Arswendo Atmowiloto (Twitter)

Solopos.com, SOLO – Budayawan, sastrawan, dan penulis tersohor Indonesia, Arswendo Atmowiloto, meninggal dunia, Jumat (19/7/2019). Arswendo Atmowiloto mengembuskan napas terakhir di kediamannya, Kompleks Kompas, Petukangan, Jakarta, sekitar pukul 17.50 WIB.

Arswendo Atmowiloto meninggal dunia dalam usia 70 tahun setelah berjuang melawan penyakit kanker prostat yang menggerogoti tubuhnya beberapa bulan belakangan. Pada Juni 2019 lalu, kondisinya sempat menurun saat dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta yang membuatnya dikabarkan meninggal dunia. Namun, kabar itu dibantah oleh keluarga dan sahabatnya, Slamet Rahardjo.

Kini sosok Arswendo Atmowiloto telah tiada. Meski demikian, nama serta karyanya masih tukir jelas. Arswendo Atmowiloto yang bernama asli Sarwendo lahir di Kota Solo, Jawa Tengah, 26 November 1948. Dia menikah dengan Sri Hartini pada 1971 dan dikaruniai tiga anak.

Dikutip dari situs Badan Bahasa Kemdikbud, Arswendo Atmowiloto awalnya bercita-cita menjadi dokter. Namun, dia justru melanjutkan pendidikan di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra IKIP Solo, tetapi juga tidak tamat. Meski demikian, dia pernah mengukuti program penulisan kreatif di Lowa University, Amerika Serikat.

Setelah keluar dari kuliah, Arswendo Atmowiloto bekerja sebagai buruh di pabrik bihun dan susu. Dia juga pernah menjadi tukang jaga sepeda hingga pemungut bola di lapangan tenis. Arswendo mulai merintis karier sebagai sastrawan pada 1971 dengan cerpen berjudul Sleko yang dimuat di majalah Mingguan Bahari.

Selain menulis, Arswendo Atmowiloto juga aktif sebagai pemimpin di Bengkel Sastra Pusat Kesenian Jawa Tengah, Solo pada 1972. Selanjutnya, dia bekerja sebagai konsultan penerbitan Subentra Citra Media (1974-1990). Dilanjutkan dengan menjabat pemimpin redaksi majalah Hai, tabloid Monitor (1986), hingga pengarah redaksi majalah Senang (1998).

Ketika menjabat sebagai pemimpin redaksi tabloid Monitor, Arswendo dipenjara akibat suatu jajak pendapat. Kala itu, tabloidnya memuat hasil jajak pendapat mengenai beberapa tokoh dan menjadikan namanya di urutan ke-10, satu tingkat di atas Nabi Muhammad yang berada di posisi 11.

Jajak pendapat itu memicu amarah masyarakat muslim sehingga membuat Arswendo Atmowiloto dihukum penjara selama lima tahun. Dia kemudian meminta maaf kepada masyarakat lewat TV dan beberapa surat kabar untuk meredakan masalah.

Penjara hanya mengurung raga Arswendo Atmowiloto, namun pikirannya tetap bebas berjalan ke mana pun. Dia menulis cerita bertema kehidupan tahanan serta masyarakat ibu kota yang mengalami keputusasaan ketika berada di dalam penjara.

Arswendo Atmowiloto juga pernah dikecam dan dicap sebagai pengkhianat karena argumentasinya yang dianggap keliru oleh pengamat sastra. Kala itu, Arswendo Atmowiloto berpendapat sastra Jawa telah mati.

Terlepas dari segala kontroversinya, Arswendo Atmowiloto merupakan tokoh penting dalam dunia literasi Indonesia. Pria yang meninggal dalam usia 70 tahun itu merupakan penulis serba bisa. Dia mendapat berbagai penghargaan bergengsi di bidang literasi dari dalam dan luar negeri. Kebanyakan karyanya berupa novel dengan kisah humoris, fantastis, dan penuh sensasi.

Karya Arswendo Atmowiloto diterbitkan di berbagai media massa dan diterbitkan dalam bentuk buku. Bahkan, sejumlah karyanya yang telah dibukukan diadaptasi ke sinetron maupun film. Seperti yang paling fenomenal, Keluarga Cemara.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten