Api membakar hutan di lereng Gunung Merbabu terlihat dari Selo, Boyolali, Jumat (13/9/2019) dini hari. (Solopos-Burhan Aris Nugraha)

Solopos.com, BOYOLALI -- Warga yang tinggal di lereng Gunung Merbabu diimbau untuk mewaspadai kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) hingga bulan November atau akhir musim kemarau.

Prediksi ini molor satu bulan dari prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika yang sebelumnya memprakirakan musim penghujan akan dimulai bulan Oktober.

“Kita beri pemahaman dulu kepada masyarakat bahwa potensi kebakaran masih sampai bulan November,” ujar Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, di sela-sela meninjau aktivitas relawan Gunung Merbabu di Posko Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat) di Dusun Wonolelo, Desa Ngagrong, Kecamatan Gladagsari, Bololali, Minggu (15/9/2019) sore.

Ganjar menyebutkan untuk menghindari potensi karhutla, warga diimbau untuk tidak melakukan aktivitas di kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGM).

“Jika merumput [mencari rumput untuk pakan ternak] maka harus hati-hati, kalau perlu tidak merumput dulu,” terang Ganjar Pranowo. Dia memahami upaya penghentian aktivitas warga di kawasan konservasi tersebut perlu dibarengi sosialisasi kepada warga secara bertahap.

Ganjar juga mengusulkan pembentukan tim patroli khusus, utamanya di desa-desa terakhir sebelum puncak Merbabu, seperti di Ngagrong, Ampel, Pakis, Kabupaten Magelang, maupun wilayah Kopeng, Kabupaten Semarang. Tim patroli ini selain melakukan kontrol terhadap aktivitas warga juga bertugas memberi sosialisasi terkait bahaya dan potensi karhutla.

Sementara itu, dalam dialog Ganjar bersama sejumlah sukarelawan seperti Remaja Pecinta Alam (Rempala) Ngagrong, SAR, BPBD, dan Muspika Ampel, Pemprov Jawa Tengah akan memberi bantuan untuk mempermudah upaya pemadaman api ketika terjadi karhutla.

“Tadi kawan-kawan sudah ditanya kesulitannya apa, mereka butuh sepatu, senter, garu, sabit, dan peralatan, kami bantu di situ,” kata Ganjar. Peralatan tersebut digunakan sukarelawan untuk memadamkan api dengan metode sederhana, seperti membuat ilaran maupun menghadapi medan yang sulit.

Disinggung soal water bombing sebagai upaya pemadaman dirinya mengakui Pemprov belum mengarah hingga ke sana.

“Saat ini informasi yang diterima semua titik api sudah padam, helikopter masih terkonsentrasi di Riau dan Kalimantan,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGM) Junita Parjanti mengkonfirmasi tujuh titik api yang sebelumnya terlihat di kawasan taman nasional di tiga kabupaten yakni Boyolali, Magelang, dan Kabupaten Semarang semuanya sudah berhasil dipadamkan Minggu.

Total sejak kebakaran terjadi pada Kamis (12/9/2019) lalu, api menghanguskan 436 hektare lahan, baik semak, lahan kering, maupun wilayah tanaman keras. “Tapi titik api sudah tidak muncul lagi,” ujar Junita.

BTNGM akan membatasi aktivitas di kawasan konservasi Gunung Merbabu hanya untuk mencari pakan ternak. Sementara aktivitas pendakian dan lainnya akan ditutup hingga November sesuai arahan gubernur.

“Tadi informasi dari Bapak Gubernur kemarau diprediksi sampai November,” kata Junita. Dengan demikian, pihak BTNGM juga memprediksi potensi karhutla akan terjadi hingga November mendatang.

Meskipun di beberapa tempat bulan Oktober diperkirakan sudah memasuki musim penghujan, namun penutupan aktivitas masif di Gunung Merbabu tetap akan dilakukan hingga November atau 2,5 bulan dari sekarang.

Terpisah, salah satu sukarelawan pegiat Ampel Rescue, Harnowo, menyebutkan selain peralatan yang digunakan oleh sukarelawan dalam memadamkan api, tiap posko pemantauan aktivitas Gunung Merbabu idealnya dilengkapi dengan gardu pandang. Gardu pandang juga seharusnya dipasang di desa-desa yang dekat dengan puncak Merbabu.

“Gardu pandang ini bisa digunakan untuk patroli jarak jauh, jika ada yang diduga titik api, kami bisa tindak lanjuti lebih cepat,” kata dia. 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten