Ilustrasi bayi. (Iwnsvg.com)

Solopos.com, SRAGEN — Wilayah Kecamatan Sidoharjo menyumbang angka kematian bayi (AKB) tertinggi, yakni mencapai 15 kasus atau 17,05% dari total kasus AKB sepanjang 2019.

Total kasus yang tercatat di 25 puskesmas di Sragen total angka kematian bayi mencapai 88 kasus.

Kasus kematian bayi diduga disebabkan karena kelainan genetik, meninggal di dalam kandungan, dan perantau yang pulang ke desa dalam kondisi hamil serta tidak diketahui riwayatnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen Hargiyanto saat ditemui solopos.com di Taraman, Sidoharjo, Sragen, Selasa (21/1/2020), membenarkan data tersebut.

Hargiyanto mengatakan AKB paling tinggi memang di wilayah Sidoharjo, Dia mengatakan AKB 2019 terhitung menurun bila dibandingkan 2018.

“AKB 2019 hanya 88 kasus sedangkan AKB 2018 sebanyak 146 kasus. Penurunan sangat dratis karena ada upaya maksimal dari para bidan desa dan petugas medis lainnya di puskesmas,” katanya.

Koordinator Bidan Desa Kecamatan Sidoharjo, Kartika Endrasari, mengatakan AKB di wilayah Sidoharjo memang ada 15 kasus, yakni umur 0-6 hari sebanyak 5 kasus, umur 7-28 hari sebanyak 2 kasus, umur 29 hari-11 bulan ada 4 kasus dan meninggal di dalam kandungan sebanyak 4 kasus.

Atas dasar data itulah Komisi IV DPRD Sragen berkunjung ke Puskesmas Sidoharjo, Sragen, pada Senin (20/1/2020).

Ada tiga legislator yang dikoordinasi Wakil Ketua Komisi IV Haryanto mengumpulkan bidan desa, perawat, dan pegawai di puskesmas itu.

Dalam kesempatan itu, legislator Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Fathurrohman mempertanyakan mengapa Sidoharjo menjadi penyumbang AKB tertinggi di 2019.

“Kenapa bisa terjadi? SDM [sumber daya manusia] susah maju di Sidoharjo kalau dibandingkan dengan puskesmas lainnya? Berapa bidan desa yang tidak berdomisili di wilayah kerja?” ujar Fathurrohman.

Setelah berdiskusi, Fathurrohman menemukan jawabannya, yakni hanya separuh dari 17 bidan desa di wilayah Kecamatan Sidoharjo yang berdomisili di wilayah kerjanya.

Selain itu. Fathurrohman juga mendapati SDM Puskesmas Sidoharjo masih lemah dalam menjalin komunikasi dengan pemerintah desa. Fathurrohman meminta angka AKB di Sidoharjo harus ditekan dan meminta kepala puskesmas turun tangan.

“Jangan sampai ada dokter yang tidak pegang pasien karena jadi kepala puskesmas. Saya dapat laporan dari masyarakat. Hal ini juga berlaku untuk puskesmas lainnya,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Sidoharjo Eni Soedarwati mengatakan mengakui memang AKB di Sidoharjo tertinggi di Sragen karena banyak problem di masyarakat.

Di Pemalang, Remaja Sragen Kabur Gara-Gara HP Disita Sempat Bekerja di Tempat Fitnes

Dia mengatakan banyak ibu hamil risiko tinggi yang berdampak pada risiko bayi. Dia mengatakan tinginya pendidikan masyarakat ternyata mendorong mereka tidak mau datang ke puskesmas tetapi langsung ke dokter spesialis kandungan.

“Untuk bidan desa memang hanya separuh yang berdomisili di wilayah kerjanya tetapi tempat tinggal mereka berdekatan dan terjangkau bila sewaktu-waktu dibutuhkan. Ponsel mereka hidup 24 jam dan siap dipanggil kerja setiap saat,” ujarnya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten