Kepala Dishub PKP Karanganyar, Sundoro, (kiri), menerima penghargaan juara dua Penanganan Kumuh Permukiman tingkat Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Tengah di Semarang, Rabu (27/11/2019). (Istimewa-Dokumentasi Dishub PKP Karanganyar)

Solopos.com, KARANGANYAR -- Kabupaten Karanganyar memperoleh tiga penghargaan sekaligus pada program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) tahun 2019.

Data yang dihimpun solopos.com dari Dinas Perhubungan Perumahan dan Kawasan Permukiman (Dishub PKP) Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Karanganyar meraih juara pada tiga kategori penanganan permukiman kumuh terbaik tahun 2019.

Tiga juara itu adalah juara satu Penanganan Permukiman Kumuh tingkat Kelurahan/Desa untuk Kelurahan Gedong, Kecamatan Karanganyar, juara tiga Tim Kotaku Provinsi Jawa Tengah untuk Kabupaten Karanganyar, dan juara dua Penanganan Kumuh Permukiman tingkat Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Tengah untuk Kabupaten Karanganyar.

Pada kategori Penanganan Permukiman Kumuh tingkat Kelurahan/Desa untuk Kelurahan Gedong, Kecamatan Karanganyar mengalahkan Kelurahan Kutho Winangun Lor, Kota Salatiga dan Simbang Kulon, Kabupaten Pekalongan. Untuk kategori Tim Kotaku Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Karanganyar berada di bawah Kota Solo dan Kabupaten Demak.

Pada kategori Penanganan Kumuh Permukiman tingkat Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Karanganyar diapit dua kabupaten lain, yakni Demak dan Kebumen.

Plt Kepala Bidang (Kabid) Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Dishub PKP Kabupaten Karanganyar, Ari Wibowo, menuturkan penghargaan tersebut diterima di Hotel Gracia Semarang pada Rabu (27/11/2019).

Pemenang lomba menerima hadiah berupa piagam dan vandel. Ari menuturkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar tidak mengetahui perihal penilaian dan alasan dipilih Kelurahan Gedong sebagai salah satu peserta lomba.

Tetapi Ari menilai kemenangan Kelurahan Gedong wajar karena memiliki keunggulan dibandingkan kawasan lain di Kabupaten Karanganyar.

"Di Karanganyar ada delapan desa/kelurahan yang mendapat alokasi dana penataan kawasan permukiman. Semuanya relatif bagus secara penampilan gedung. Tetapi keberlangsungan kegiatan di Gedong sudah berjalan. Ada pengurus yang mengelola sumur dalam. Warga yang memanfaatkan diminta membayar dengan harga di bawah harga air di PUDAM Tirta Lawu. Dari uang itu diputar untuk pemeliharaan, perawatan taman, dan lain-lain," jelas Ari saat dihubungi solopos.com, Kamis (28/11/2019).

"Yang menilai provinsi dan pemerintah pusat. Tetapi sepertinya poin kemenangan kami ada di keberlangsungan kegiatan. Kalau fisik relatif sama," ujar dia saat ditanya alasan Kelurahan Gedong meraih juara satu.

Perihal kesulitan selama menata kawasan permukiman melalui program Kotaku, Ari menyampaikan masing-masing desa/kelurahan dari delapan desa yang menerima bantuan program Kotaku memiliki karakteristik. Ari yang juga Pejabat Pembuat Komitmen (PPKom) Kegiatan Kotaku menyampaikan tim membutuhkan cara dan pola komunikasi berbeda di setiap wilayah tersebut.

Kegiatan Kotaku ditangani antara Dishub PKP, DPU PR, dan Konsultan Pendamping Kotaku.

"Kami menemukan formula untuk menyentuh masing-masing desa/kelurahan itu. Caranya berbeda. Tetapi kalau masalah atau kendala selama mendampingi mereka tidak ada. Ya hal biasa misalnya kurang tenaga kerja karena warga setempat ke sawah. Tapi intinya saat sosialisasi itu pakai strategi berbeda-beda di setiap wilayah," kata dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten