KANTONG PLASTIK BERBAYAR : DPRD: Edukasi Pengurangan Kresek Tidak Jalan
Penerapan kebijakan kantong plastik berbayar di minimarket (Abdul Hamied Razak/JIBI/Harian Jogja)

Kantong plastik berbayar dinilai belum sepenuhnya berjalan.

Solopos.com, SOLO — DPRD Solo mendukung upaya menyetop penjualan tas plastik di retail dan toko modern. Edukasi pengurangan penggunaan plastik dengan metode kantong plastik berbayar dinilai tidak sepenuhnya berjalan.

Anggota Komisi II DPRD, Ginda Ferachtriawan, menilai semangat toko modern menyukseskan program kantong plastik berbayar cenderung mengarah ke komersialisasi ketimbang edukasi bahaya penggunaan plastik. Hal itu disimpulkannya setelah melihat praktik di lapangan.

“Pegawai minimarket hanya sebatas menawarkan mau pakai plastik atau enggak, tidak mendorong warga meninggalkan plastik dengan memberi pemahaman. Beberapa kali barang malah langsung dikreseki tanpa persetujuan pembeli,” ujarnya saat ditemui wartawan di Gedung DPRD, beberapa waktu lalu.

Ginda mengapresiasi niat pengusaha retail dan toko modern yang berupaya menyukseskan program pemerintah lewat kantong plastik berbayar. Namun niat baik itu belum dibarengi pemahaman efek tas kresek sehingga toko modern malah berkesan jualan plastik. Di sisi lain, harga Rp200 per tas kresek dinilai terlalu rendah.

“Pembeli di toko modern yang notabene menengah ke atas tentu tak keberatan dengan harga itu," jelasnya.

Ginda mendorong toko modern segera menyetop penjualan kantong plastik dan menggantinya dengan tas ramah lingkungan. Menurut dia, pengusaha toko bisa menyediakan tas berbahan kertas atau kain sebagai pengganti kantong plastik.

“Edukasi bisa berjalan jika plastik betul-betul dibatasi. Ibaratnya sekarang ini (kantong plastik berbayar) hanya membantu mengurangi (konsumsi plastik), tidak menyelesaikan masalah,” kata dia.

Ketua Komisi II, Y.F. Sukasno, menyebut penggunaan instrumen harga untuk membatasi konsumsi plastik tak akan efektif jika masyarakat masih dapat mengakses tas kresek.

“Mau dibanderol Rp5.000 ya tetap dibeli jika warga emoh ribet dengan barangnya,”jelasnya.

Menurut Sukasno, perlu langkah lebih dari sekadar kantong plastik berbayar untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan. “Kantong plastik itu jahat karena baru bisa terurai puluhan tahun. Jadi lebih baik tidak disediakan sekalian.

Toko-toko besar bisa mengawali diet kantong plastik yang sesungguhnya,” saran dia.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho