Kasus Covid-19 Kebanyakan Tanpa Gejala, Waspadai Anak-Anak Jadi Superspreader
Ilustrasi wabah virus corona (Covid-19). (Freepik)

Solopos.com, JAKARTA--Banyak kasus Covid-19 pada anak-anak kerap menunjukkan tanpa gejala atau hanya gejala ringan. Kondisi dinilai rawan menyebabkan anak-anak menjadi superspreader penularan Covid-19.

Dalam studi baru baru yang diterbitkan jurnal kesehatan JAMA Pediatrics, 28 Agustus lalu meneliti pasien anak-anak di 22 rumah sakit di Korea Selatan. Hasilnya, 22 persen dari 91 anak terkonfirmasi positif Covid-19 tanpa gejala atau asimptomatik. Lalu, 20 persen lagi awalnya tanpa gejala lalu timbul, dan sisanya memiliki gejala.

Peneliti studi itu Roberta L. DeBiasi dan Meghan Delaney, menyebutkan ada perbedaan besar terkait durasi gejala Covid-19 pada anak-anak mulai dari tiga hari hingga tiga pekan. Sedikitnya 20 persen pasien asimptomatik dan setengah pasien Covid-19 dengan gejala mampu menularkan virus SARS-CoV-2 hingga tiga pekan setelah infeksi terjadi.

Di Rumah Terus, Ibu Di Gatak Sukoharjo Meninggal Karena Covid-19

"Tidak seperti di sistem kesehatan AS, mereka yang dites positif Covid-19 di Korea Selatan tetap di rumah sakit sampai mereka benar-benar pulih dari infeksinya," kata DeBiasi seperti dilansir Detikcom, belum lama ini.

Sementara itu, sebuah studi di Boston yang diterbitkan Journal of Pediatrics, 1 Agustus 2020, menemukan viral load sangat tinggi di antara pasien termuda yang mereka amati. Peneliti sedikitnya melakukan tes swab hidung dan tenggorokan dari 49 anak dan remaja di bawah usia 21 tahun.

Studi itu menemukan jumlah virus SARS-CoV-2 di antara mereka jauh lebih banyak dibandingkan orang dewasa yang dirawat di unit perawatan intensif untuk Covid-19.

Jumlah Pengunjung Turun, Begini Cara Mal Di Solo Bertahan Di Tengah Pandemi

Melakukan Interaksi Sosial Lebih Banyak

Viral load dan kasus tanpa gejala pada anak-anak memunculkan potensi baru anak-anak sebagai superspreader. Dalam beberapa kasus, anak-anak dan remaja di taman kanak-kanak, sekolah, seringkali melakukan interaksi sosial yang jauh lebih banyak ketimbang orang dewasa.

Kasus infeksi di seluruh Jerman, misalnya, semakin meningkat pada akhir musim panas ini termasuk di banyak negara lainnya. Kendati demikian, taman kanak-kanak, sekolah, dan lembaga pembelajaran lainnya kembali dibuka.

Selama aktivitas di sekolah itu, mereka diwajibkan menggunakan masker, menjaga jarak fisik, menjaga kebersihan, dan mengatur kelompok belajar guna mengurangi risiko penularan Covid-19.

Tak hanya itu, untuk mendeteksi kelompok infeksi potensial dan menghindari penutupan sekolah skala besar, infeksi di antara anak-anak dan remaja tanpa gejala harus dideteksi sejak dini.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom