Kawasan Hutan Bromo Karanganyar Potensial Jadi Agro Eduwisata
Wana Wisata Gunung Bromo (Dok/JIBI/Solopos)

Solopos.com, SOLO--Fakultas Pertanian (FP) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan webinar nasional bertajuk Pemberdayaan dan Pengembangan Desa Wisata di Indonesia: Agroekowisata dan Ekonomi Kreatif di Pedesaan. Benang merah webinar tersebut ialah kawasan Hutan Bromo Karanganyar yang dikelola UNS berpotensi menjadi agro eduwisata.

Dekan FP UNS, Prof. Samanhudi, dalam sambutannya mengatakan sektor pertanian sebagai bumper ketika suatu negara mengalami krisis. Di era pandemi Covid-19 saat ini pun juga menjadi sektor andalan untuk mempertahankan hidup.

Acara dibuka oleh Prof. Kuncoro, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNS. Dalam sambutannya dia menekankan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah pusat maupun daerah, dunia usaha, dan masyarakat di dalam mengembangkan pariwisata. Tanggung jawab perguruan tinggi adalah melakukan pendidikan dan pengembangan kapasitas SDM di bidang kepariwisataan.

Berselisih Paham, Pemuda di Lamongan Tega Menganiaya Tetangga hingga Meninggal

Hadir sebagai narasumber adalah Syafaruddin, Kepala Pusat Penelitian Perkebunan Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Dia menyampaikan kebijakan tentang Pengembangan Kawasan Agroeduwisata di Indonesia.

Agro eduwisata sendiri merupakan pengembangan komoditas pertanian bernilai ekonomi tinggi, melalui skala ekonomi yang memadai. Agro eduwisata  bersifat tematik dan melalui pendekatan inovasi pertanian yang difungsikan sebagai tempat pelatihan, pemagangan dan tempat wisata yang ramah lingkungan. Menurutnya kawasan Hutan Bromo yang dikelola UNS potensial untuk dijadikan sebagai agro eduwisata.

Pembicara selanjutnya adalah Dr. Agung Wibowo, dosen Pegembangan Masyarakat UNS. Agung menguraikan pentahelic (pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media) sebagai faktor penentu keberhasilan agroekowisata. Mahasiswa sebagai bagian dari akademisi memainkan peran strategis dalam mengembangkan agroekowisata di masa depan. Hal ini karena mahasiswa sebagai generasi milenial, memiliki kedekatan dengan  dunia digital, sehingga merekalah yang membawa masa depan bangsa ini, mau dibawa ke mana?

Miris, Suami Paksa Istri dan Anak Curi Kotak Amal di Masjid

 

Ekowisata

Di samping itu, mahasiswa bisa memainkan lima peran yakni, sebagai agent of change, guardian of value  berarti mahasiswa adalah penjaga nilai-nilai dalam masyarakat, seperti kejujuran, keadilan, gotong royong, integritas, empati dsb; iron stock yaitu mahasiswa adalah generasi penerus bangsa, sebagai kekuatan penjaga moral (moral force), dan social control. Maksudnya adalah mahasiswa memiliki kontrol sosial terhadap kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara.

Pembicara selanjutnya adalah Irfan Asy'ari Sudirman yang merupakan Dewan Penasihat KADIN Indonesa. Dia mengatakan devisa sektor pariwisata mencapai Rp280 triliun di mana menjadikan penyumbang devisa terbesar kedua di Indonesia.

Akan tetapi pemasukan menurun saat terjadi pandemi Covid-19. Pada masa pandemi, bidang agriculture juga bisa lebih survive dari pada yang lain. Industri pariwisata berbasis pertanian memiliki peluang bertahan lebih besar di masa pandemi.

Dorong Imunitas Santri Ponpes, Mustika Ratu Bagikan 1.600 Starter Pack Ramuan Herbal

Sedangkan Dr. Intan Novela dosen ekonomi UNS, mengatakan konsep ekowisata sudah berkembang sejak 30 tahun silam. Awal mula sejarahnya ekowisata terdapat di Afrika. Wisata merupakan wawasan lingkungan.

The International Ecotourism Society mengartikan ekowisata sebagai kegiatan wisata yang memiliki tanggung jawab kepada alam, masyarakat, dan lingkungan sekitar. Penyebab kurang tergalinya dan terkelolanya ekowisata yaitu terkendala pada sisi suplai (product driven), kurangnya pemahaman terhadap pasar (market driven), kendala dalam kelembagaan, dan kurangnya dukungan kebijakan.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom