Ariwan Perdana/Istimewa

Solopos.com, SOLO -- Hari ini hoaks menjadi salah satu tantangan global komunikasi dan informasi digital. Hoaks tersebar melalui perangkat komunikasi digital berbasis Internet. Media sosial (Facebook, Twitter, Instagram) atau dark social media (layanan perpesanan seperti Whatsapp) menjadi platform-platform yang digunakan untuk menyebarkan hoaks.

Dalam survei Hoax Distribution Through Digital Platforms in Indonesia (2018) oleh DailySocial dijelaskan 44,1 % responden merasa tidak yakin memiliki kepiawaian dalam mendeteksi hoaks, 31 % lainnya mengaku kesulitan mendeteksi hoakas,  dan hanya 55,1 % responden yang setelah menerima informasi selalu memeriksa keabsahannya.

Dampak negatif hoaks tidak sepele. Munculnya disharmoni di tengah masyarakat sering tidak lepas dari penyebaran hoaks. Upaya menyikapi sebaran kabar nonakuntabel tersebut menjadi tanggung jawab seluruh elemen bangsa dan negara.

Salah satu caranya lewat edukasi literasi data dan informasi. Hal ini penting mengingat upaya membangun literasi tersebut berkaitan dengan kesiapan kita dalam menghadapi kemungkinan tren society 5.0.

Berbagai ide edukasi dapat diterapkan dengan berbagai basis keilmuan, misalnya dengan mempraktikkan pemikiran intelektual lokal yang relevan dengan upaya minimalisasi penyebaran hoaks dalam bingkai literasi data dan informasi.

Pahami Sebelum Berbagi

Salah satu basis pengetahuan lokal yang dapat digali adalah ilmu Kawruh Jiwa dari Ki Ageng Suryomentaram. Ia lahir pada 20 Mei 1892 dan meninggal dunia pada 18 Maret 1962. Dia adalah putra Sri Sultan Hamengku Buwono VII dan Bendara Raden Ayu Retnomandojo. Semasa hidup, Suryomentaram berusaha menggali makna tentang manusia dan kebahagiaan.

Dalam pencarian ia meneliti berbasiskan diri dan pengalaman sendiri, dengan berusaha memahami, merasakan, dan menyimpulkan fenomena yang dia alami. Metode ini mirip dengan autoetnography yang kemudian berkembang pada dekade 1970-an dalam ranah penelitian internasional (Lihat Goldschmidt, 1977).

Untuk menguji pengalamannya, Suryomentaram melakukan kandha takon, yaitu tanya jawab dengan orang-orang untuk memverifikasi pengalaman-pengalamannya. Proses tersebut memunculkan bukti-bukti kebenaran yang saling menguatkan dan menjadi dasar berpikir maupun bertindak. Dari sana, buah pemikirannya berkembang ke berbagai aspek kehidupan manusia.

Salah satu pemikiran Suryomentaram yang relevan dengan kondisi hari ini adalah pengetahuan tentang barang asal dan barang jadi. Menurut Suryomentaram (dalam Sugiarto, 2015), barang asal bersifat tetap dan menyeluruh. Dasar utama dari ilmu pengetahuan adalah barang asal. Sementara barang jadi adalah barang yang tidak tetap dan parsial.

Ilmu pengetahuan terdiri atas ilmu nyata dan ilmu yakin. Ilmu nyata lahir ketika orang memahami sesuatu lewat pengalaman dan pendalaman reflektif tak terbatas. Ilmu nyata memiliki basis rasionalitas dan dapat diterapkan. Ilmu yakin bersumber kata orang (jarene) dan terkadang berupa dugaan-dugaan irasional.

Kawruh dan Meruhi

Oleh karena itu, orang perlu melalui proses kawruh dan meruhi dalam menjajaki pengetahuan. Kawruh (mengetahui) adalah proses mendapatkan pemahaman menyeluruh akan pengetahuan. Meruhi (merasakan/mengalami) adalah proses koreksi dan verifikasi pengetahuan melalui pengalaman-pengalaman, sebelum kemudian pengetahuan diterapkan. Pada tahap inilah pengetahuan bisa disebut sebagai ilmu.

Kawruh Jiwa cukup rasional dalam memberikan jawaban atas kegelisahan manusia peradaban digital. Hoaks adalah produk rekayasa (barang jadi) yang disusun sedemikian rupa tanpa mempertimbangkan rasionalitas. Hoaks juga lekat dengan dugaan-dugaan (jarene) yang sering kali tidak jelas.

Memahami kebenaran sebuah kabar (kawruh) serta memverifikasi (meruhi) menggunakan cara tanya jawab (kandha takon) dalam proses dan relasi yang inklusif dan kritis menjadi keharusan bagi masyarakat digital yang hidup dalam arus deras data dan informasi. Ini sekaligus dapat menjadi basis literasi data dan informasi bagi siapa pun.

Jika diterapkan dalam konteks membangun literasi data dan informasi, saya berpendapat substansi Kawruh Jiwa mengerucut pada kalimat ”pahami sebelum berbagi”. Dengan metode memahami, merasakan, menguji, menerapkan diharapkan akan muncul kultur literasi data dan informasi yang seimbang agar orang dapat merespons informasi dengan bijak dan bermanfaat.

Kemungkinan Society 5.0

Edukasi atas kebutuhan itu bisa dilakukan di berbagai ranah pendidikan. Memperkuat metode belajar kritis interaktif di sekolah maupun di rumah bisa dilakukan. Guru, orang tua, dan anak dapat berdialog dan berdiskusi secara inklusif sesuai kebutuhan dan konteks, untuk menumbuhkan keterampilan literasi data dan informasi.

Hal ini menjadi signifikan jika dikaitkan dengan bertiupnya peradaban menuju kemungkinan society 5.0 yang berjantungkan data dan informasi. Meski terdapat kemungkinan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) akan membantu dalam analisis data pada masa depan, kecakapan literasi data dan informasi juga selayaknya dimiliki setiap orang.

JIka diterapkan dengan baik, keluaran utamanya adalah kultur literasi data dan informasi seimbang yang berkembang di masyarakat. Data terverifikasi yang dihasilkan dapat digunakan dalam praktik kehidupan individu. Secara makro menjadi dasar bagi invensi maupun inovasi gagasan dan produk kontributif dalam desain pembangunan berkelanjutan.

Membangun kultur literasi data dan informasi selayaknya tetap dilakukan dengan basis keilmuan yang relevan dan implementatif. Bagaimanapun manusia merupakan subjek yang bertanggung jawab untuk membangun kehidupan bermartabat dalam peradaban apa pun.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten