Kasus Penjebolan Benteng, PPNS Limpahkan Berkas Ke Kejati Jateng

berkas perkara perusakan benteng bekas Keraton Kartasura ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Tengah, Rabu (27/7/2022).

 Aparat kepolisian memasang garis polisi di benteng bata Dalem Singopuro, Desa Singopuran, Kecamatan Kartasura, Jumat (8/7/2022). (Solopos/Bony Eko Wicaksono)

SOLOPOS.COM - Aparat kepolisian memasang garis polisi di benteng bata Dalem Singopuro, Desa Singopuran, Kecamatan Kartasura, Jumat (8/7/2022). (Solopos/Bony Eko Wicaksono)

Solopos.com, SUKOHARJO–Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) telah melimpahkan berkas perkara perusakan benteng bekas Keraton Kartasura ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Tengah, Rabu (27/7/2022).

Selain itu PPNS telah menambah dua saksi dalam pengusutan perkara perusakan Benteng Ndalem Singopuran.

PromosiNimo Highland, Wisata Hits di Bandung yang Mirip Santorini Yunani

“[Perusakan Benteng] Kartasura sedang melengkapi petunjuk dari jaksa. Untuk [perusakan Benteng Ndalem] Singopuran masih pengumpulan data dengan kemarin menambah dua orang saksi,” jelas PPNS Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah, Harun Arosyid saat dihubungi, Sabtu (13/8/2022).

Berkas perkara perusakan benteng Keraton Kartasura sudah dilimpahkan melalui Koordinator Pengawas (Korwas) PPNS.

Baca Juga: Soal Perusakan BCB di Kartasura, Butuh Komitmen dan Kesadaran Merawat!

Kasus penjebolan bekas Benteng Keraton Kartasura telah menetapkan satu tersangka yaitu MKB selaku pemilik lahan. Dalam penyidikannya PPNS memeriksa 11 saksi atas perkara itu.

Sementara dalam kasus penjebolan Benteng Ndalem Singopuran, beberapa waktu lalu PPNS telah memeriksa tujuh orang saksi. Sehingga total saksi yang diperiksa dalam perkara penjebolan Benteng Ndalem Singopuran sejumlah sembilan orang.

Sebelumnya, Pengacara pemilik lahan kompleks Ndalem Singopuran, Kecamatan Kartasura, Sukoharjo, Badrus Zaman, seolah optimistis menghadapi kasus dugaan perusakan objek diduga cagar budaya (ODCB) berupa pagar tembok Ndalem Singopuran yang dihadapi kliennya.

Dia menyebut pihaknya siap menghadapi kasus tersebut lantaran lahan pagar tembok Ndalem Singopuran yang dijebol adalah lahan milik pribadi.

Baca Juga: Pemilik Ndalem Singopuran Usul Pembebasan Status Lahan BCB, Mungkinkah?

“Pemeriksaan Pak Sudino [pemilik lahan] pada hari ini tentang pembongkaran pagar tembok Ndalem Singopuran, tadi ada 20 pertanyaan untuk Bagas [anak pemilik lahan] dan Pak Sudino ada 23 pertanyaan,” jelas Badrus beberapa waktu lalu.

Dia mengatakan dengan adanya kejadian perusakan itu diharapkan bisa menjadi  pembelajaran bersama. Dia berharap ada solusi segera.

“Ini bukan kalah menang, tapi kami yakin ini hak milik kami. Saya kira [kasusnya] beda dari yang lain. Kalau yang lain sudah ada sosialisasinya kalau ini belum ada. Tidak ada sosialisasi secara resmi,” kata dia.

“Kalau kita belum tahu dan tidak mempelajari sejarah. Hanya tahu ada tanah yang dijual kita beli saja. Belum [direncanakan] digunakan untuk apa pun. Karena itu sudah tidak bagus, artinya mau diperbaiki karena berbahaya untuk masyarakat,” tambahnya.

Baca Juga: Pengacara Pemilik Ndalem Singopuran Yakin “Menang”, Ini Alasannya

Anak pemilik lahan, Bagas, mengaku hanya ingin memperbaiki tembok agar tidak membahayakan.

“[Merobohkan tembok] karena berbahaya, takut membahayakan orang lain. Saya sudah beberapa kali memperbaiki, karena roboh. Dan belum sampai tahunan, saya [usai] memperbaiki karena tembok roboh, sekitar Februari 2022,” katanya saat ditemui usai dimintai keterangan oleh penyidik.

Bagas mengatakan selama tinggal di lokasi itu juga tidak pernah merasa mendapat sosialisasi dan informasi apa pun terkait  Ndalem Singopuran. Sementara beberapa waktu lalu Dinas Pendidikan dan Kebudayaan [Disdikbud] Kabupaten Sukoharjo mengaku telah memberikan sosialisasi.

“Saya sudah tinggal satu tahun lebih di sana tidak pernah ada sosialisasi dari siapapun. Dinas [Disdikbud Sukoharjo] ke sana [pagar tembok Ndalem Singopuran] bilang hanya untuk melihat-lihat dan ada tamu dari provinsi. Tidak memberi tahu [objek diduga cagar budaya] ODCB,” jelasnya.

Baca Juga: Soal Penjebolan Benteng Kartasura, DPRD Minta Kementerian Turun Tangan

Sementara itu, Kepala Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Susanto, menilai kasus tersebut cukup rumit.

“Ini proses yang rumit sekali, artinya ada konflik kepentingan antara [badan pertanahan nasional/Kantor tanah atau Kantah Sukoharjo] BPN dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan [Disdikbud] Sukoharjo dalam hal ini yang membawahi cagar budaya di Kabupaten Sukoharjo,” katanya.

Susanto juga menyoroti terkait adanya dua kebijakan yang berbeda dalam pemerintahan. Keduanya harus satu suara jika memang ingin melestarikan benda cagar budaya (BCB).

Daftar dan berlangganan Espos Plus sekarang. Cukup dengan Rp99.000/tahun, Anda bisa menikmati berita yang lebih mendalam dan bebas dari iklan dan berkesempatan mendapatkan hadiah utama mobil Daihatsu Rocky, sepeda motor NMax, dan hadiah menarik lainnya. Daftar Espos Plus di sini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Solopos.com - Panduan Informasi dan Inspirasi

Berita Terkait

Berita Lainnya

      Berita Terkini

      Kreasso 2022 Berlangsung Offline di Hall Tirtonadi Solo, Panitianya Pelajar SMP

      Ajang Kreatif Anak Sekolah Solo atau Kreasso kembali digelar ada 2022 ini secara offline dengan melibatkan siswa-siswi SMP sebagai panitia.

      2 Pekan Penggalian, Pemkab Boyolali Selamatkan Situs Gumuk Watu Serut

      Pemerintah melakukan penggalian atau ekskavasi selama dua pekan pada Situs Gumuk, Watu Serut, di Desa Tlawong Kecamatan Sawit Kabupaten Boyolali.

      Catat Lur! Jalan KH Samanhudi Sukoharjo Ditutup 3-30 Oktober 2022

      Jalan KH Samanhudi Sukoharjo ditutup pada 3-30 Oktober 2022 karena adanya pengecoran jalan sepanjang 100 meter dekat trafict light (TL) Simpang Carikan.

      Cuci Celana di Sungai Nguter Sukoharjo, Warga Sragen Tewas Terseret Arus

      Cuci celana di Sungai Nguter, Sukoharjo, warga Kecamatan Masaran, Sragen, tewas terseret arus sejauh 400 meter, Kamis (29/9/2022).

      Mobil Ditumpangi Anggota DPRD Solo Dirusak di Minahasa, Diduga Ada Provokator

      Ketua Komisi I DPRD Solo Suharsono menyebut ada provokator saat kejadian mobil ditumpangi anggota Komisi I Hartanti dirusak warga di Minahasa, Sulawesi Utara.

      Konsisten Dukung Gerakan Indonesia Inklusif, Aqua Klaten Diganjar Penghargaan

      Komisi Nasional Disabilitas (KND) memberikan anugerah Prakarsa Inklusi kepada PT Tirta Investama, Pabrik Klaten (Aqua Klaten).

      Lahan Terdampak Proyek Underpass Simpang Joglo Solo, Warga: Kami Butuh Waktu

      Warga yang lahannya terdampak proyek pembangunan underpass di Simpang Joglo, Banjarsari, Solo, berharap diberi waktu untuk bersiap pindah sebelum lahan dibebaskan.

      Ketika Pimpinan PKI Gelar Pertemuan Kilat di Prambanan Klaten

      Peristiwa G30S sampai sekarang masih membekas di benak masyarakat Indonesia.

      Dulu sampai Sekarang, Sekaten Ajang Warga Cari Hiburan

      Tradisi Sekaten di Alun-alun Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat merupakan salah satu cara dakwah agama Islam juga sarana hiburan masyarakat dari dulu hingga sekarang.

      Harga Kedelai Naik, Ukuran Tahu dan Tempe di Pasar Boyolali Kian Mengecil

      Kenaikan harga kedelai sebagai imbas kenaikan harga BBM berdampak pada menurunnya penjualan tahu dan tempe di Pasar Boyolali.

      Kunjungan Wisatawan di Klaten Mulai Meningkat, Sudah Capai 15.000 Orang/Bulan

      Destinasi wisata di Klaten disebut-sebut mulai bangkit setelah dua tahun terpukul gara-gara pandemi Covid-19.

      Sakjose Mazzeh! Petani Milenial Klaten Kembangkan Aplikasi Sirojo & Sitampan

      Komunitas Petani Muda Klaten (KPMK) mengembangkan dua aplikasi sekaligus.

      Korban Ledakan Aspol Sukoharjo Luka Bakar 70%, Pemeriksaan Tunggu Pemulihan

      Polres Sukoharjo menunggu proses pemulihan korban ledakan di asrama polisi (aspol) Sukoharjo yang saat ini masih dirawat di Ruang Intensive Care Unit (ICU) RSUD dr Moewardi Solo (RSDM) karena mengalami luka bakar hingga 70%.

      Gawat! Sungai Bagor-Sungai Ujung di Klaten Ternyata dalam Kondisi Kritis

      Kondisi alur Sungai Bagor-Sungai Ujung dari hulu hingga hilir dalam kondisi kritis.

      Cerita Keluarga di Solo Hidup dari Jualan Rica-Rica Gukguk selama 4 Generasi

      Pedagang kuliner anjing atau rica-rica gukguk di Solo kebanyakan sudah berjualan turun-temurun mewarisi dari kakek dan ayah.