yang tepat sebagai satu-satunya sumber penghidupan. Posisinya masih mendompleng bentuk seni hiburan yang lain.

Akan tetapi, Putu menyemangati anak muda untuk tetap survive dengan kondisi saat ini. Kalau tidak ada yang bertahan, generasi ke depan akan kehilangan jejak seni pertunjukkan di Indonesia.

“Kalau mau mengabdi untuk teater sepenuhnya jangan dulu. Minimal juga punya sumber penghidupan yang lebih layak. Tapi sekarang ini ada juga usaha televisi-televisi untuk membangkitkan kembali teater Indonesia di ranah yang lebih luas,” terangnya.

Salah satu penyelenggara Dinda Srihemas Tamara mengatakan acara ini sebagai bentuk deklarasi komunitas baru mereka yang mewadahi teater kampus se-Soloraya.

Berita Terkait

Berita Terkini

Serangan Udara Israel Berlanjut di Gaza

Pesawat-pesawat tempur Israel terus menggempur berbagai lokasi di Jalur Gaza, Palestina, pada Kamis (13/5/2021).

Mitos Kekinian

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 5 Mei 2021. Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Solopos Institute.

Harga Tiket Tidak Naik Saat Lebaran, Jumlah Penumpang Perahu Tradisional Rawa Jombor Membludak

Jumlah penumpang wisata perahu hias di Rawa Jombor Klaten mulai membludak saat memasuki Lebaran 2021, Kamis (13/5/2021) sore WIB.

KorbanTewas Akibat Serangan Israel di Gaza Meningkat Jadi 83

Korban tewas akibat serangan Israel secara total menjadi 83 orang.

Khutbah Salat Id di Wonogiri: Perkuat Jiwa Sosial dan Rasa Persaudaraan

Semua orang harus memperkuat jiwa sosial dan rasa persaudaraan  dalam situasi serba sulit akibat dampak wabah Covid-19 ini. Manusia harus sabar menghadapi ujian Tuhan ini. Demikian pesan khatib Salat Idulfitri di Masjid Agung At Taqwa Wonogiri, Subadi, Kamis (13/5/2021).

Petugas Kebersihan Bekerja Bergilir Saat Lebaran

Para petugas kebersihan terlebih dahulu menunaikan Salat Idulfitri di rumah. Seusai salat, mereka harus kembali bekerja secara bergilir.

Terungkap! Ini yang Dilakukan Wabup Wonogiri Saat Libur Lebaran

Wakil Bupati atau Wabup Wonogiri, Setyo Sukarno, memiliki sejumlah kegiatan untuk mengisi waktu luang selama libur Lebaran, Kamis (13/5/2021) ini.

Penjual Bunga Tabur di Sonolayu Boyolali Sepi Pembeli

para penjual bunga tabur ini berharap pandemi Covid-19 bisa segera berlalu.

Masyarakat Harus Tetap Taat Lalu Lintas dan Protokol Kesehatan

Kapolres Boyolali AKBP Morry Ermond melalui Kasatlantas AKP Yuli Anggraeni meminta masyarakat selalu menggunakan helm bagi pengendara sepeda motor dan sabuk pengaman bagi pengemudi dan penumpang mobil.

Idulfitri, Narapidana Rutan Solo Sungkem Lewat Daring

Pandemi virus corona yang belum berakhir, membuat para WBP Rutan Solo tak bisa bertatap muka langsung dalam besukan keluarga dalam Hari Raya Idulfitri.

Antisipasi Kemacetan Tawangmangu, Satlantas Siapkan Buka Tutup Jalan

Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Karanganyar merencanakan strategi buka tutup jalan untuk jalur menuju objek wisata di Tawangmangu di momen libur Lebaran 2021.

Kronologi Ustaz di Klaten Meninggal Dunia Saat Khotbah Salat Idulfitri

Ustaz Djuriono, 58, warga Griya Prima Barat, Desa Belangwetan, Kecamatan Klaten Utara, meninggal dunia saat khotbah Salat Idulfitri.