Kapolri Jenderal Tito Karnavian memantau kesiapan arus mudik di rest area KM 575 Tol Solo-Ngawi bersama Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, Sabtu (1/6/2019). (Madiunpos.com-Abdul Jalil)

Solopos.com, NGAWI -- Kapolri Jenderal Tito Karnavian meminta seluruh anggota kepolisian yang berjaga selama Ramadan dan Lebaran mewaspadai aksi terorisme yang dilakukan para teroris. Sebab, bulan Ramadan oleh para teroris justru dianggap menjadi bulan baik melaksanakan aksi teror.

"Rekan-rekan mungkin tahu bahwa bulan Ramadan bagi kita bulan suci. Tetapi bagi teman-teman kita yang hobinya melaksanakan aksi terorisme, itu bagi mereka justru bulan amaliah. Jadi kalau bagi mereka melaksanakan amaliah di bulan Ramadan katanya pahalanya berlipat ganda," kata Tito kepada wartawan dalam kunjungannya di Pos Pelayanan Lebaran Polres Ngawi di rest area KM 575 Tol Solo-Ngawi, Sabtu (1/6/2019).

Kapolri meminta seluruh petugas yang berjaga di jalan bisa menggunakan body system dan perlu didampingi anggota dengan bersenjata lengkap, bisa dari Polri maupun TNI. Ini sebagai upaya melindungi aparat keamanan dari ancaman teroris yang bisa kapan saja menyerang.

Bentuk antisipasi ini merupakan hasil pelajaran dari beberapa peristiwa yang dialami petugas kepolisian saat menjaga keamanan Lebaran tahun-tahun sebelumnya. Tito mengingat tahun lalu di Solo ada penyerangan terhadap petugas kepolisian yang sedang berjaga di pos polisi.

"Tahun lalu di Jabar di jalan tol. Anggota kita lagi patroli ditembak. Ada yang gugur. Berkaca dari pengalaman itu, kita harus waspada," jelas Kapolri.

Densus 88 telah melakukan tiga kali operasi dan menangkap jaringan teroris di Lampung dan Sumatra Utara yang berkaitan dengan jaringan di Jakarta. Saat operasi di Jabar, petugas juga menangkap 15 tersangka.

Penangkapan terakhir dilakukan hasil pengembangan dari kelompok Bekasi. Kelompok ini berafiliasi dengan kelompok di Sukabumi.

Jaringan-jaringan dari daerah ini tidak hanya berjejaring di tingkat lokal tetapi mereka terkoneksi dengan jaringan secara luas. Di Jawa Timur beberapa bulan lalu juga ada peledakan bom di Surabaya. Pelaku aksi terorisme itu dari jaringan yang sama yaitu kelompok JAD.

Saat ini dimungkinkan masih tersebar anggota kelompok JAD ini yang siap menyerang. Untuk itu, pihaknya tidak mau ambil risiko dalam pengamanan arus mudik Lebaran 2019. Petugas yang berjaga saat masa mudik harus didampingi petugas yang membawa senjata. 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten